Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Radikalisme Eskatologis







Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja diantara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu , kami memberi peringatan ini juga kepada kamu: Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (II Tesalonika 3: 6-10)

 

 

Radikalisme Eskatologis di Tesalonika

 

Radikalisme Eskatologis menurut kitab II Tesalonika adalah mereka yang berpegang pada keyakinan bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali berada pada waktu yang mereka ketahui dengan pasti.

 

Kemudian, dengan dasar waktu yang pasti tentang kedatangan Yesus itu, kaum radikalisme esaktologis tidak lagi bekerja dan hanya menantikan kedatangan Yesus. Kemalasan kaum radikalisme eskatologis ini kemudian menjadi beban bagi umat Allah di Tesalonika.

 

Melihat ketidaktertiban kaum radikalisme eskatologi ini, maka Paulus menasihati jemaat Tesalonika untuk menjaga jarak sosial agar tidak tertular virus kemalasan yang ditebarkan mereka.

 

Rasul Paulus menjelaskan dalam II Tesalonika bahwa akhir zaman adalah suatu periode yang harus dilewati jemaat Tuhan. “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa” (II Tesalonika 2:3).

 

 

Teladan Paulus menghadapi radikalisme eskatologis

 

Pada waktu melayani di Tesalonika Paulus menjelaskan bahwa dia bekerja siang dan malam. Paulus “tidak makan roti dengan percuma.”Paulus kerap bekerja untuk mencukupkan kebutuhan pelayanannya, meskipun sebenarnya sebagai pelayan Injil  Paulus berhak mendapatkan dukungan dari jemaat Tesalonika.

 

Paulus yang memiliki banyak ketrampilan. Kerap menggunakan keterampilannya, antara lain sebagai pembuat tenda untuk mencukupkan dirinya. Itu dilakukan agar Paulus dapat melayani, dan tidak terhalang dengan lemahnya dukungan jemaat yang dilayani, meskipun Paulus berhak mendapatkan dukungan dari jemaat yang dilayani.

 

Kehidupan Paulus merupakan teladan yang berbicara kuat. Paulus melayani bukan untuk memperkaya diri, tetapi Paulus telah memperkaya jemaat. Sebuah kemurahan Allah yang tidak menuntut apapun mengalir dari Allah dalam kehidupan Paulus, dan kemudian kemurahan itu mengalir kepada setiap orang yang dilayani.

 

Nasihat Paulus terhadap jemaat di Tesalonika sangat berotoritas, karena memang hidup Paulus sesuai kebenaran. Selarasnya antara kata dan perbuatan di demonstrasikan dalam kehidupan Paulus, karena itu nasihat Paulus sangat berotoritas, bukan karena statusnya sebagai pemimpin jemaat Tesalonika.

 

Mereka yang memerintah orang lain untuk hidup menjadi teladan, perlu memeriksa diri apakah dirinya telah menjadi teladan. Karena menjadi teladan adalah tuntutan terhadap diri kita sendiri, bukan tuntutan kepada orang lain. Mereka yang telah mentaatti Allah akan memiliki otoritas ketika menasihati orang lain untuk mentaati Allah.  

 

Menjadi Teladan dengan Menjaga jarak Sosial

 

Menghadapi kaum radikalisme eskatologis, jemaat di Tesalonika perlu berani menasihati ketidaktertiban kaum itu. Tapi, jika nasihat itu diabaikan, maka perlu ada sikap tegas, yaitu dengan menjaga jarak fisik.

 

Jemaat Tesalonika tidak perlu mengikuti kelakuan kaum radikalisme eskatologis untuk membawa mereka ke jalan yang benar. Sebaliknya perlu menjaga jarak sosial agar tidak tertular virus radikalisme esaktologis.

 

Pada sisi lain, jemaat Tesalonika perlu bekerja keras untuk menunjukkan teladan hidup tertib. Mereka yang hidup tertib akan menikmati hidup dalam Tuhan. Sebaliknya mereka yang tidak  hidup tertib tidak akan mengalami damai sejahtera Allah.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 

 

 https://www.binsarhutabarat.com/2020/10/radikalisme-eskatologis.html

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment