Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Perber Mempersulit Pendirian rumah Ibadah, Gereja














Wawancara Dengan Pdt. Pit Maspaitela: 

Sebelum ada Perber, jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Bekasi, beribadah dari rumah ke rumah. Dari rumah pindah ke ruko. Selama di ruko itu memang belum pernah GKSI ditutup,  namun ancaman pernah ada. Misalnya pernah mau diserang oleh kelompok yang menamakan diri anti-permurtadan. Bersama gereja-gereja lain yang ada di ruko itu GKSI saling berkoordinasi lalu melapor ke Polres Bekasi. Ruko itu memang tidak pernah diserang, namun aksi penyerangan malah melebar ke daerah lain di Bekasi.




Pdt. Pit Maspaitela sendiri sudah mengalami hal yang kurang lebih sama di perumahan tempat tinggalnya, di kawasan Bekasi Timur. Yang namanya fasos dan fasum di setiap RW sudah diblok dan dibangun fasilitas untuk kepentingan kelompok tertentu.

Tiga – empat tahun sebelumnya, umat kristiani yang bermukim di perumahan itu sudah mengajukan permohonan untuk mendapatkan satu tempat ibadah. Apalagi sesuai persyaratan Perber, dan kriteria FKUB, sudah ada 60 – 90 orang yang memberikan persetujuan. Developer pun menembuskan surat permohonan umat Kristen itu ke RW, kelurahan, kecamatan sampai walikota, bahwa lahan itu disiapkan untuk pembangunan rumah ibadah umat Kristen . Tetapi begitu surat itu dibalas, warga langsung menolak dibangunnya gereja di lahan fasos dan fasum tersebut. Alasan RW, di lahan itu mau dibangun balai RW atau fasilitas olahraga.

Akhirnya niat umat Kristen untuk memiliki tempat ibadah di perumahan itu terpaksa diurungkan, sebab tidak ada yang bisa menolong. Bahkan HKBP yang memiliki banyak jemaat juga tidak bisa berbuat apa-apa. Perlakuan diskriminatif sangat terasa. Kelompok minoritas diperlakukan sangat sulit. Bahkan HKBP Ciketing yang sebenarnya sudah memiliki lahan pun tidak diperbolehkan membangun rumah ibadah. Di mana-mana aksi penolakan atas pembangunan gereja marak. Bahkan ada spanduk berisi penolakan yang ditulis dengan darah.

Maka menurut Pdt . Pit Maspaitela, Perber itu sangat tidak menjawab persoalan, karena justru memberatkan. Adanya aturan 60 – 90 itu dibuat-buat untuk menghambat. Sebab sekalipun sudah dapat jumlah segitu, atau bahkan lebih, belum tentu dapat ijin. Bahkan bila sudah ada ijin pun bisa saja digagalkan. Maka tidak ada kepastian.

Ijin persetujuan memang tidak hanya dari umat Kristen, namun bisa juga dari umat lain. Namun untuk mendapatkan dari warga non jemaat itu sangat sulit. Dan kalaupun sudah dapat, biasanya akan ada intervensi dari pihak lain. Dan biasanya intervensi keberatan ini justru berasal dari luar, yang bukan penduduk setempat. Artinya regulasi atau peraturan dari masyarakatlah yang lebih kuat, bukan regulasi pemerintah. Alasan pemerintah demi kerukunan. Tetapi justru gereja yang ditekan. Gereja sudah menjaga kerukunan, tetapi justru pihak di luar gereja yang selalu membuat aksi kekerasan. Puncaknya adalah peristiwa HKBP Pondok Timur.

Dalam hal ini pemerintah tidak punya netralitas, dan juga tidak punya otoritas untuk memberlakukan Perber karena  lebih melihat kepada kepentingan kelompok tertentu. Pembiaran pemerintah atas insiden telah memakan korban.

