} BINSAR HUTABARAT INSTITUTE

Apa Tujuan Allah Menciptakan Manusia

 

Allah menciptakan manusia agar manusia hanya menyembah Allah saja. Manusia yang menyembah Allah itu sepatutnya hidup memuliakan Allah dalam kebersamaan dengan sesamanya.

Taman Eden menjadi tempat bagi manusia untuk hidup bersama menikmati ciptaan tuhan. Tapi, menusia lebih memilih mengikuti keinginan iblis, akibatnya Adam dan Hawa bukannya hidup saling tolong menolong, justru hidup saling menyalahkan. Puncaknya, manusia menyalahkan Allah di taman tempat Allah berdaulat penuh.

Manusia dan Keabadian

Alkitab secara terang bederang melukiskan rencana kasih Allah serperti berikut: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya demikianlah manusita itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian2:7). 

Napas hidup itu merupakan roh manusia yang berasal dari Allah yang bersifat kekal. Manusia yang mendapatkan nafas hidup dari Allah itu sepatutnya hidup bergantung pada Allah untuk hidup memuliakan Allah.

Yakobus 4 ayat 6 menjelaskan lebih lanjut, “Roh yang ditempatkanAllah di dalam diri kita itu-di-inginiNya dengan cemburu! “Allah tidak membinasakan manusia dalam keabadian, itulah sebabnya manusia dikeluarkan dari Eden agar tidak memakan buah pohon kehidupan, manusia tidak perlu hidup di luar Allah dalam keabadian. 

Karena Kasih Karunia

Kasih karunia Allah puncaknya mewujud dalam pengorbanan Yesus pada Salib. Yesus menanggung hukuman dosa kekal yang diperbuat daging manusia. Roh manusia yang kekal karena berasal dari Allah yang kekal itu dapat memiliki hidup dalam tubuh keabadian setelah tubuh yang fana itu binasam dan Allah menggantikannya dengan tubuh baru yang abadi.

Roh manusia tidak perlu mengalami hukuman kekal karena terpenjara dalam dosa daging. Tipu daya iblis berakhir pada salib, Yesus menanggung seluruh hukuman dosa manusia.  Allah menimpakan dosa yang meripakan buah keinginan daging pada Tubuh Yesus. Roh manusia yang terpisah dari daging saat kematian akan mendapatkan tubuh baru, Dengan tubuh baru itu manusia dapat hidup selama-lamanya bersama Allah dalam surga kekal.

Hidiup dalam Rencana Allah

Rencana Allah yang indah untuk manusia dapat hidup bersama dengan damai,  secara bersama-sama melayani Allah yang mulia, menikmati seluruh kekayaan Allah yang melimpah pada surga kekal mestinya menjadi motivasi untuk umat Kristen hidup bersama dengan damai dalam dunia yang kian rapuh, dengan banyaknya bencana alam, bencana penyakit, belum lagi gairah perang yang masih merasuki manusia seperti tragedi perang Rusia dan Ukraina.

Janji surga kekal, yang membangkitkan kerinduan untuk menikmati seluruh kekayaan Allah bersama Allah dan sesama, perlu menjadi landasan untuk menguatkan perjuangan bersama, mewujudkan kesejahteraan bersama pada dunia milik Tuhan. Itu perlu kita kerjakan mulai hari ini!


https://www.binsarhutabarat.com/2022/11/apa-tujuan-allah-menciptakan-manusia.html


Menghindari Perang Dunia ke 3

 Menghindari Perang Dunia ke 3

 



Kekuatiran akan hadirnya perang dunia ketiga yang mengerikan, prediksi beberapa pakar kengeriannya melebih perang dunia pertama dan kedua. Pengembangan senjata nuklir hingga hingga senjata biologi, isu kuman-kuman menjadi senjata sempat menyebar pada awal covid, Terakhir pecahnya konflik Rusia dan Ukraina yang belum juga usai.

