Tantangan dan Peluang Komnas Ham 2022-2027

Mensyukuri Realitas Keragaman Indonesia

 TEMPAT MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!





Mensyukuri realitas keragaman Indonesia adalah cara bijaksana merawat keragaman indonesia. Sebagai negeri yang tersohor sebagai tempat persemaian agama-agama Indonesia, karena hampir semua agama besar di duni ada di indonesia, toleransi masyarakat Indonesia patut menjadi teladan bagi bangsa-bangsa.

 

Keragaman adalah suatu kenyataan obyektif dari masyarakat Indonesia yang bukan hanya tidak perlu diperdebatkan lagi, tapi sebaliknya semua elemen bangsa ini perlu mensyukurinya.

 

Pluralitas masyarakat Indonesia sesungguhnya mencakup banyak aspek. Keragaman Indonesia secara khusus terlihat dari sudut aspek geografisnya yang menghadirkan komposisi etnis, rasial dan kulturnya, tetapi juga terkait agama, ekonomi, dan sistem kekerabatannya.

 

Sebagai sebuah negara kepulauan, Nusantara yang kita cintai ini, rakyatnya bukan hanya ramah menyapa mereka yang berasal dari pulau-pulau lainnya, tapi juga ramah terhadap kehadiran bangsa-bangsa lain.  

 

Mungkin, ada anggapan Indonesia adalah bangsa yang belum selesai, secara khusus ini dilihat dalam perspektif Barat, yang menyangsikan apakah Indonesia dapat disebut sebuah masyarakat, dan apakah tidak lebih tepat disebut masyarakat-masyarakat, yang belum menjadi masyarakat yang satu dalam sebuah bangsa yang satu.

 

Pancasila yang menjadi dasar bersama masyarakat Indonesia yang beragama dalm sebuah bangsa yang satu dibawah Pancasila memang tidak kehilangan identitasnya yang beragam, tapi tidak berarti tidak ada perekat dari keragaman Indonesia itu.

 

Bagi masyarakat Indonesia, keragaman itu adalah suatu realitas yang diterima dengan rasa syukur, itu dapat terlihat dengan toleransi agama, suku, budaya dan antar golongan yang dinaungi semangat Bhineka Tunggal Ika.

 

Konflik yang terjadi terkait dengan suku, agama, budaya dan antar golongan sebenarnya bukan khas Indonesia. Pada sisi lain, kita tentu setuju tak ada dunia tanpa konflik. Keterbatasan manusia membuat perjumpaan yang terbatas itu bisa menimbulkan salah paham dan konflik. Tapi, kesadaran keterbatasan yang dinyatakan dengan sikap toleran sesungguhnya menjadi modal dasar yang menjadikan Indonesia tetap utuh dalam keragaman.

 

Kita tentu setuju bahwa perjumpaan serta persentuhan dengan pengaruh-pengaruh dari dunia luar tidak mengubah kenyataan keragaman Indonesia, melainkan telah menambah kompleksitas nya, yaitu yang oleh sementara ahli disebut menciptakan situasi structural yang “campur namun tak padu” (mixed but not combined). 

Tapi, kepaduan itu sendiri mesti dimaknai sebagai sebuah pencapaian yang tak berujung. Maka, campur namun tak padu itu sendiri harus dimaknai sebagai sebuah pencapaian  yang tak berujung juga. 

Jika kepaduan telah mencapai titik  akhirnya, keragaman itu dengan sendirinya akan sirna. Itu adalah realitas dari keterbatasan manusia.

 

Masyarakat Indonesia sesungguhnya merupakan percampuran antara pelbagai jenis polarisasi, yang tidak pernah terkristalisasi menjadi sebuah entitas kultural yang utuh.

Tapi, itu tidak bisa ditafsirkan bahwa tidak terjadinya kristalisasi itulah yang menyebabkan hadirnya ketegangan atau konflik yang terus terjadi dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, hingga perkembangan indonesia menjadi negara yang modern.

 

Menurut keyakinan saya , pemahaman kita mengenai Indonesia sebagai “bhineka tunggal ika”amat sangat menentukan. Kita akan menciptakan persoalan besar yang dapat berakibat amat fatal bila kita hanya menekankan dimensi yang satu dan mengabaikan dimensi yang lain.

Kita akan menciptakan malapetaka bila kita mau memaksakan kesatuan dengan membunuh keanekaragaman, atau bila kita hanya  mengakui keanekaragaman tanpa mempedulikan risikonya bagi kesatuan.


Kita berharap teror-teror yang kerap terjadi pada perayaan-perayaan agama di indonesia dapat disudahi, dan kita dapat hidup bergandengan tangan sebagai sesama manusia, yakni manusia Indonesia yang beragam.

https://www.binsarhutabarat.com/2021/03/mensyukuri-realitas-keragaman-indonesia.html


No comments:

Post a Comment