Menurut Pdt. Pit, sebenarnya hubungan gereja masyarakat Kristen dengan  non-Kristen di sekitar gereja dan tempat tinggalnya cukup baik. Masyarakat hidup rukun. Memang ada yang mengkavling untuk menolak kehadiran gereja secara formal. Tapi kehadiran umat Kristen tidak ditolak. Nah buktinya di daerah Bekasi perkembangan umat Kristen begitu pesat, pertumbuhannya begitu pesat dan aktivitas Kristen juga begitu tinggi di kota Bekasi. Tetapi itu kan karena perpindahan penduduk dari Jakarta ke Bekasi. Kalaupun ada penolakan itu
hanya bersifat lokal saja. Tapi sebenarnya kehidupan keseharian tidak. Mereka  itu cuma mau menunjukkan bahwa mereka menolak kehadiran gedung gereja secara formal. Tetapi kehadiran umat Kristen dan kegiatan yang biasa sebenarnya tidak ditolak .

Pendekatan sosial selalu dilakukan oleh gereja. Dan untuk mendapatkan persyaratan lingkungan sebenarnya tidak masalah, yang kita hadapi adalah orang-orang yang dari jauh. Justru yang menghasut dan menyerang atau yang membuat aksi itu datang dari jauh. Tidak tahu darimana dan siapa orangnya, kita sulit untuk membuktikan itu. Tapi tiba-tiba kok massa bisa banyak, bisa tiba-tiba ada penolakan yang begitu keras. Padahal dalam hidup keseharian kita sudah biasa sapa-menyapa. Suasana begitu bagus, begitu ramah. Tetapi begitu mau ada rumah ibadah, langsung ada reaksi yang begitu cepat, dan mengumpulkan tandatangan  penolakan begitu cepat.

Sebenarnya gedung gereja dulu banyak di Bekasi. Namun akhirnya banyak yang pindah ke ruko karena di lahan yang sudah dibeli sekalipun sangat sulit mendirikan gereja. Salah satu keuntungan ruko adalah dia bukan dilihat sebagai gereja, karena hanya
memanfaatkan ruko untuk tempat beribadah. Karena itulah tidak ada yang terlalu mempersoalkan gereja yang ada di ruko, karena jauh dari pemukiman mereka.

FKUB sendiri tidak memfasilitasi ruko untuk gereja-gereja, sebab FKUB  menganggap ruko  bukan gereja. FKUB memproses permohonan untuk membangun gereja. Memang di Pergub ada poin bahwa FKUB akan memfasilitasi pembangunan gereja jika sudah memenuhi syarat. Namun kenyataannya tidak.

Perber tidak perlu. Dan tidak perlu ada persyaratan 90 – 60 orang untuk mendirikan gereja. Karena acuan kita dalam beribadah kan UUD 45, di mana setiap warga negara mempunyai hak untuk beribadah sesuai dengan agamanya. Sedangkan soal persyaratan 90 – 60 orang, itu menimbulkan konflik. Tidak  harus ada persetujuan dari lingkungan untuk membangun gereja.

Dialog antaragama, secara formal tidak pernah dilakukan gereja. Tetapi peranan kita bangun dari bawah. Misalnya dengan menasihati dan mengimbau setiap rumah tangga untuk aktif di pertemuan-pertemuan antarwarga. Bila ada peluang menjadi pengurus RT, langsung diambil. Di situlah kita bisa menyatu, dan mengatakan bahwa beginilah seorang Kristen. Di sana kita bisa membawakan nilai-nilai kristiani, dan bisa mengomunikasikan bagaimana kekristenan itu. Dengan demikian pemikiran bahwa umat Kristen itu hidup memisahkan diri dari masyarakat akan terbuang.

Contoh yayasan di Kalvari yang mengadakan bakti-bakti sosial. Pengobatan murah, pengobatan gratis kepada masyarakat sekitar. Dan itu disambut dengan sangat baik, dan mempunyai dampak yang sangat baik, untuk toleransi antarumat beragama

No comments:

Post a Comment