Peperangan tampaknya tak pernah usai, meski institusi-institusi perdamaian terus berdiri, baik dalam lingkup lokal, nasional dan internasional. Perang tak pernah berhenti karena keinginan untuk perang tak pernah surut dalam kehidupan manusia.

Perang-perang dalam skala besar, sesungguhnya disebabkan ketidakmampuan manusia berdamai antar individu, individu dan komunitas, dan puncaknya adalah peperangan manusia melawan Tuhan. Buku-buku yang menolak keberadaan Tuhan, atau manusi memproklamirkan diri sebagai Tuhan merupakan bukti manusia terus berperang melawan Allah.

Perang AntarKelas

Manusia hidup Bersama dalam dunia yang sama sejatinya perlu bekerjasama untuk mengusakan hidup terbaik Bersama, tapi nyatanya manusia, individu dengan individu kerap tak mampu bekerjasama, bahkan kemudian menyulut konflik antar individu, antarkomunitas dan antabangsa.

Si kaya dan si miskin terus saja berpeng karena komunitas menciptakan itu. Bukan hal yang langka perlakuan terhadap mereka yang kaya jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang miskin. Kita sering mendengar bahwa hukum du negeri ini lebih berpihak kepada mereka yang punya, dan mereka yang tidak punya kerap tak mendapatkan tempat.

Penggunaan jalan Tol, segala fasilitas wah, Si kaya menikmatinya dengan bebas, Si miskin meratapinya  tak tahu berbuat apa, itu sebabnya Ketika tiket masuk Borobudur ingin dinaikkan menjadi jutaan rupiah, Si miskin langsung saja menjerit, meski alasannya untuk biaya merawat Borobudur yang semakin mahal. Faktanya, Si Miskin kian tak mampu menikmati keindahan Borobudur.

Siapa yang tidak paham bahwa cara mudah membebaskan diri dari kemiskinan adalah melalui pernikahan. Maka Si Kaya pun haram menikah dengan Si Miskin. Perlakuan deskriminasi karena kelas ini juga masuk dalam pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka yang kaya mendapat tempat terhormat, sedang Si Miskin berdiri jauh-jauh di halaman rumah ibadah. Kita berharap ini tidak terjadi di Indonesia.

Pekerja dan Pengusaha

Pemerintah memang telah mewajibkan perusahaan untuk menempatkan dana sosial atau yang biasa disebut Corporate Social Responsibity (CSR), tapi realitasmya tanggung jawab itu kerap dimanipulasi sebagai pengeluaran iklan, sehingga kebijakan CSR tak merubah kebijakan perusahaan. Apalagi Ketika CSR dimaknai sebagai Charity (layaknya dana untuk pengemis) yang tak merubah status sosial masyarakat disekitar perusahaan besar.

Masyarakat Papua meratapi hadirnya perusahaan Internasional yang tak merubah wajah kebanyakan masyarakat Papua yang miskin dan tertinggal dalam bidang pendidikan. Jaringan internet masih jadi persoalan ditengah transformasi digital di berbagai wilayah Indonesia.

Tidak pedulinya perusahaan terhadap tanggung jawab sosial itu akan terlihat pada bagaimana perusahaan membayar gaji pekerjanya. Sepak terjang pengusaha dalam mengusahakan hadirnya kebijakan yang berpihak kepada pengusaha jelas terlihat dari perlawanan serikat pekerja,

Para pengusaha masih banyak yang belum berdamai dengan pekerja, padahal tanpa pekerja itu para pengusaha tidak akan hidup melimpah. Pertarungan antarakelas pekerja dan pengusaha itu terlihat setiap kali pemerintah menetapkan besaran upah. 

Perselingkuhan antar pengusaha dan penguasa membuat kelas pekerja menderita. Peperngan ini tak pernah berhenti hingga saat ini, meski Karl Marx melakukan perlawanan, tetapi di negara-negara Marxist sekalipun tetap saja kelas pekrja menderita. 

