facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Museum Hagia Sophia Beralih Jadi Masjid

Museum Hagia Sophia Beralih Jadi Masjid


  







Museum Hagia Sophia dalam bahasa Turki Ayasofia adalah magnet wisatawan mancanegara. Pada awalnya adalah sebuah katedral terbesar dunia pada masa Kaisar Bizantium, Justinian, sekitar 537 Massehi. 

Seiring dengan jatuhnya  Konstantinopel ke tangan Sultan Mehmet II dari Turki Ottoman pada 1435, katedral terbesar itupun beralih fungsi menjadi masjid. Hagia Sophia Menjadi simbol penaklukan Kekaisaran Ottoman Muslim.


Setelah 500 tahun menjadi masjid, Pada tahun 1934, pada masa Mustafa Kemal Ataturk yang merupakan "Bapak Turki Modern,"melalui penetapan pemerintah pada tahun 1934, Hagia Sophia beralih menjadi museum. 

Hagia Sophia tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs ini menjadi titik fokus dari kekaisaran Bizantium Kristen dan Kekaisaran Ottoman Muslim dan sekarang menjadi salah satu monumen yang paling banyak dikunjungi di Turki. 

Perubahan situs Museum Hagia Sophia menjadi masjid dengan sendirinya menjadi polemik, karena Hagia Sophia bukan lagi menjadi monumen kemajuan Kristen dan Islam pada masa lampau dalam negara Turki yang sekuler, tetapi telah diklaim sebagai situs agama tertentu, dan itulah sebabnya benda-benda bersejarah yang tersimpan dalam situs itu yang bukan warisan Islam perlu disembunyikan, sebagai klaim kejayaan agama tertentu.

Sejak Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) dan Presiden Erdogan berkuasa di panggung politik Turki pada 2002, kelompok sekuler di Turki sudah mencemaskan Hagia Sophia difungsikan kembali menjadi masjid, kekuatiran tersebut ternyata beralasan

Presiden Recep Tayyip Erdogan yang mengusulkan untuk memulihkan status masjid dari Situs Warisan Dunia UNESCO, dan juga menandatangani perubahan Situs Museum Hagia Sofia, menurut para kritikus telah memangkas pilar sekuler negara mayoritas Muslim itu. Pada masa-masa sebelumnya, Erdogan berulang kali menyerukan agar bangunan yang menakjubkan itu diganti namanya menjadi masjid.

Sejalan dengan Presiden Erdogan, Asosiasi yang membawa kasus itu kepengadilan mengklaim, Hagia Sophia adalah milik pemimpin Ottoman yang merebut kota pada tahun 1453 dan mengubah gereja Bizantium yang sudah berusia 900 tahun menjadi masjid. 

Kekaisaran Ottoman Muslim membangun menara di samping struktur kubah yang luas, sementara di dalamnya ditambahkan panel kaligrafi besar bertuliskan nama-nama Arab dari para khalifah Muslim awal di samping ikonografi Kristen kuno monumen itu. Itulah sebabnya, Hagias Sofia diklaim milik Muslim. 

Hagia Sophia diubah menjadi museum di masa-masa awal negara Turki sekuler modern di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.


Sekilas Tentang hagia Sofia

Meski mendapatkan banyak tekanan internasional, Turki tetap gigih mengembalikan status Hagia Sophia di Istanbul menjadi masjid yang secara turun-temurun menjadi warisan Sultan Ottoman Muhammad sang penakluk. 

Landasannya adalah agama bukan pada konstitusi negara. Itu terlihat pada pernyataan Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul yang menetapkan Hagia Sophia secara hukum dimiliki oleh sebuah yayasan yang didirikan oleh Sultan al-Fatih. “Menurut undang-undang wakaf, apa yang diwakafkan harus difungsikan sesuai tujuannya,” tutur dia. 

Dia menekankan Hagia Sophia telah diwakafkan oleh Muhammad al-Fatih khusus untuk tempat ibadah sebagai masjid. Mengembalikan Hagia Sofia sebagai masjid adalah untuk mengembalikan kebesaran Kekaisaran Ottoman Muslim.

Masalah status Hagia Sophia muncul ketika Yunani keberatan terhadap Turki yang memperingati hari penaklukan Istanbul yang ke-567 pada 29 Mei 2020, dengan membacakan surat Al-Fath di dalam Hagia Sophia. 

