facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Belajar Dari Paul Maxwell

Belajar Dari Paul Maxwell

 TEMPAT MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!


Belajar Dari Paul Maxwell


Perpalingan Paul Maxwell dari kekristenan langsung saja memutarbalikkan sejarah hidupnya. Paul Maxwell yang menjadi idola banyak orang Kristen, berbalik menjadi orang yang disepelekan bahkan dihujat banyak orang Kristen.

 



Paul Maxwell adalah seorang doktor filsafat jebolan sekolah kelas dunia, Trinity Evangelical Divinity School, beliau juga seorang Professor filsafat pada Moody Bible Institute. Paul Maxwell adalah kontributor program “Desiring God” asuhan John Piper, salah satu  kebanggaan teolog-teolog Reformed dunia, juga di Indonesia.

 

Perpalingan Paul Maxwell bukan hanya menjadi berita pada negara dimana dia melayani, tapi juga di Indonesia, bahkan seantero dunia, karena pelayanan Maxwell yang mendunia dan juga perpalingannya dari kekristenan itu dimuat pada media-media kondang seperti Christianity Today.

 

Pertanyaan kemudian, apa yang bisa kita pelajari ketika mendengarkan pengumuman perpalingan Paul Maxwell itu?

 

 Menurut saya kita tidak perlu menuduhnya memiliki kepentingan lain dibalik perpalingannya dari kekristenan, apalagi itu merupakan pilihan bebasnya. Sebaliknya, kita perlu belajar mendengarkan Maxwell setidaknya mereka yang membaca Alkitab dalam perspektif filsafat mesti hati-hati, dan bukan mustahil mengikuti jalan Paul Maxwell.

 

Filsafat dan Teologi

 

Filsafat memiliki domainnya sendiri, demikian juga Teologi memiliki domainnya sendiri, persoalannya adalah ketika  kita mengintegrasikan keduanya, kita berada dalam bahaya menaklukkan yang lain, entah filsafat menaklukkan teologi, atau sebaliknya teologi menaklukkan filsafat.

 

Ada yang mengatakan, filsafat itu budaknya teologi, jadi kita bisa berteologi dengan menggunakan filsafat untuk menggali isi Alkitab lebih mendalam, dan kemudian mensistimatisasikannya. Pertanyaannya kemudian, apa indikatornya bahwa filsafat itu bisa lestari menjadi budak teologi?

 

Mereka yang meneliti Alkitab dengan menggunakan sudut pandang filsafat,menurut penelitian saya gemar mempropagandakan bahwa doktrinnya itu paling rasional, paling benar, bahkan dengan arogan mengatakan, tafsirannya paling mendekati Alkitab, karena paling rasional, di dukung landasan filosofis.

 

Lihat saja para apologet Kristen itu, mereka dengan sombongnya mengatakan pendiriannya paling benar. Jadi doktrin dibangun di atas otonomi manusia, bukan pada otonomi Allah. Pada zaman modern seperti sekarang ini kita jengah mendengarkan para apologet yang merasa paling memahami Alkitab.

 

Teologi Ilmiah

Apa yang saya maksudkan dengan teologi ilmiah? Tentu saja yang saya maksudkan dengan teologi ilmiah adalah segala usaha berteologi dengan menggunakan metode ilmiah. Tapi, teologi ilmiah itu saya tidak masukkan dalam ranah sain semata, karena teologi ilmiah yang saya maksudkan ini adalah bersumber pada Alkitab.

 

Pada waktu kita membaca Alkitab, kita menemukan fakta-fakta(data), Konsep( hubungan antar fakta/data), dan prosedural, misalnya bagaimana tahapan atau prosedur seorang bisa percaya kepada Allah.

 

Pada saat seseorang mengerjakan teologi ilmiah, maka pencarian kebenarannya perlu didasarkan pada data-data dalam Alkitab. Persoalannya kemudian adalah pada waktu kita membangun konsep tentang hubungan fakta-fakta dalam Alkitab itu kita tidak bisa bergantung pada data-data hasil riset Alkitab kita yang terbatas, sehingga untuk merumuskan sebuah konsep Alkitab berdasarkan data-data Alkitab itu kita perlu membandingkannya dengan pengakuan-pengakuan iman sepanjang sejarah, dan juga pada pandangan pakar-pakar Alkitab sepanjang zaman.

