Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Teologi Ilmiah Versus Teologi “Membeo”

              


 

Teologi ilmiah itu berjarak dari Alkitab. Jaraknya sejauh apa, tentu saja kita selalu berusaha untuk mendekatinya. 


Tapi, kita tak pernah berhenti untuk terus maju memahami Alkitab sebagaimana Alkitab mengatakannya. Tidak seorangpun dapat mengklaim posisi teologinya paling mendekati Alkitab.

 

Pertama kali mendengar klaim individu dan kelompok yang mengatakan teologi denominasi mereka adalah yang paling mendekati Alkitab tentu saja saya sempat terperangah. 


Namun, karena yang mengatakan itu bukanlah seorang teolog yang mumpuni membangun teologi berdasarkan metode teologi ilmiah. Klaim itu mungkin hanya sebagai produk promosi gereja tertentu untuk menarik anggota jemaat baru, saya segera melupakannya.

 

Lebih terkejut lagi, pada tahun 1999 saat mengikuti kuliah dosen cukup kondang, Richard Fratt, saya sempat mendengar pernyataannya bahwa teologi yang dianutnya adalah teologi yang paling mendekati Alkitab. Memang pernyataan itu hanya dinyatakan sekilas, seperti sambil lalu, karena memang tidak mudah mencari alat ukur sebuah teologi itu paling mendekati Alkitab.

 

Sejak mendengar klaim itu saya berusaha menelusurinya, dan kini sudah dua puluhan tahun lebih saya mempelajari dan mengamatinya, dan inilah hasil penelitian saya.

 

Metode Teologi Ilmiah


Sebagai seorang peneliti yang juga mempelajari penelitian teologi ilmiah sebenarnya saya paham, bahwa yang dimaksud “klaim teologi yang mendekati Alkitab”itu adalah metode berteologi, bukan rumusan teologi. Karena rumusan teologi dari mereka yang mengklaim paling mendekati Alkitab itu juga beragam.

 

Metode teologi ilmiah selain memiliki prosedur yang dianggap benar, juga memiliki faktor-faktor yang harus dilibatkan secara menyeluruh untuk menghasilkan rumusan pemikiran teologi Alkitab yang bertanggung jawab.


Persoalannya adalah, bagaimana mungkin dalam dunia global seperti ini masih ada individu atau kelompok yang mengklaim teologinya paling mendekati Alkitab?

 

Sumber teologi apapun bisa didapat dengan mudah pada saat ini, dan pelibatan komponen-komponen penting dalam berteologi yang menentukan baik buruknya bangunan teologi yang dihasilkan sudah bukan merupakan rahasia umum.

 

Jika kita memahami kerja eksegese, kita akan paham bahwa menggali isi Alkitab itu bisa sangat sederhana, dan bisa sangat susah sekali. Jadi ada tingkat kesulitan yang berbeda dalam menggali isi Alkitab. Apalagi untuk bagian Alkitab yang sumber-sumber luarnya sulit di dapat.

 

Untuk bacaan sehari-hari jemaat bisa membaca Alkitab dengan memperhartikan konteks dekat dan konteks jauh. Tapi, tetap saja pemahaman hal detail itu sangat bergantung pemahaman global tentang isi Alkitab.

 

Pemahaman global ini jemaat dapatkan melalui khotbah-khotbah minggu dan pelajaran-pelajaran Alkitab. Bila jemaat menerapkan itu, ada harapan pembacaan Alkitab anggota jemaat tidak melahirkan penafsiran di luar konteks ayat-ayat Alkitab itu.

 

Tapi, sebuah eksegese itu bisa tidak selesai dikerjakan sampai program doktor sekalipun. Untuk skripsi sarjana, eksegese tentu saja terbatas menggunakan referensi pilihan yang sesuai dengan keyakinan denominasi gereja, atau dosen yang mengajar.

 

Biasanya eksegese pada tingkat sarjana hanya untuk memahami makna yang sesuai dengan konteks dekat dan jauh dari ayat itu, dan juga memperdalam pemahaman penulis tentang bagian-bagian ayat tersebut dalam bingkai doktrin gereja tertentu atau doktrin dari sang dosen yang mengajar dengan literatur terbatas.