Feridun Emecen, dekan Fakultas Sastra Universitas Mayis di Istanbul, mengatakan "Fatih adalah pendiri Kekaisaran Ottoman, dia melakukan ini dengan menaklukkan Istanbul. 

Oleh karena itu, penaklukan, yang merupakan titik balik, sangat penting bagi sejarah Turki." Hagia Sofia adalah simbol penaklukkan Kekaisaran Ottoman Muslim.

Warga Turki memberikan respon beragam terkait kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid. Kebanyakan masyarakat Turki memeluk agama Islam, namun sebagian dari mereka ada yang tidak setuju dengan keputusan ini, karena Turki adalah negara sekuler dengan mayoritas penduduk muslim. 

Orhan Pamuk berkomentar, dikembalikannya Hagia Sophia menjadi tempat peribadahan suatu agama menghilangkan kebanggaannya atas negara yang selama ini dikenal sekuler yang  memisahkan urusan agama dan politik. "Ada jutaan orang Turki sekuler seperti saya yang menangis menentang hal ini, tetapi suara mereka tidak terdengar," kata Pamuk.

Sebaliknya, banyak juga warga Turki yang bergembira atas status terbaru dari Hagia Sophia. Terbukti saat azan pertama dikumandangkan dari dalam bangunan itu untuk pertama kalinya tidak lama setelah ditetapkan kembali menjadi masjid, banyak warga yang bersorak-sorai dan mengabadikan momen tersebut dari luar bangunan. 

Hal itu karena Islamis di Turki sudah lama meminta hal ini untuk diwujudkan, namun selalu mendapat tentangan dari anggota oposisi sekuler.

Keputusan Turki yang mengubah monumen era Bizantium, Hagia Sophia kembali menjadi masjid menuai kritik internasional, antara lain datang dari Sri Paus Fransiskus pada Minggu (12/7/2020) yang mengatakan bahwa dia 'sangat sedih' atas keputusan Turki yang mengubah monumen era Bizantium, Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

AS, Yunani, dan para pemimpin gereja termasuk di antara mereka yang menyatakan keprihatinan tentang pengubahan status bangunan besar abad ke-6. Hagia Sophia diubah menjadi museum di masa-masa awal negara Turki sekuler modern di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.

selama proses ibadah shalat berlangsung Uni Eropa, termasuk Yunani, Perancis dan Amerika Serikat (AS) telah melayangkan kritik serius terhadap keputusan Turki yang mengubah museum Hagia Sophia kembali menjadi masjid. 

Keputusan itu menimbulkan kekhawatiran akan masa depan Hagia Sophia yang pernah menjadi tempat ibadah umat Kristiani itu dan sudah menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.


Pembangunan Dunia Milik Tuhan


Pembangunan dunia milik Tuhan sejatinya hanya untuk memuliakan Tuhan dan memberikan kebaikan kepada sesama. Pembangunan dunia milik Tuhan harus didasarkan pada kasih kepada Allah, kasih kepada diri sendiri, dan kasih kepada sesama manusia.

Peristiwa Turki sejatinya menjadi pelajaran bagi umat manusia di seluruh dunia. Simbol-simbol agama yang sejatinya menunjukkan kebesaran Tuhan tidak boleh diklaim sebagai kebesaran individu, kelompok, atau agama tertentu. Perjuangan agama sejatinya untuk semua manusia, untuk memuliakan Tuhan pencipta manusia.

Kasih Tuhan yang dicurahkan kepada setiap pribadi, kelompok, agama, tidak boleh diklaim sebagai kesuksesan individu, kelompok, agama tertentu, bahkan negara tertentu, seperti kata Presiden Sosekarno, Nasionalisme Indonesia harus bersemayam dalam taman sarinya Internasionalisme. 

Kesejahteraan individu, kelompok, kelompok agama tertentu, bahkan negara sejatinya untuk kesejahteraan umat manusia.


Kasih Tuhan adalah universal dan untuk kemuliaan Tuhan semata. Tuhan memberi hujan dan panas untuk semua manusia. Maka, kehadiran simbol-simbol agama, apapun agamanya adalah untuk kebaikan bersama, kebaikan umat manusia ciptaan Tuhan.


