Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Menulis dan Mengarang Itu Beda

 




Menulis dan Mengarang Itu Beda

Menulis artikel ilmiah berbeda dengan mengarang. Menulis artinya, penulis sudah mengetahui apa yang akan ditulis dan kemudian baru menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sedang mengarang, biasanya pengarang langsung menuliskan apa yang terlintas di benak pengarang atau dalam imajinasi pengarang. Pada awal membuat karangan, pengarang belum tahu keseluruhan yang akan dituangkan dalam karangannya. 

Mengarang lebih bergantung pada imajinasi pengarang yang terus bergerak maju. Meskipun tetap karangan itu perlu memiliki relasi dengan realitas agar dipahami pembaca.

Menulis perlu riset

Untuk membuat sebuah tulisan ilmiah, penulis harus terlebih dulu memahami apa yang akan ditulis dengan terlebih dulu melakukan penelitian.

Setelah persoalan yang telah diteliti itu dipahami dengan baik, barulah hasil penelitian itu dituangkan dalam bentuk tulisan. Model tulisan tentu saja bergantung pada target pembacanya. 

Untuk skripsi, Tesis, atau disertasi target pembacanya adalah  dosen pembimbing serta dosen penguji, pemilihan kata atau diksi perlu memerhatikan target pembaca.

 Semua orang bisa menulis

Menulis artikel ilmiah untuk Jurnal, Skripsi, tesis, atau disertasi tidak memerlukan bakat seperti untuk menjadi seorang pengarang. Menurut saya semua orang bisa menulis karya ilmiah, asalkan memiliki ketekunan, dan terus belajar meningkatkan kemampuan menulisnya.

Peningkatan kemampuan menulis setidaknya terkait dengan pengetahuan tentang penalaran dan pengetahuan bahasa tulis. Kemampuan penalaran dapat ditingkatkan dengan banyak membaca. Demikian juga perihal ide atau gagasan sebagai syarat utama menulis, itu di dapat melalui membaca.

Karena itu, jangan duduk-duduk mencari ilham untuk mempersiapkan menulis sebuah karya ilmiah. Pergilah ke perpustakaan, bacalah jurnal-jurnal ilmiah. Pahami baik-baik  teori-teori yang akan menjadi alat analisis masalah. Dan pahami baik-baik masalah yang akan diteliti sebelum menulis proposal penelitian.

Menulis adalah merekam, menyimpan dan mendokumentasikan apa yang kita baca, mengonstruksinya, menata kembali, kemudian memproduksi sesuatu yang bermanfaat. 

Kita tentu setuju bahwa bahasa mempengaruhi pikiran, dan demikian juga pikiran mempengaruhi bahasa. Karena itu untuk menghasilkan karya tulis yang baik, dibutuhkan kemampuan bernalar, dan juga kemampuan bahasa tulis. Keduanya itu di dapat melalui membaca dan menuliskan apa yang telah dibaca.


Perhatikan Proses Penulisan

Banyak mahasiswa gagal menghasilkan skripsi, tesis, disertasi yang baik, karena belum mampu membedakan menulis dan mengarang. Tidak jarang saya jumpai, mahasiswa langsung saja menulis skripsi sambil mengumpukan bahan atau data, utamanya mereka yang menulis karya ilmiah, skripsi, tesis atau disertasi berupa sebuah kajian teori.

Sambil membaca buku, mereka menuliskan langsung apa yang mereka baca. Itulah sebabnya struktur tulisan biasanya kurang bagus. Bahkan tidak jarang sulit memahami isi tulisan itu. Dan mungkin mahasiswa itu sendiri pun tidak memahami apa yang ditulisnya, sehingga tidak heran ketika sidang skripsi, atau tesis banyak diantara mereka yang gagal.

Untuk menulis sebuah karya ilmiah seorang mahasiswa sebaiknya mempunyai catatan penelitian yang tersimpan baik, dan kemudian menyusun catatan tersebut dengan cara yang sistematis. Setelah memahami hasil penelitian itu, barulah disusun menjadi sebuah draft tulisan.

Setelah selesai membuat draft tulisan, lakukanlah  revisi, pada revisi ini jangan ragu untuk merombak struktur tulisan jika dianggap urutannya tidak logis. Sebaiknya struktur tulisan dianalisis dengan baik, secara berulang-ulang sampai sungguh-sungguh yakin bahwa urutannya sudah logis, dan sistematis.

Setelah melakukan revisi, barulah dilakukan editing. Pada fase editing ini penulis perlu fokus pada analisis kata dan kalimat yang digunakan, dengan memperhatikan pemilihan kata atau diksi yang sesuai dengan target pembaca. Setelah itu barulah tulisan itu diserahkan kepada dosen sebagai pembaca.

Banyak tulisan paper mahasiswa memiliki hasil yang buruk, karena penulisan tidak didahului  penelitian, dan proses penulisan tidak memenuhi urutan penulisan yang baik, untuk dapat menghasilkan naskah yang baik.

Menulis itu sendiri sebenarnya tidak sulit, dan dapat dipelajari. Tapi, persoalannya adalah, tidak ada karya besar yang dapat dihasilkan dengan cara mudah, semua itu membutuhkan kerja keras. Demikian juga hal nya dengan mengarang, untuk menghasilkan karya besar, pengarang-pengarang tersohor itu perlu kerja keras. Baik dalam hal melatih imajinasi mereka, dengan tetap mengikuti persoalan-persoalan terkini yang menjadi kebutuhan pembaca masa kini.


 Kontak: 

 Email: antonihutabarat@gmail.com

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2022/03/menulis-dan-mengarang-itu-beda.html

Etika seksual dari tes HIV

 



Etika seksual dari tes HIV dan hak-hak dan tanggungjawab dari pasangan

 

Penulis: Ruth Dixon-Mueller

 

Wacana dari kebanyakan komunitas AIDS internasional mendukung hak-hak individu di negara-negara berpenghasilan rendah untuk "berkata tidak" terhadap tes HIV rutin di pelayanan-pelayanan kesehatan. Jika dites dan diketahui positif, mereka berhak untuk tidak memberitahukan pasangan seksualnya apabila pengungkapan (disclosure) status HIV dapat mengakibatkan dampak buruk yang serius terhadap dirinya. Studi ini berargumen bahwa hak individu untuk menolak testing berarti mengabaikan hak pasangan seksualnya - laki-laki atau perempuan, tetap atau casual - akan informasi tentang resiko kesehatan yang mungkin mereka hadapi ketika memasuki atau melanjutkan sebuah relasi seksual atau terlibat dalam tindakan seksual tertentu. Apabila, sebagaimana dideklarasikan oleh PBB, semua orang memiliki hak untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab atas hal-hal yang berkaitan dengan seksualitasnya, -- termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan - maka semua orang mempunyai hak dan tanggungjawab untuk mengetahui serostatus diri sendiri dan pasangannya dan melindungi diri mereka sendiri dan pasangannya dari infeksi menular seksual (IMS). Dukungan dari aktivis AIDS bagi kebijakan tes IMS/HIV rutin, konseling dan pengungkapan serostatus antara kedua pasangan dalam sebuah relasi seksual akan membantu untuk mempromosikan etika hak-hak yang setara dan tanggungjawab bersama bagi perilaku seksual dan akibat-akibatnya.


Pengirim: Irwan Hidayana, ihidayana@hotmail.com

 

Dipublikasikan: Studies in Family Planning , 38 (4): 284-296, 2007


https://www.binsarhutabarat.com/2022/05/etika-seksual-dari-tes-hiv.html