Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Melampaui Calvinisme dan Armenianisme







 

Gereja di Indonesia perlu bergerak maju mengembangkan pemikiran-pemikiran teologi kontekstual yang melampaui Calvinisme dan Armenianisme


 Menyoal Calvinisme dan Armenianisme: Kristen Nusantara

 

 

Teologi Calvinisme dan Armenianisme, demikian juga konflik antara kedua kelompok itu merupakan sejarah masa lampau. 

Gereja di Indonesia perlu mengembangkan teologi yang melampaui Calvinisme dan Armenianisme bukan hanya sekadar mencari titik temu dari kedua pemikiran teologi itu untuk mendamaikannya, tetapi juga bergerak melampaui pemikiran Calvinisme dan Armenianisme dengan memerhatikan konteks gereja dan agama-agama di Indonesia.

 

Teologi tidak pernah lahir di ruang hampa, teologi merupakan jawaban terhadap persoalan-persoalan yang terikat dengan konteks pelayanan gereja. Jadi Calvinisme dan Armenianisme adalah pemikiran teologi yang lahir pada zaman dan konteks yang berbeda dengan gerja-gereja di Indonesia. Gereja-gereja di Indonesia perlu mengembangkan teologi yang cocok dengan konteks Indonesia. Sebuah teologi yang menjadi dasar kehadiran Kristen di bumi nusantara.

 

Terkait dengan sintesis antara Calvinisme dan Armenianisme kita bisa mendamaikannya dalam teologi anugerah atau kasih karunia. Kedua teologi itu memiliki pijakan dalam kasih karunia Allah. Jadi dengan mencari titik temu antara kedua aliran itu, kedua kelompok itu memiliki pijakan bersama dalam teologi kasih karunia, tapi bisa saja terus mempertajam pemahaman masing-masing aliran dengan mencoba memahami pemikiran tersebut dengan berangkat dari pergumulan masing-masing aliran, tanpa harus mewarisi konflik masa lampau antar kedua kelompok itu.

 

Teologi ilmiah terikat dengan keterbatasan manusia, sehingga tidak ada pemikiran teologi yang setara dengan Alkitab. Kedua pemikiran itu, Calvinisme dan Armenianisme perlu  rendah hati mengakui realitas itu. Klaim doktrin gereja atau aliran tertentu absolud perlu ditinggalkan

 

Kelompok Calvinisme meyakini bahwa anugerah keselamatan diterima oleh orang percaya karena pilihan Tuhan. Mereka percaya bahwa Korban Yesus Kristus di kayu salib mampu menyelamatkan semua manusia berdosa, karena Yesus adalah Allah yang tak terbatas. Namun, menurut Calvinisme, karya Kristus di kayu salib hanya efektif bagi orang pilihan Tuhan.

 

Selanjutnya Calvinisme juga menyakini bahwa keselamatan orang percaya itu berada dalam tangan Tuhan yang memilih orang percaya. Karena keselamatan bergantung pada Tuhan, maka selanjutnya mereka mengatakan tidak ada yang bisa mengambil orang percaya dari tangan keselamatan Allah, penderitaan penganiayaan bahkan maut sekalipun. Tapi, pemilihan Tuhan ini adalah suatu rahasia. Kaum Calivinisme tidak dapat menjelaskan mengapa Tuhan memilih mereka, yang mereka yakini itu adalah karena kasih karunia Tuhan. Semuanya Karena Anugerah Tuhan.

 

Sedangkan Armenianisme meyakini bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan dan menjadi efektif dalam pilihan manusia. Karya Kristus di kayu salib hanya efektif bagi mereka yang memilih untuk percaya, atau menerima anugerah keselamatan Tuhan. Berbeda dengan Calvinisme yang mengatakan anugerah tak dapat di tolak.