Orientasi beragama yang hanya untuk kepentingan individu atau kelompok akan berdampak buruk bagi agama itu sendiri. 

Politisasi agama yang menggunakan agama untuk kepentingan individu atau kelompok merupakan contoh orientasi beragama yang bukan untuk kemuliaan agama itu. Akibatnya, agamalah yang paling dirugikan dalam politisasi agama itu.

Wajah garang agama kerap hadir dalam politisasi agama yang sejatinya bukan penampilan diri agama itu sendiri, tapi agama telah diperalat untuk kepentingan tertentu yang tak ada manfaatnya bagi agama apapun. 

Sebaliknya pemuasan kepentingan individu, kelompok dengan meminta kekhususan serta menampilkan hegemoniya, akan melemahkan kebersamaan dan persatuan umat manusia.

Orientasi beragama sejatinya tertuju untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk kemuliaan individu atau kelompok tertentu. Dalam Kristen orientasi beragama yang benar harus tertuju pada kerinduan untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama."

Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Orientasi beragama yang memuliakan Tuhan itu terlihat pada praktik beragama yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Pada praktiknya, mengasihi sesama manusia harus lebih dulu dilakukan. 

Melalui tindakan mengasihi sesama itu seseorang akan tahu apakah dia mengasihi Allah atau tidak. 

Agama itu untuk manusia, maka pengetahuan akan Tuhan sejatinya akan membawa seorang Kristen mengasihi sesamanya. 

Membawa kebaikan semua manusia, untuk kemudian bersama-sama merawat dunia ciptaan Tuhan untuk kemuliaan Tuhan.

Mengasihi sesama itu sendiri adalah sebuah tindakan aktif bukan pasif atau dengan menunggu untuk dikasihi. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang  perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."

Orang Kristen, mengasihi sesamanya karena Tuhan lebih dulu mengasihi manusia. Karena kemurahan Tuhan, maka Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. 

Kemurahan Allah itu menjadi dasar bagi manusia untuk mengasihi sesamanya sekaligus sebagai ungkapan mengasihi Tuhan.

Kehadiran Hagia Sofia nampaknya sarat dengan simbol manusia yang mencari kemuliaan untuk diri sendiri, atau kelompok tertentu. 

Apabila umat Kristen memaknai kehadiran Hagia sofia sebagai simbol kebesaran Kristen adalah salah besar, karena betatapapun besar dan megahnya Hagia Sofia, bangunan buatan manusia itu tidak pernah menambah kebesaran Tuhan, kecuali memuaskan nafsu manusia untuk menyamai Allah.

Dosa menara Babel, dosa manusia yang mencari nama, bukan memuliakan Tuhan, adalah perlawanan kepada Allah, dan sekaligus sumber perpecahan persekutuan manusia di dunia. 

Umat Kristen tidak perlu marah, sebaliknya perlu mengingatkan bahwa kebijakan pemerintahan Turki sejatinya perlu diarahkan kepada kebaikan semua masyarakat Turki tanpa kecuali dan semua umat manusia di bumi ini.

Lihatlah Bangunan Bait Allah yang akhirnya diijinkan untuk dihancurkan menjadi bukti bahwa kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada bangunan megah yang dibuat manusia, sekalipun pernah digunakan untuk memuliakan Tuhan, apalagi jika itu sekadar dibangun untuk menujukkan kebesaran manusia.

Kita berharap agama-agama di Indonesia mampu melepaskan diri dari sejarah kelam masa lampau. Agama-agama di Indonesia yang tersohor dengan toleransinya tak perlu mencontoh pemerintah Turki.

Di Indonesia juga banyak situs yang terkait keragaman agama dengan jatuh kerajaan-kerajaan yang banyak di indonesia yang mewarisi kejayaan sejarah kerajaan-kerajaan itu.

Tapi, jika kita melihat situs sebagai monumen, peringatan untuk manusia lebih memanusiakan manusia, maka pertimbangan kita adalah kemanusiaan, bukan kepentingan individu atau kelompok tertentu. 

Biarlah kita saling belajar dari keragaman agama-agama yang ada untuk bersama membangun dunia yang satu, yang adalah milik Tuhan, bagi kesejahteraan sesama, dan untuk kemuliaan Tuhan pencipta dunia dan segala isinya.


No comments:

Post a Comment