 

Berdasarkan apa yang saya jelaskan di atas dapat dipahami, dipahami bahwa doktrin, atau konsep yang kita bangun dari data-data Alkitab itu tidak absolut. Jika kita mengatakan teologi yang sedang kita kerjakan adalah teologi ilmiah, maka kita tidak boleh mengatakan hasil penggalian Alkitab itu absolut, tapi kita mesti sedia membandingkannya dengan pandangan orang lain, dan juga bersedia untuk temuan-temuan itu di uji oleh siapapun.

 

Mereka yang membaca Alkitab dari sudut pandang disiplin Filsafat mesti hati-hati, karena filsafat itu sendiri merupakan metafisika, itulah sebabnya perdebatan filsafat hanya bergenit-genit pada teori. Jika kita membuat penelitian filsafat, pertanyaan penelitiannya itu bersifat metafisika, jadi tidak bisa diuji dengan data-data. Itulah sebabnya menurut saya, mereka yang belajar fiisafat juga perlu belajar penelitian empiris.

 

Kembali kepersoalan teologi ilmiah, apabila seseorang membangun teologi berdasarkan pada sudut pandang filsafat yang metafisik itu, maka bisa jatuh pada otonomi manusia, bukan otonomi Allah. Itulah sebabnya para apologet Kristen yang berlandaskan pada filsafat kerap merasa pandangannya paling rasional, yang lain dianggap tidak rasional, menurut mereka, karena tidak rasional itu pasti salah.

 

Jika kita belajar tentang logika sederhana, kita perlu menyadari bahwa semua premis mayor yang dirumuskan itu reduksi, karena generalisasi adalah reduksi. Karena itu semua turunan dari premis mayor, yaitu premis minor dan silogisme, itu relatif.

 

Menurut saya sudah waktunya kita perlu belajar dari yang lain, perlu menghargai domain ilmu yang berbeda. Usaha interdisiplin, transdisiplin, tidak boleh meminggirkan ilmu yang lain.

 

Belajar dari Maxwell


Sebagai seorang filsuf, dan membangun teologi dari sudut pandang filsafat, tentu saja Paul Maxwell paham, bahwa doktrin yang selama ini dia hasilkan tidak ada yang absolut, dan kalaupun kemudian dia berpaling dari bangunan doktrin itu, menurut saya itu pilihan bebasnya, karena merasa pilihannya yang baru lebih baik.

 

Jika kita berbicara pengalaman iman, tentu saja yang bisa menjelaskan hanya Paul Maxwell, dan dia sudah mengumumkannyatentang alasannya berpaling dari kekristenan, maka kita semua mesti menghargainya, meski tidak berarti kita setuju, karena pengalaman baru Paul Maxwell itu juga tidak absolut.

 

Jika kita mau belajar dari Maxwell, maka berarti mereka yang merasa bisa mengendalikan filsafat dalam berteologi mesti hati-hati. Hal yang lain lagi, mereka yang membangun teologi dengan landasan filsafat mesti meyadari bahwa konsep atau doktrin yang dihasilkannya belum teruji, jadi jangan cepat-cepat mengatakan konsep atau doktrin yang kita hasilkan itu yang paling mendekati kebenaran.

 

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan doktrin kepastian keselamatan?

 

Keselamatan berada pada tangan Tuhan, kepastian keselamatan hanya mungkin karena karya Allah melalui Roh Kudusnya, dan kepastian keselamatan itu tidak pernah pindah pada tangan manusia. Belajarlah terus mentaati Tuhan, dan bergantung pada Tuhan. Belajar dari Maxwell berarti juga belajar dari yang lain, dan dalam semuanya itu kedaulatan ada pada Allah. Soli Deo Gloria!

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

TOKO ONLINE KU, KLIK DISINI!

https://www.binsarhutabarat.com/2021/04/belajar-dari-paul-maxwell.html

No comments:

Post a Comment