facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Wajah Garang Absolutisme Sekuler

Wajah Garang Absolutisme Sekuler


 





Pemerintahan absolutisme bisa didasarkan pada dasar apapun, bergantung pada pembenaran sang penguasa yang absolutis itu.

 

Absolutisme yang didasarkan agama, atau agamaisasi politik, juga absolutisme agama sekuler yang menyebut diri anti Tuhan, telah mendiskriminasikan mereka yang berbeda.

 

Keragaman pada realitasnya lebih sering dianggap sebagai sebuah malapetaka dibandingkan berkat, itu terlihat pada greget usaha-usaha menyeragamkan segala sesuatu.

 

Kabar dari negeri Paman Sam

Salah satu kabar anyar datang dari negeri Paman Sam. Kabar kemenangan Joe Biden di Amerika Serikat langsung saja disambut gegap gempita, secara khusus Kaum Gay, Lesbian, Biseksual dan Transjender (LGBT).

 

Usaha memaksakan pengakuan LGBT terhadap kelompok-kelompok dengan memakai tangan negara terlihat jelas pada proklamasi kemenangan Biden yang memberikan janji manis bagi kaum LGBT.

 

Di indonesia perjuangan untuk memakai tangan negara memaksakan kelompok agama menerima nilai-nilai LGBT salah satunya dikomandai oleh MPH PGI ( Persekutuan Gereja-gereja di indonesia) yang menghimbau pengakuan negara terhadap LGBT.

 

Setelah masa Donald Trump yang sempat mengekang kebebasan LGBT, kemenangan Biden bisa dianggap peguasaan kembali nilai-nilai LGBT atas tatanan publik Amerika Serikat, bahkan absolutisme itu tampaknya lebih garang, sehingga menimbulkan reaksi dari sentero negara-negara di dunia.

 

Setidaknya absolutisme yang menembus nilai-nilai eksklusif keluarga dan agama-agama. Secara kasat mata itu terlihat dengan pemutusan rantai-rantai yang dianggap diskriminasi yang diperjuangkan kaum LGBT. Seperti pemaksaan penerimaan pernikahan sejenis, legalisasi adopsi anak untuk pasangan LGBT, operasi ganti kelamin, dll.

Agama-agama dipaksakan menerima nilai-nilai ekslusif LGBT,  Menolak pengakuan eksklusif itu bisa membawa pemimpin-pemimpin agama mendekam dalam penjara.

 

Tidak cukup sampai disitu, dokter-dokter juga terancam mendekam dalam penjara jika mereka menolak permintaan LGBT untuk melakukan operasi ganti kelamin.

 

Pendeknya, semua yang menjadi keinginan LGBT yang bertentangan dengan kelompok-kelompok agama, maka dengan kemenangan Biden, LGBT dapat memaksakan kehendaknya kepada siapapun, dan jika terjadi penolakan, kaum LGBT berhak mengirim para pembangkang itu kedalam jeruji besi. Semua itu terbaca sebagai wajah garang absolutisme sekuler LGBT.

 

Terdengar kabar bahwa pada bulan Juni, pada bulan kebanggaan LGBT, seluruh kedutaan Amerika Serikat harus mengibarkan bendera LGBT. Kebenaran kabar itu kita akan saksikan pada bulan Juni tahun ini.

 

Semua data-data di atas menunjukkan bahwa LGBT telah menjadi agama dalam sebuah negara sekuler seperti Amerika Serikat. LGBT menjadi nilai-nilai agama sekuler, dan agama-agama non sekuler terdiskriminasikan.

 

Kepongahan absolutisme sekuler

Absolutisme negara sekuler LGBT menjadi menakutkan bagi banyak negara dimana nilai-nilai agama masih begitu melekat dalam kehidupan masyarakat sebuah negara. Karena itu reaksi dari berbagai penjuru dunia segera merebak.