 

Selanjutnya Armenianisme mengatakan, orang yang percaya kepada korban Kristus di kayu salib harus merespon dengan ketaatan kepada Tuhan, hidup sesuai Firman Tuhan. Apabila orang percaya Murtad, atau tidak setia kepada Yesus, maka keselamatan akan hilang. Jadi, keselamatan ditentukan pilihan dan kesetiaan manusia.

 

Menariknya, Armenianisme juga percaya bahwa ketaatan dan kesetiaan orang percaya kepada Yesus adalah anugerah Tuhan. Hanya Roh Kudus yang dapat memampukan orang percaya hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Demikian juga, hanya Allah yang dapat menolong orang percaya untuk tetap setia kepada Tuhan sampai akhir.

 

Kedua pandangan tersebut, Calvinisme dan Armenianisme tampak memiliki titik temu dalam teologi anugerah atau kasih karunia. Calvinisme percaya pilihan Tuhan adalah anugerah Tuhan. Demikian juga Armenianisme percaya ketaatan dan kesetiaan orang percaya adalah anugerah Tuhan.

 

Saya mencoba mendamaikan kedua pandangan itu dengan melihat sejarah keselamatan. Sejak awal manusia Jatuh keadalam dosa penebusan dosa adalah karena perjanjian anugerah Tuhan. Tuhan berjanji bahwa keturunan perempuan akan menginjak kepala ular atau iblis, ”keturunanya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkann tumitnya” (Kejadian 3:15), ayat ini mengacu kepada kedatangan Yesus sebagai penebus.

 

Perjanjian anugerah Allah juga dinyatakan dalam pemilihan Abraham. Paulus menjelaskan “ Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya.Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang:” dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus.

 

Keturunan Yakub kemudian pergi ke Mesir, dan setelah Raja yang memimpin Mesir tidak lagi mengingat Jasa Yusuf, orang Israel dijadikan budak di Mesir. Allah kemudian membebaskan Israel untuk masuk ketanah perjanjian. Dalam perjalanan di padang gurun Tuhan memberikan Taurat melalui Musa.

 

Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji, tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih KaruniaNya kepada Abraham. Paulus mengatakan, Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu-dan ia disampaikan dengan perantaraan Malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara.

 

Keselamatan diberikan karena perjanjian anugerah Allah, rencana transformasi manusia berdosa yang dijanjikan Bapa itu digenapi pada kematian Yesus di salib. Pada masa Israel Allah memberikan Taurat karena pelanggaran-pelanggaran Israel. Taurat diberikan dengan cara luar biasa melalui Musa, taurat diberikan agar Israel sebagai umat pilihan Allah hidup memuliakan Tuhan. Pada waktu itu Israel belum melihat Firman yang hidup, yaitu Yesus sebagai penyataan Allah yang sempurna. Taurat seperti peta yang menolong orang Israel bagaimana cara hidup yang memuliakan Tuhan.

 

Yesus mengatakan Taurat tetap berlaku, kematian Kristus di salib menebus manusia berdosa yang tidak bisa memenuhi taurat. Namun, orang yang percaya harus hidup dalam ketaatan. Gambaran manusia yang taat secara sempurna adalah Yesus Kristus yang telah menebus dosa manusia di salib, dan sekaligus memberikan kuasa Allah untuk memampukan manusia hidup seperti Kristus.

 

Dengan demikian kita dapat mendamaikan bahwa Allah yang memilih orang percaya telah memindahkan orang percaya dari budak dosa menjadi budak Allah, budak kebenaran. Orang Armenian dan Calvinisme sama-sama percaya bahwa ketaatan manusia kepada Allah adalah karena anugerah Tuhan.

 

Semua orang yang mengakui percaya kepada Allah, baik percaya karena pilihan Tuhan, atau percaya karena memilih untuk percaya kepada Pengorbanan Kristus di salib  sama-sama harus hidup dalam ketaatan kepada Allah.