 

Berbeda dengan mereka yang berada pada tingkat magister. Pada level ini eksegese mesti diperdalam sampai pada evaluasi terhadap pengertian kata-kata yang berbeda. Pada konteks ini seorang tamatan magister perlu membandingkan atau mengkritik pengertian kata-kata yang diteliti berdasarkan minimal dua sumber yang berbeda, dan kemudian memilih mana pengertian yang paling benar.

 

Untuk tingkat doktoral, berarti penulis mesti bisa memilih pengertian kata-kata yang lebih tepat dibandingkan dokumen-dokumen penelitian yang telah dilakukan. Karena level seorang tamatan doktoral mestinya menghasilkan penerapan baru, atau temuan baru. Itulah sebabnya seorang calon doktor harus mampu me-review karya-karya penelitian yang telah dilakukan untuk mengembangkan hasil-hasil penelitian teologi yang telah dilakukan.

 

Karya-karya doktoral ini yang biasa disebut teologi akademis mestinya bisa menolong pengembangan doktrin gereja atau penerapan-penerapan baru dalam pelayanan gereja.

 

Teologi “Membeo”

 

Repotnya mereka yang tidak memahami bagaimana mengerjakan teologi ilmiah, dan mungkin perlu meyakinkan dirinya ketika berhadapan dengan pandangan yang berbeda menggunakan peryataan klaim doktrin gerejanya yang paling mendekati Alkitab.

 

Klaim itu dijadikan sebagai senjata ampuh untuk membungkan lawan bicaranya, meski dia tidak mampu membuktikan bahwa keyakinannya teologi yang dipegangnya sebagai teologi yang mendekati Alkitab. Apalagi jika ditanya apa alat ukurnya, maka mereka yang “membeo”klaim teologinya paling mendekati Alkitab itu tak mampu menjawabnya.

 

Jika tersudut, tidak jarang di media sosial mereka mengucapkan sumpah serapah yang tidak perlu. Ungkapan-ungkapan yang menyerang itu sebenarnya hanya membuktikan bahwa mereka yang mengklaim teologinya paling mendekati Alkitab itu dilakukan dengan cara “membeo”

 

Menurut saya, mereka yang mengklaim teologinya paling mendekati Alkitab sebenarnya tidak bergantung pada Alkitab, tapi lebih bergantung pada pernyataan teolog denominasi gerejanya yang saya katakan “membeo”.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2020/08/teologi-ilmiah-versus-teologi-membeo.html

 

Teologi Gereja Versus Teologi Jemaat

 
                                  






Teologi gereja yang dinyatakan dalam pengakuan iman sebuah denominasi gereja sejatinya juga menjadi teologi yang hidup dalam kehidupan anggota jemaat.

 

Teologi gereja yang beragam dalam banyak denominasi gereja itu masih memiliki perekat dalam pengakuan iman yang universal, seperti Pengakuan Iman Rasuli yang kerap di nyatakan secara bersama dalam ibadah minggu.

 

Memang ada beberapa gereja yang tidak mengucapkan pengakuan Iman Rasuli secara rutin pada ibadah minggu, meski itu tidak berarti gereja-gereja itu tidak mengakui Pengakuan Iman Rasuli. Itu terjadi hanya karena perbedaan tata ibadah saja. Sehingga usaha-usaha menguatkan keesaan gereja sejatinya perlu terus diusahakan, karena pada dasarnya gereja itu adalah esa.

 

 

Teologi Jemaat

Berbeda dengan kondisi ideal tersebut di atas, pada realitanya tidak jarang ditemukan adanya kontradiksi antara teologi gereja dan teologi jemaat, secara khusus ditemukan pada gereja-gereja dimana anggota gereja atau majelis gereja yang menjadi partisipan aktif gereja dari denominasi yang berbeda.

 

Hadirnya banyak pendidikan teologi awam pada satu sisi merupakan angin segar untuk jemaat yang ingin belajar Alkitab lebih mendalam. Apalagi ketika gereja setempat kurang aktif untuk memberikan pendidikan teologi untuk jemaat.

 

Tanpa paham akibat yang akan terjadi kedepan untuk pribadi ataupun untuk gereja setempat, dan tanpa disadari anggota jemaat itu mulai membangun teologi sendiri yang dipengaruhi oleh sekolah teologinya yang berbeda dengan teologi gerejanya.

 

Sekolah teologi yang didirikan gereja pada umumnya adalah wadah misi gereja dan juga wadah pelestari doktrin gereja. Sekolah awam merupakan salah satu strategi, atau menjadi wadah untuk gereja mendapatkan anggota baru, secara khusus anggota gereja yang memiliki pemahaman teologi melalui pembimbingan tertentu melalui sekolah teologi.

