Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Korupsi Musuh Nasionalisme




  

 Korupsi yang menjadi musuh nasionalisme ternyata masih saja terus berlanjut. Regenerasi koruptor bergerak lebih cepat daripada regenerasi nasionalisme Indonesia.

 

“Siapakah yang dapat membelenggu suatu bangsa jika semangat bangsa itu tidak sudi dibelenggu? Siapakah yang dapat membinasakan suatu bangsa jika semangat bangsa itu tidak sudi dibinasakan? (Sarojini Naidu)

 

Kata-kata mutiara Sarojini Naidu (tokoh India) di atas,   juga didengungkan Soekarno saat pergerakan kemerdekaan, kata-kata mutiara itu memberikan harapan bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia pada waktu itu untuk terus berjuang membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.

 

Hiruk pikuk peringatan kemerdekaan  membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi menjadi negara terjajah secara politis. Namun, Indonesia kini dihadapkan pada fakta ironis. terkuaknya kasus-kasus mega korupsi yang penanganannya belum juga menjanjikan Indonesia bebas dari korupsi, apalagi dengan makin meredupnya pamor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kecuali sebatas mengungkapkan fakta terjadinya demoralisasi pejabat publik.

Indonesia sedang mengalami penjajahan dalam bentuk baru. Sebuah penjajahan yang tidak kalah mengerikannya dibandingkan penjajahan secara politik, yaitu merajalela para koruptor yangberselingkunh dengan oknum penguasa.

 

Regenerasi koruptor mustahil terjadi di negeri ini apabila nasionalisme itu tertanam kuat pada sanubarinya pejabat publik di negeri ini. Karena itu, semangat nasionalisme rakya negeri ini harus terus digelorakan untuk memerangi korupsi. 

Semangat nasionalisme yang kuat itu, akan memberikan harapan bagi setiap orang untuk terus berjuang melenyapkan penjajahan korupsi dari bumi Indonesia. Tentu saja jika nasionalisme yang didengungkan itu bukan sekadar retorika yang miskin implementasi.

 

Nasionalisme Indonesia

Masa lalu mengajarkan, mengapa kita ada pada masa kini. Sedang  apa yang kita cita-citakan  menolong kita untuk bijak bertindak pada masa kini. Dengan memahami keduanya, indonesia dapat membuat proyeksi untuk menggapai cita-cita masyarakat adil dan makmur. 

Indonesia akan kehilangan masa depan, jika melupakan sejarah. Akibatnya, Indonesia sejahtera hanya akan menjadi mimpi yang tak pernah mewujud. 

Kita tentu setuju dengan apa yang dikatakan T. B Simatupang, nasionalisme Indonesia merupakan reaksi terhadap kolonialisme Barat. Kolonialisme yang terjadi di Indonesia pada waktu lampau mencakup dominasi politik, ekonomi, dan penetrasi kebudayaan. 

Roeslan Abdulgani, senada dengan Simatupang berujar, “Nasionalisme Indonesia merupakan reaksi terhadap kolonialisme Belanda dan feodalisme pribumi. Nasionalisme Indonesia dikaruniai semangat militan dan anti-kolonialisme serta bersifat demokratis, sosialis, humanistis dan religius.”

Semangat nasionalisme itulah yang mampu mengenyahkan penjajah Belanda, yang  dilengkapi dengan peralatan perang modern.

Semangat nasionalisme itu harus terus digelorakan, khususnya dalam memerangi korupsi yang makin digdaya di negeri ini. 

Penjajahan korupsi tidak kalah kejamnya jika dibandingkan dengan penjajahan secara politik. Korupsi merupakan musuh bersama negeri ini yang bisa menghalangi terwujudnya tujuan kemerdekaan Indonesia, yakni masyarakat adil dan makmur. 

Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah musuh nasionalisme Indonesia, yang menjadi ancaman bagi integrasi bangsa ini.

Pejabat publik yang tersangkut kasus-kasus korupsi meski kerap mendengungkan semangat nasionalismenya sesungguhnya adalah musuh nasionalisme itu sendiri. 

Samuel Johnson, yang terkenal dengan sebutan singa literatur Inggris “the Lion of English British Literature”, pernah mengatakan,“nasionalisme adalah tempat perlindungan terakhir bagi bajingan-bajingan di dalam politik.” 

