Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Pancasila Rumah Bersama Kita

 TEMPAT BELAJAR MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!





 

Konflik agama sesungguhnya bukan problema baru, itu telah ada sejak berabad-abad yang lampau.

Dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih, benturan antar peradaban itu menjadi lebih mungkin tersebar melintasi sekat-sekat apapun. 

Globalisasi juga telah mengakibatkan seluruh bagian dunia ini menjadi heterogen, setidaknya heterogen dalam arus informasi yang melintasi sekat-sekat ruang dan waktu.

Perjumpaan antar agama yang beragam dan berbeda itu oleh kemajuan tekhnologi seperti kata Samuel Huntington, acap kali menimbulkan benturan peradaban. Kekerasan agama yang terjadi di seantero dunia ini dapat diakses di seantero dunia ini.

 

Karena itu dapat dipahami, mengapa realitas benturan antar agama itu sama sekali tidak meneguhkan apa yang dikatakan John Rawls, bahwa agama tidak dapat menerima fakta kemajemukan (fact of pluralism). 

Ada banyak bukti bahwa agama telah memberikan kontribusi positifnya dalam perjuangan perdamaian, keadilan, toleransi dan demokrasi di seantero dunia ini, sebagaimana juga pernah dikatakan R. Scott Appleby dan Jose Cassanova.


Eksklusivisme yang menganggap bahwa kebenaran tidak ada pada agama-agama lain (absolutis), menjadi hakim terhadap agama-agama lain,  dan memosisikan diri sebagai Tuhan, adalah sebab yang menghadirkan tampilnya paras garang agama, yang tidak jarang melahirkan kekejian yang paling mengerikan dalam konflik antar peradaban. 

Benturan antar peradaban mestinya tak perlu terjadi, apalagi untuk Indonesia yang memiliki Pancasila sebagai rumah bersama agama, menjadi payung bagi identitas agama-agama yang beragam di negeri ini. 

Radikalisme agama yang kini marak di negeri ini sesungguhnya sama saja dengan menyangkali Pancasila sebagai rumah bersama, dan berpotensi mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa. 

Para pendiri bangsa ini telah sepakat, negara, bangsa dan masyarakat Indonesia yang akan dibangun adalah negara bangsa dan masyarakat Pancasila. 

Karena itu mereka menetapkan nilai-nilai Pancasila harus menjiwai batang tubuh dari UUD 45 yang menjadi dasar bagi kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Seperti dikatakan Eka Darmaputera, “Pancasila merupakan nilai-nilai yang disepakati bersama (values consensus).”

 Pancasila bukan sesuatu yang diberikan (given), tetapi itu adalah sebuah pencapaian. 

Soekarno mengatakan bahwa Pancasila bukanlah ide baru, tapi digali dari bumi Indonesia dan merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan rakyat Indonesia yang beraneka ragam.  

Karena itu Pancasila merupakan dasar filosofis yang masih perlu terus digali seiring dengan perkembangan terbaru saat ini untuk menghadapi permasalahan-permasalahan relevan saat ini.

Sayangnya, meski Pancasila telah ditetapkan sebagai ideologi negara, perlawanan untuk menggantikannya dengan ideologi lain masih terus berlangsung sepanjang sejarah NKRI. 

Penolakan langsung terhadap Pancasila bukan hanya terjadi secara terbuka, tetapi juga secara terselubung. 

Pergumulan ideologi itu berjalan terutama melalui proses transplantasi ideologi masing-masing itu kedalam Pancasila. Pancasila ditafsirkan melalui berbagai macam aliran ideologi. 

Padahal, membiarkan gerakan-gerakan yang merongrong Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sama sekali tidak beralasan, wajar saja jika rakyat di negeri ini mengalami kerisauan dengan ketika Pancasila makin dipinggirkan.

Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya apabila Pancasila tidak lagi menjadi nilai-nilai bersama, yang menjadi landasan etik dan moral bangsa Indonesia, setiap orang memiliki landasannya sendiri-sendiri. 

Pada kondisi ini dapat dikatakan, Indonesia sedang menghadapi bahaya disintegrasi, masing-masing individu, kelompok mengambil jalannya sendiri-sendiri, bukan jalan pancasila. 

Hal itu mengakibatkan kaburnya norma-norma apa yang baik dan yang jahat, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang benar dan apa yang salah, bisa disebut, telah terjadi krisis moral.


Meningkatnya intoleransi agama pada akhir-akhir ini sesungguhnya tidak memiliki akar sejarah dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sebaliknya bisa jadi ini  mengindikasikan bahwa kecintaan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai nilai-nilai bersama masyarakat Indonesia tampak kian meredup, jika tidak ingin dikatakan bahwa telah terjadi penghianatan terhadap nilai-nilai Pancasila yang menjadi konsensus bersama negeri ini.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://bit.ly/3cDiTW5


https://www.binsarhutabarat.com/2020/12/pancasila-rumah-bersama-kita.html

 

Untuk Mendapatkan Artikel Dr. Binsar Antoni Hutabarat lainnya Klik. LINK ini.


No comments:

Post a Comment