Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Perber Jadi Instrumen Penutupan Rumah Ibadah








Wawancara tentang Peraturan Bersama Menteri tentang pendirian rumah ibadah




Pdt Gabriel tidak habis pikir mengapa Perber dijadikan oleh pihak lain untuk menutup tempat ibadah orang Kristen? Menurut Gabriel, kelompok yang anti-Kristen tidak mau tahu apakah yang mereka tutup itu gereja atau rumah. Sebuah tempat, kalau digunakan untuk ibadah Kristen adalah gereja, dan bila tidak memiliki ijin sebagai gereja, harus ditutup! Berdasarkan Perber, apabila ada 90 orang umat, maka akan diberikan ijin untuk mendirikan rumah ibadah. Namun apabila jumlah ini pun sudah terpenuhi, tetap saja ijin lingkungan sulit untuk didapatkan.

Pdt Gabriel menceritakan pengalamannya tentang 7 gereja Ujung Menteng, Bekasi, yang sedang advokasi ke pihak pemerintah, yakni kelurahan kemudian ke kecamatan. Waktu itu ketujuh pengurus gereja menjelaskan bahwa keberadaan Perber adalah untuk mengatur, bukan untuk menutup gereja. Namun kelurahan maupun kecamatan mengatakan gereja-gereja itu  harus ditutup. Mengadu ke FKUB pun hasilnya sama. Akhirnya keluar surat penutupan.

Kemudian di Pondok Hijau, Bekasi Utara, ada gereja di ruko. Waktu mengadakan acara Natal, sekelompok orang datang meminta acara dihentikan, dan gereja ditutup. Waktu itu ada yang bawa golok. Beberapa polisi yang datang hanya menonton.  Salah seorang polisi yang kemungkinan beragama Kristen mengatakan kepada Pdt Gabriel, bawa secara manusiawi dia ingin bertindak menghadapi massa, tetapi polisi itu harus taat kepada perintah atasan yang melarang untuk bertindak. Maka aksi kekerasan itu pun dibiarkan. Dan gereja itu akhirnya ditutup.

Menurut Pdt Gabriel, waktu advokasi dia melihat bahwa memang ada sekitar 25% kesalahan pendeta-pendeta dalam kasus penutupan gereja. Misalnya, ada pendeta yang mengatakan, ”Ngapain kita harus lapor ke Rt/Rw. Ibadah kan bebas. Ngapain minta ijin? Siapa yang larang ibadah?” Memang undang-undang menjamin kebebasan beribadah, namun kenyataan lingkungan sering tidak sesuai dengan itu. Benar kita hidup di negara Pancasila, UUD 45 menjamin kebebasan beragama. Tapi kita harus tahu bahwa lingkungan itu mayoritas muslim. Para pendeta, paling tidak harus mengerti situasi di mana gereja berada. Maka dari itu, datangilah tokoh masyarakat setempat, jalin hubungan yang baik.

Menjalin hubungan memang tidak mudah. Tapi Pdt Gabriel membuktikan akhirnya bisa. Pdt Gabriel menceritakan, pada tahun 1993 gereja yang dibangun tahun 1992 dibakar massa. Setelah diperbaiki, dibakar lagi. Ketika Gabriel dipindahkan ke tempat itu tahun 1995, dia pun langsung mengadakan pendekatan dengan warga sekitar. Tidak mudah. Haji Napi yang merupakan aktor pembakar gereja, selalu menolak bertegur sapa. Namun kondisi jalan yang berlumpur tebal saat hujan, menjadi pintu masuk bagi Pdt Gabriel. Dia pun menawarkan untuk bergotong royong memperbaiki jalan supaya tidak berlumpur lagi. Awalnya tidak direspon. Tetapi suatu malam di tahun 1996, ketika hujan turun  dan jalan berlumpur, esok harinya Pdt Gabriel didatangi  Pak Rt, Pak Rw, dan Haji Napi.

Singkat cerita, mereka membicarakan perihal gotong royong yang pernah dikemukakan Pdt Gabriel. Gabriel meminta supaya biaya pembangunan jalan dikalkulasi oleh Pak Rt dan Pak Rw. Akhirnya jalan pun diperbaiki. Sejak itu hubungan dengan tetangga-tetangga menjadi baik. Kalau ada masalah, mereka memberitahu ke gereja. Kalau ada kegiatan-kegiatan warga, gereja membantu, dsb.

Ditanya tentang Perber, Pdt Gabriel mengatakan lebih banyak negatifnya. Alasannya, di wilayah Bekasi, Perber banyak digunakan untuk menutup tempat ibadah, baik itu yang ada di ruko, maupun rumah-rumah yang digunakan jadi tempat ibadah oleh umat kristiani.

Pdt Gabriel juga berpendapat bahwa keberadaan Perber itu mengondisikan bahwa Indonesia tidak rukun. Maka Gabriel setuju kalau Perber itu dicabut saja, tidak usah direvisi. Sebab masak ibadah harus punya ijin? Dan kalau tempat ibadah tidak punya ijin ditutup. Daripada bikin peraturan atau UU  yang sifatnya menjerat, lebih bagus ada UU kebebasan beragama. 
wawancara dengan  Pdt. Gabriel


No comments:

Post a Comment