Orang memakai nasionalisme untuk menopengi diri, tetapi hatinya tidak mencintai rakyat, itu adalah musuh dalam selimut, nasionalisme yang sekadar retorika adalah musuh nasionalisme 

Korupsi terus menggeliat di negeri ini, karena hukuman terhadap mereka yang terlibat kasus-kasus korupsi ternyata tidak menimbulkan efek jera, apalagi banyak dari mereka yang bisa menyulap penjara menjadi hotel berbintang, atau keluar penjara tanpa pengawalan, baik dengan alasan menghadiri acara keluarga, atau untuk pelesiran

 

Retorika nasionalisme yang miskin implementasi tampak bukan hanya tampak pada marakanya KKN, tetapi juga pada pembilahan masyarakat berdasarkan suku, budaya dan agama. 

KKN  bukan hanya akan mengakibatkan terjadinya erosi nasionalisme, tetapi lebih parah lagi bisa mengarah pada kematian identitas bangsa Indonesia yang fenomenanya terlihat pada disintegrasi, yang meledak dalam konflik antar suku, agama dan kelompok di negeri ini.


Bersatu perangi korupsi

Janji sebagai bangsa yang satu mestinya terus dipegang erat, meski kita tahu negeri ini telah amat menderita oleh gelombang krisis yang datang silih berganti. 

Apabila janji sebagai bangsa itu kemudian diwariskan pada  generasi penerus bangsa ini, kekuatiran munculnya separatisme yang biasanya mudah menjalar di kalangan kaum muda,sebagaimana terjadi di berbagai daerah, tidak perlu terjadi.

 

keprihatinan Sanjit Bunker  Roy, pendiri Barefoot college, simbol masyarakat miskin India, dan telah membantu ribuan kaum marginal untuk menggapai hidup yang lebih baik, harus kita camkan,

 “bagaimana mungkin seorang yang berpendidikan tinggi bisa menjadi orang yang congkak? Orang yang berpendidikan tinggi yang mampu meraih suatu pendidikan yang baik sering kali tak mau berbagi dengan orang orang disekitar mereka.” 

Realitas tersebut seharusnya tidak boleh ada di hati setiap orang Indonesia, apalagi seorang pejabat publik, itu tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang terkenal dengan semboyan gotong royongnya.

 

Kasih dan Benci

Empedokles, filsuf Grika menerangkan, hanya dua unsur yang merubah seluruh dunia ini. Unsur pertama mempersatukan, unsur kedua menceraiberaikan. Unsur yang mempersatukan itu unsur kasih, unsur yang menceraiberaikan itu unsur benci.

Konflik yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini juga mesti dilihat dari keterbatasan manusia Indonesia. Memang konflik itu telah menggoreskan luka, dan tak mungkin kembali seperti sedia kala. 

Luka yang disembuhkan tetap menyisakan bekas luka, tapi kesadaran akan keterbatasan manusia membuat kita mampu untuk saling memaafkan. Karena tak ada manusia yang luput dari salah.

 Kekuatan pengampunan karena kasih yang murni, memang tidak akan melenyapkan bekas luka, namun, kekuatan pengampunan mampu menyembuhkan luka, dan memampukan yang terluka melihat sisi positif dari kejadian tersebut, tanpa perlu menghapuskan realitas yang pernah terjadi. Sebaliknya, itu menjadi pengalaman berharga untuk dapat hidup bersama lebih baik, mengalami kedewasaan sebagai warga bangsa.

 

Jika, rakyat di negeri ini dahulu rela menyerahkan jiwa raga mereka untuk kemerdekaan bangsa ini, sepatutnyalah seluruh rakyat Indonesia bersatu untuk memerangi korupsi. Makin lebarnya jurang yang kaya dan miskin, adalah bukti adanya ketidak adilan, dan korupsi salah satu biang keladinya.

Semangat yang kuat memerangi korupsi adalah tanda semangat nasionalisme yang kuat. Sebaliknya, maraknya korupsi di negeri menunjukkan bahwa nasionalisme negeri ini kian tergerus, paling tidak nasionalisme yang kerap didengungkan itu hanyalah retorika belaka.

 

Binsar A. Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2020/12/korupsi-musuh-nasionalisme.html

No comments:

Post a Comment