 

Apabila pertentangan doktri gereja dan doktrin jemaat semakin kuat, yang terjadi kemudian adalah diberlakukannya disiplin gereja terhadap anggota jemaat yang memiliki teologi berbeda itu, atau jika anggota jemaat itu mememiliki pengaruh yang cukup kuat, konflik didalam gereja bisa terjadi, secara khusus untuk gereja-gereja konggregasional yang sangat bergantung pada pemimpinan gereja setempat.

 

Tidak jarang, anggota jemaat yang memiliki teologi berbeda dengan doktrin gereja dimana dia bergereja kemudian berpindah pada gereja yang telah mengajarkan teologi denominasi tertentu melalui sekolah teologi.

 

Tidak jarang, karena merasa mampu berteologi dan merasa memiliki doktrin yang benar, maka anggota jemaat yang memiliki dukungan fasilitas memadai itu akan mendirikan gereja baru, biasanya terjadi pada gereja-gereja konggregasional.

 

Jemaat tidak mampu berteologi

 

Usaha membangun teologi bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu selain membaca Alkitab secara pribadi, jemaat didorong untuk mengikuti kelas-kelas pelajaran Alkitab dalam gereja disamping menghadiri ibadah-ibadh minggu secara rutin. Tujuannya adalah agar jemaat tidak menafsirkan Alkitab sesuka hatinya, sehingga melahirkan tafsiran yang tidak sesuai dengan Alkitab.

 

Kita bersyukur dengan Reformasi yang mengusahakan terjemahan Alkitab, sehingga semua orang Kristen dapat membaca Alkitab secara pribadi. Tapi, salah satu persoalan besarnya adalah, tidak sedikit jemaat yang merasa mampu membangun teologi tanpa perlu belajar menafsirkan Alkitab secara benar pada gereja dimana mereka berjemaat.

 

Pertempuran dalam media sosial terkait klaim-klaim doktrin gereja yang paling benar, sebenarnya lebih kepada klaim-klaiam anggota jemaat tentang teologinya. Bagaimana mungkin seorang anggota jemaat yang tidak diperlengkapi khusus bisa menafsirkan Alkitab secara tepat.

 

Saya kerap heran, betapa beraninya anggota-anggota jemaat itu mengklaim denominasi gereja lain dengan kata-kata sesat, bahkan dengan ucapan-ucapan yang tidak patut dikeluarkan oleh seorang Kristen yang mengasihi Allah dan sesama.

 

Menurut saya, perdebatan doktrin yang berseliweran di media sosial adalah bukti bahwa anggota jemaat memang tidak mampu berteologi, dan biarkanlah itu menjadi urusan pimpinan-pimpinan gereja.

 

Pimpinan gereja juga perlu belajar serius tentang Alkitab, dan paham mengenai keragaman doktrin gereja. Jangan jadikan alam demokrasi indonesia sebagai kesempatan untuk menggunakan segala cara hanya untuk memindahkan anggota gereja lain masuk dalam gerejanya.

 

Pada konteks tersebut di atas peran pendidikan teologi sebagai akademisi-akademisi bisa berperan untuk memajukan doktrin gereja serta penerapan-penerapan kontekstual dari doktrin gereja itu.

 

Kita berharap, tugas berat yang ada dipundak pendidikan teologi akan menghadirkan pendidikan teologi berkualitas yang bukan hanya menjadi benteng pelestari doktrin gereja yang beragam. Apalagi memelihara perseteruan antar denominasi gereja. Sehingga doktrin jemaat tidak perlu berkontradiksi dengan doktrin gereja.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2020/08/teologi-gereja-versus-teologi-jemaat.html

Teologi Dan Sains: Pengalaman Iman dan Pembuktian

 









Teologi (iman yang mencari pengetahuan) tidak bertentangan dengan sains. 


Namun, meski riset teologi berbeda dengan riset empiris yang memerlukan pembuktian. Keduanya bisa saja dipersandingkan, tapi bukan untuk mengklaim mana yang paling benar, tapi bisa dijadikan sebagai perbandingan untuk memperdalam sains atau pengetahuan agama-agama.



Pengalaman agama

Iman, atau keyakinan agama itu memiliki kepastian. Umat beragama menyakini apa yang diyakininya itu benar dalam pengalaman agama mereka. 