 

Doktrin harus mengarahkan orang percaya untuk hidup dalam ketaatan pada Tuhan. Doktrin harus mengarahkan orang percaya kepada komitmen untuk mengasihi Tuhan dan komitmen kepada sesama. Doktrin yang tidak mengarahkan pada ketaatan tidak banyak gunanya. Yakobus berkata, Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan,” aku akan menjawab dia: Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan dan aku akan menunjukkan kepadaku imanku dari perbuatan-perbuatanku.”Iman tanpa perbuatan bukanlah iman, tetapi sekadar rumusan doktrin hasil usaha manusia.

 

Perdebatan Calvinisme dan Armenianisme akan berhenti dan tidak saling menyesatkan, apalagi saling menghancurkan jika keduanya mengacu kepada pemahaman yang sama yaitu, hidup dan keselamatan orang percaya karena anugerah Tuhan.

 

Doktrin sehebat apapun tanpa karya Roh Kudus tidak akan membawa seseorang kepada iman. Hanya karena anugerah Tuhan doktrin dapat mengarahkan orang percaya untuk hidup dalam ketaatan. Demikian juga ketaatan dan kesetiaan kepada Allah hanya mungkin karena anugerah Tuhan.

 

Calvinisme dan Armenianisme sepatutnya berlumba-lumba untuk hidup saling mengisihi, saling memahami, dan saling berbagi untuk kebaikan bersama. Kesatuan Calvinisme dan Armenianisme harus diperluas dengan kesatuan gereja, karena gereja itu esa.

 

Teologi kasih karunia bukan hanya bisa mendamaikan Calvinisme dan Armenianisme. Dalam konteks Indonesia Kaum Calvinisme dan Armenianisme perlu memperluas komitmen mengasihi sesama kepada semua manusia indonesia. Indonesia yang beragam adalah ciptaan Tuhan. Sebagai sesama manusia, yang diam di bumi Indonesia Calvinisme dan Armenianis sama-sama bertanggungjawab untuk membangun Indonesia yang sejahtera.

 

Calvinisme dan Armenianisme perlu mencari titik temu bersama untuk bekerjasama, dan kemudian saling mengembangkan pemikiran teologinya, secara khusus untuk menjawab persoalan-persoalan di indonesia.  

 

Teologi kasih karunia bukan hanya mampu mendamaikan Calvinisme dan Armenianisme, tetapi juga banyak pemikiran teologi lainnya. Bahkan dalam konteks Indonesia teologi Kristen harus bisa memberikan kontribusinya bagi pembangunan negara kesatuan republik Indonesia. Sebuah teologi yang mendasari kehadiran Kristen di bumi Nusantara, atau yang saya sebut Kristen Nusantara.

 

Untuk mengembangkan teologi kontekstual ini sekolah-sekolah tinggi teologi perlu memainkan perannya. Sekolah-sekolah teologi perlu mengembangkan teologi akademis. Teologi akademis yang selalu mengembangkan teologi-teologi warisan gereja yang dijaga ketat di dalam tata gereja. Teologi akademis perlu berani merevisi teologi gereja yang merupakan warisan gereja.

 

Para akademisi tentu saja perlu belajar doktrin gereja, tetapi bukan menjadi pasukan yang disiapkan sekadar menjaga kelestarian doktrin gereja. Untuk sekolah-sekolah teologi yang didirikan gereja, tugas ini tidak mudah. Apalagi jika gereja yang mendirikan menjadi penyandang dana tunggal.

 

Sekolah teologi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia. Karena itu tidak bisa mengimport begitu saja pemikiran Barat. Pengenalan konteks Indonesia dengan segala keragamannya tidak boleh diabaikan. Teologi misi kontekstual harus terus menerus dikembangkan. Teologi itu harus terus berkembang demikian juga penerapannya dalam pelayanan.

 

Pdt. Dr. Binsar Antoni Hutabart, M.Th.

 https://www.binsarhutabarat.com/2021/01/melampaui-calvinisme-dan-armenianisme.html


 

 

No comments:

Post a Comment