Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Teologi Dan Sains: Pengalaman Iman dan Pembuktian

 









Teologi (iman yang mencari pengetahuan) tidak bertentangan dengan sains. 


Namun, meski riset teologi berbeda dengan riset empiris yang memerlukan pembuktian. Keduanya bisa saja dipersandingkan, tapi bukan untuk mengklaim mana yang paling benar, tapi bisa dijadikan sebagai perbandingan untuk memperdalam sains atau pengetahuan agama-agama.



Pengalaman agama

Iman, atau keyakinan agama itu memiliki kepastian. Umat beragama menyakini apa yang diyakininya itu benar dalam pengalaman agama mereka. 

Pengalaman agama adalah sesuatu yang subyektif tapi biasanya mereka mengatakan pengalaman agama itu diklaim juga obyektif, mereka mengatakan pengalaman agama itu melampaui hal yang subyektif dan obyektif. Mungkin karena itu ada banyak orang yang berani mati karena mempertahankan iman mereka.


Iman memiliki kepastian namun tidak dapat dibuktikan. Iman bahwa Allah menyatakan diri kepada manusia yang secara sempurna dinyatakan dalam kehidupan Kristus, dan yang kemudian dicatat dalam Alkitab adalah sebuah pengetahuan yang pasti. 

Menjelaskan Keilahian Yesus adalah mungkin, karena Alkitab menjelaskannya. Tapi, pembuktian tentang kelihian Yesus tentu saja tidak mungkin, kecuali Allah sendiri yang membuktikannya.

Mereka yang memegang iman terhadap Alkitab adalah Firman Allah tak pernah goyah di serang dengan cara pembuktian ilmiah apapun. Bahkan iman memiliki kepastian jauh lebih kuat dari sains. 

Banyak orang berani menderita bahkan mati demi imannya, tetapi sedikit orang yang memilih menderita atau mati untuk mempertahankan temuan sains. Itulah sebabnya konflik antar agama kerap meluas dengan melibatkan para pengikut tokoh agama itu.

Umat Kristen percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, karena Allah yang benar yang mengatakannya. Sehingga dengan demikian dapat dipahami Alkitab adalah Firman Allah, karena Allah yang benar tidak mungkin berdusta. 

Jika pertanyaan lebih lanjut diutarakan, memang bisa saja ada jawaban dari mereka yang percaya Alkitab adalah Firman Allah, tapi jawaban itu bukan merupakan pembuktian. Namun, tidak berarti iman itu tidak memiliki kepastian meskipun pembuktiannya terbatas, atau tak memiliki pembuktian.

Orang Kristen beriman Alkitab adalah Firman Allah, karena itu orang Kristen menggali Alkitab untuk mengenal Allah lebih dalam, dan pengetahuan tentang Allah yang digali dari dalam Alkitab dipercaya sebagai Firman Allah karena anugerah Tuhan, atau karya Roh Kudus.

Terkait dengan penyataan Allah dalam Alkitab setidaknya ada dua kelompok. Pertama mereka yang percaya Allah memberikan data-data atau fakta-fakta dalam Alkitab. Kemudian orang percaya menggali data-data tersebut, dan berdasarkan data-data tersebut dibuatlah sebuah hipotesis atau teori.

Kelompok yang kedua mengatakan bahwa Allah bukan hanya menyatakan data-data atau fakta-fakta tentang Allah, tetapi juga Allah secara langsung menjelaskan tentang fakta-fakta itu. 

Ambil contoh, fakta Injil dipaparkan dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas. Kemudian kitab-kitab selanjutnya menjelaskan tentang fakta Injil itu.

Kedua pandangan tersebut hampir tak memiliki perbedaan, hanya saja pandangan kedua akan lebih rendah hati untuk tidak menjelaskan apa yang Alkitab tidak jelaskan. 

Sedang yang pertama akan selalu tergoda membuat hipotesis dari data-data yang dikumpulkan meski data-data Alkitab itu masih sangat sederhana. 

Ketika seseorang membangun sebuah hipotesis dari data yang sangat sederhana ini, maka pengetahuan itu bisa digolongkan pada pendapat bukan hasil rumusan teologi ilmiah. Setidaknya kita mengatakan hipotesis tidak dibangun berdasarkan metode teologi ilmiah.

Perdebatan yang terjadi biasanya bukan hanya pemahaman Alkitab yang terbatas, tetapi juga pemahaman peristiwa yang akan dikomentari juga terbatas. 

Umat Kristen di bumi Nusantara ini perlu belajar mendengar satu dengan yang lain. Mendengarkan keyakinan iman saudara-saudaranya yang berbeda secara arif. 

Mempromosikan keyakinan iman perlu dilakukan dengan cara-cara damai, seperti awal mulanya masuknya agama-agama di Indonesia. Karena iman mempunyai kepastian tapi tidak memiliki pembuktian. Kecuali Allah sendiri yang membuktikannya kepada setiap individu.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat


No comments:

Post a Comment