Pengalaman agama adalah sesuatu yang subyektif tapi biasanya mereka mengatakan pengalaman agama itu diklaim juga obyektif, mereka mengatakan pengalaman agama itu melampaui hal yang subyektif dan obyektif. Mungkin karena itu ada banyak orang yang berani mati karena mempertahankan iman mereka.


Iman memiliki kepastian namun tidak dapat dibuktikan. Iman bahwa Allah menyatakan diri kepada manusia yang secara sempurna dinyatakan dalam kehidupan Kristus, dan yang kemudian dicatat dalam Alkitab adalah sebuah pengetahuan yang pasti. 

Menjelaskan Keilahian Yesus adalah mungkin, karena Alkitab menjelaskannya. Tapi, pembuktian tentang kelihian Yesus tentu saja tidak mungkin, kecuali Allah sendiri yang membuktikannya.

Mereka yang memegang iman terhadap Alkitab adalah Firman Allah tak pernah goyah di serang dengan cara pembuktian ilmiah apapun. Bahkan iman memiliki kepastian jauh lebih kuat dari sains. 

Banyak orang berani menderita bahkan mati demi imannya, tetapi sedikit orang yang memilih menderita atau mati untuk mempertahankan temuan sains. Itulah sebabnya konflik antar agama kerap meluas dengan melibatkan para pengikut tokoh agama itu.

Umat Kristen percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, karena Allah yang benar yang mengatakannya. Sehingga dengan demikian dapat dipahami Alkitab adalah Firman Allah, karena Allah yang benar tidak mungkin berdusta. 

Jika pertanyaan lebih lanjut diutarakan, memang bisa saja ada jawaban dari mereka yang percaya Alkitab adalah Firman Allah, tapi jawaban itu bukan merupakan pembuktian. Namun, tidak berarti iman itu tidak memiliki kepastian meskipun pembuktiannya terbatas, atau tak memiliki pembuktian.

Orang Kristen beriman Alkitab adalah Firman Allah, karena itu orang Kristen menggali Alkitab untuk mengenal Allah lebih dalam, dan pengetahuan tentang Allah yang digali dari dalam Alkitab dipercaya sebagai Firman Allah karena anugerah Tuhan, atau karya Roh Kudus.

Terkait dengan penyataan Allah dalam Alkitab setidaknya ada dua kelompok. Pertama mereka yang percaya Allah memberikan data-data atau fakta-fakta dalam Alkitab. Kemudian orang percaya menggali data-data tersebut, dan berdasarkan data-data tersebut dibuatlah sebuah hipotesis atau teori.

Kelompok yang kedua mengatakan bahwa Allah bukan hanya menyatakan data-data atau fakta-fakta tentang Allah, tetapi juga Allah secara langsung menjelaskan tentang fakta-fakta itu. 

Ambil contoh, fakta Injil dipaparkan dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas. Kemudian kitab-kitab selanjutnya menjelaskan tentang fakta Injil itu.

Kedua pandangan tersebut hampir tak memiliki perbedaan, hanya saja pandangan kedua akan lebih rendah hati untuk tidak menjelaskan apa yang Alkitab tidak jelaskan. 

Sedang yang pertama akan selalu tergoda membuat hipotesis dari data-data yang dikumpulkan meski data-data Alkitab itu masih sangat sederhana. 

Ketika seseorang membangun sebuah hipotesis dari data yang sangat sederhana ini, maka pengetahuan itu bisa digolongkan pada pendapat bukan hasil rumusan teologi ilmiah. Setidaknya kita mengatakan hipotesis tidak dibangun berdasarkan metode teologi ilmiah.

Perdebatan yang terjadi biasanya bukan hanya pemahaman Alkitab yang terbatas, tetapi juga pemahaman peristiwa yang akan dikomentari juga terbatas. 

Umat Kristen di bumi Nusantara ini perlu belajar mendengar satu dengan yang lain. Mendengarkan keyakinan iman saudara-saudaranya yang berbeda secara arif. 

Mempromosikan keyakinan iman perlu dilakukan dengan cara-cara damai, seperti awal mulanya masuknya agama-agama di Indonesia. Karena iman mempunyai kepastian tapi tidak memiliki pembuktian. Kecuali Allah sendiri yang membuktikannya kepada setiap individu.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat