facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Mainstreaming Pendidikan Tinggi Teologi

Mainstreaming Pendidikan Tinggi Teologi



Mainstreaming atau  pengarusutamaan  Pendidikan Tinggi Teologi dan Pendidikan Tinggi Agama Kristen menjadi istilah populer sejak dikumandangkan Dirjen Bimas Kristen, Prof. Dr. Thomas Penturi pada dua tahun lalu. 

Jargon itu perlu mendapat dukungan semua insan yang bergelut dalam pendidikan tinggi teologi dan pendidikan tinggi keagamaan Kristen. 


Pendidikan tinggi teologi dan pendidikan keagamaan Kristen adalah garda terdepan untuk memajukan kehidupan masyarakat Kristen, secara khusus gereja. Melalui pendidikan itu dihasilkan pemimpin gereja dan guru-guru yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan beragama masyarakat Kristen. Apabila pendidikan tinggi gagal menghasilkan tenaga berkualitas maka itu secara langsung akan memengaruhi kualitas kehidupan gereja,  masyarakat, dan juga keutuhan bangsa Indonesia. 

Kondisi ironis pendidikan tinggi teologi bukan hanya terlihat dari sarana dan prasarana yang minim, tenaga pendidikan yang umumnya digaji sangat rendah, bahkan banyak yang tidak memenuhi beban kerja dosen, adalah permasalahan klasik. Para dosennya tidak sedikit yang harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan bekerja di gereja.

Jika mengacu standar nasional pendidikan tinggi dengan 24 standar minimal, banyak pendidikan tinggi terengah-engah nemenuhi standar mininal itu. Pengembangan kurikulum yang harus dilakukan dalam merespons perubahan jaman  kerap terabaikan. Alhasil, luaran pendidikan tinggi teologi banyak yang tidak mampu memenuhi  kebutuhan pemangku kepentingan. 

Demikian juga untuk pendidikan tinggi teologi yang didirikan oleh gereja. Pendidikan tinggi teologi dihadirkan hanya untuk menjaga kemurnian doktrin denominasi gereja atau tokoh pendiri. Karena itu, tamatan pendidikan tinggi teologi tidak boleh bersikap kritis jika ingin mendapatkan tempat melayani atau bekerja pada lembaga itu. 

Berdasarkan rentetetan persoalan tersebut di atas terlihat jelas betapa beratnya bertugas dalam pendidikan tinggi teologi di Indonesia. Kedaulatan Tuhan jadi alat ampuh untuk menahan mereka yang berada dalam pendidikan tinggi teologi agar tetap bertahan dalam kondisi apapun. 

Kita tentu berharap mengarusutamakan pendidikan tinggi teologi menjadi perjuangan kita bersama. Dan itu bukan hal mustahil. Apalagi tugas berat untuk memajukan gereja, masyarakat dan bangsa Indonesia sejatinya  menjadi tugas pendidikan tinggi teologi dan pendidikan tinggi keagamaan Kristen. 

Binsar A. Hutabarat. 


No comments:

Post a Comment