Pemerintah sebagai pemilik segalanya tak beda dengan para pengusaha yang berselingkuh dengan pengusaha untuk menekan pekerja. Marxisme menempatkan pemerintah sebagai penguasa yang sekligus juga pengusaha. Itulah sebabnya di negeri-negara Mrxisme masyarakat kebanyakan hidup miskin.

Kalau saja perang antarkelas itu bisa meredup, mungkin tak perlu hadir institusi-institusi perdamaian, karena individu itu sendiri sesungguhnya cinta akan perdamaian. Perang dunia ke-3 tak menjadi kekuatiran, karena semua kita mencintai perdamaian. Semoga saja!


https://www.binsarhutabarat.com/2022/11/menghindari-perang-dunia-ke-3.html

Hari Guru Nasional Tahun 2022

 Hari Guru Nasional Tahun 2022

Pada peringatan Hari Guru Nasional, 25 November Tahun 2022, ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah,  organisasi-organisasi guru nasional, serta semua elemen bangsa untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia.

Catatan terkait kebijakan Profesionalisme Guru

Catatan penting pada Hari Guru Nasional Tahun 2022 saya rumuskan dari hasil Penelitian terkait  Proresionalisme Guru di Indonesia dalam perspektif kebijakan pemerintah yang menetapkan guru sebagai jabatan professional.

1.Profesionalisme guru masih menjadi isu kritis di negeri ini. Peningkatan kualitas guru di Indonesia tidak sebanding dengan makin kompleksnya tantangan yang harus dihadapi guru, akibatnya pendidikan di Indonesia terus mengalami kemerosotan.

Peningkatan kualitas guru di Indonesia belum bisa bebas dari “slogan guru tanpa tanda jasa” guru mendapatkan penghormatan yang tinggi, tapi belum mendapatkan penghargaan yang pantas sebagaimana di lantunkan dalam  lagu “Umar Bakrie” . Guru mendapatkan penghormatan, namun kurang dihargai. Profesi guru menjadi pilihan terakhir setelah pilihan-pilihan lain tidak tercapai.

2.Kebijakan Profesionalisme Guru

Penetapkan guru sebagai jabatan profesional menurut beberapa pengamat pendidikan memang sebuah revolusi penting yang perlu mendapat dukungan semua elemen bangsa, namun untuk menghadirkan guru-guru professional sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang perlu usaha keras.

Pemerintah perlu menggelontorkan kebijakan-kebijakan yang mendukung hadirnya guru-guru professional di Indonesia.Profesionalisme guru itu bergantung pada sarana dan parasana Pendidikan guru, peningkatan gaji guru. Jangan biarkan guru memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dengan mencari pekerjaan tambahan.

3.Pendidikan Sekolah Guru 

Menurut saya pendidikan sekolah guru berkualitas menjadi amat strategis dalam meningkatkan kualitas guru, pemerintah perlu memberikan alokasi dana khusus untuk peningkatan kualitas pendidikan guru pada Pendidikan tinggi negeri maupun swasta.

Seiring dengan meningkatnya penghargaan terhadap guru, itu akan  meningkatkan komitmen masyarakat untuk menjadi guru, karena itu pendidikan guru harus melakukan seleksi yang ketat untuk menyaring calon-calon guru.  Input calon guru tentu saja berbanding lurus dengan luaran guru yang berkualitas.

4. Peningkatan Kualitas Guru dan Kompetensi Nasional

Peningkatan kualitas guru akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, dan peningkatan kualitas Pendidikan akan berbanding lurus dengan meningkatnya kompetensi manusia Indonesia.

Kompetensi yang tinggi dari manusia-manusia Indonesia, khususnya usia produktif akan memampukan Indonesia memanfaatkan jendela peluang, untuk kemudian meningkatkan derajat manusia Indonesia, dan mendudukkan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju di dunia.