 

Kabar sukses LGBT yang menjadi dasar nilai bagi negara sekuler yang mendiskriminasikan agama-agama non-sekuler langsung saja disambut reaksi masyarakat agama di seluruh dunia.

 

Dari kelompok Kristen tidak sedikit yang mendengungkan bahwa akhir zaman segera datang. Pemerintahan yang mendiskriminasikan agama diindentifikasikan sebagai kehadiran kedurhakaan.

 

Reaksi kelompok-kelompok agama itu sesungguhnya dapat dimengerti, apalagi pada tempat-tempat khusus di Amereka Serikat telah tersiar kabar penolakan kitab suci agama tertentu yang bukan hanya menolak LGBT, tetapi juga menolak kebebasan seksual yang dianggap kelompok LGBT sebagai hak-hak azasi manusia.

 

Jika pada waktu lampau kita kerap mendengar negara absolutis mendasarkan pembenarannya dari agama, maka sekarang kita sedang kembali mendengar kepongahan absolutisme sekuler.

 

Dengan demikian jelaslah bahwa absolutisme dalam bentuk apapun akan melahirkan reaksi keras dari mereka yang terdiskriminasikan. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan terus terjebak dalam arus balas dendam untuk saling mendiskriminasikan?

 

Bagaimana dengan indonesia?

Kita tentu setuju bahwa diskriminasi atas dasar apapun tidak adil, dan menghina martabat kemanusiaan. Tapi, diskriminasi yang dilawan dengan mendeskriminasikan kembali lawan-lawan politik seperti Amerika Serikat berakibat tragis, yakni penolakan terhadap keragaman yang kemudian menghadirkan pemaksaan keseragaman.

 

Persoalan LGBT menjadi tidak mudah ketika nilai-nilai eksklusif LGBT dipaksakan menjadi nilai-nilai publik. Sama hal nya ketika nilai-nilai agama yang eksklusif dipaksakan menjadi nilai-nilai publik. Itulah sebabnya pada awal hadirnya peraturan daerah bernuansa agama ada prediksi bahwa masa depan Indonesia akan dibanjiri paham ateisme yang gemas melihat wajah garang radikalisme agama.

 

Pada dasarnya semua absolutisme, baik yang didasarkan agama, maupun yang didasarkan pada nilai-nilai sekuler yang anti agama, sama saja akan mendiskriminasikan mereka yang berbeda.

 

Aboslutisme doktrin denominasi gereja, atau kelompok agama tertentu telah terbukti mendiskriminasikan kelompok yang berbeda. Indonesia menjadi salah satu negara yang kenyang dengan pengalaman absolutisme yang didasarkan agama, seperti pada kehadiran peraturan daerah yang didasarkan agama, yang mengatur kehidupan individu, keluarga dan agama yang sejatinya menjadi urusan privat.

 

Gereja-gereja di indonesia perlu belajar menerima keragaman, dan tidak perlu memaksakan keseragaman atau doktrin denominasi mereka. Demikian juga agama-agama tidak perlu memaksakan niali-nilai eksklusif agama itu menjadi nilai-nilai publik yang dapat mendiskriminasikan yang berbeda. Pancasila perlu menjadi dasar semua individu, kelompok suku, budaya dan agama untuk menghadirkan nilai-nilai bersama yang non-diskriminatif.

 

Kita tentu setuju bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali, dan kedatangannya di dahului manusia durhaka. Tapi, kita juga harus percaya sampai akhir zaman Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

 

Umat Kristen perlu bekerjasama dengan agama-agama lain, dan dengan sesama manusia untuk mewujudkan damai Allah di bumi milik Allah, dan bukannya memaksakan keseragaman doktrin atau ajaran agama. Biarlah Allah yang berdaulat menjadi hakim, dan bukannya kita yang menjadi hakim atas sesama manusia.

 

Segala kemuliaan bagi Tuhan!

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 https://www.binsarhutabarat.com/2021/01/wajah-garang-absolutisme-sekuler.html

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment