facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Bijak Mendengarkan Paul Maxwell

Bijak Mendengarkan Paul Maxwell

   TEMPAT MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!


                           CLICK HERE

CLICK HERE

Bijak Mendengarkan Paul Maxwell


Pindah agama bisa terjadi pada agama apapun. Biasanya, individu yang berpaling dari agama komunitasnya  itu akan selalu menjadi sasaran deskriminasi dari komunitasnya, meski dengan alasan mengasihi, atau ingin menghindari orang yang "murtad" itu dari neraka atau hukuman kekal, atu mungkin menghindari terulangnya kejadian yang sama pada individu lain dalam komunitas itu.

Terkait dengan persoalan pindah agama, sebagai penggiat Hak Azasi Manusia tentu saja saya melihatnya sebagai pilihan bebas tiap individu. Apapun keyakinan agama tentang nasib dari mereka yang memilihi untuk berpaling pada agama yang lain, kebebasan memilih kepercayaan itu perlu dilindungi. Kita perlu menjaga agar pilihan bebasnya itu kemudian tidak mengancam martabat kemanusiaannya.


Soal Paul Maxwell

Berita tentang pindah agama Paul Maxwell wajar saja terdengar santer karena figur Paul Maxwell yang tersohor. Christianity Today melaporkan, Paul Maxwell adalah mantan kontributor situs web apologetika John Piper yang sangat populer, Desiring God. Maxwell memiliki gelar Ph.D Trinity Evangelical Divinity School dan merupakan mantan profesor filsafat di Moody Bible Institute. Dia saat ini bekerja untuk Tithe.ly, sebuah aplikasi persepuluhan gereja.

Perpalingan Paul Maxwell adalah pilihan bebasnya, sehingga saya tak tertarik memasuki diskusi tentang hal yang menjadi ranah privat itu. Kemudian, mungkin ada yang bertanya, mengapa saya menulis artikel ini?

Artikel ini saya tulis karena dorongan yang berasal dari pertanyaan keponakan saya yang sedang beiajar di sebuah universitas Kristen terkait Paul Maxwell. Ia bertanya, “Artikel Paul Maxwell sering kami kutip, dan menjadi dasar bagi teologi Kristen di kampus kami. Kemudian dari konteks keselamatan dan lahir baru itu bagaimana? Kemudian dia melanjutkan, pengajaran yang selama ini dibuat dan semua doktrin teologi bisa diterima tidak?

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, saya pun menyempatkan diri untuk menulis artikel ini.

 

Pindah agama

Seperti saya katakan dalam pembukaan artikel ini, pindah agama adalah sebuah pilihan bebas individu dan itu terjadi pada semua agama. Utamanya, kita perlu menghargai pilihan bebas individu itu, dan kemudian mereponsnya secara bijak.

Jika melihat respon terhadap peryataan Maxwell, terlihat jelas bahwa respon masyarakat banyak yang langsung meminggirkan Paul Maxwell. Padahal, Maxwell sangat ingin tetap bersahabat dengan penggemar-penggemarnya. Kehilangan hubungan dengan pendengarnya karena pengumuman perpalingannya dari kekristenan itu kerap terjadi pada orang-orang seperti Maxwell. Menurut saya itu adalah tindakan yang tidak bijak.

Jika membaca Tulisan Dr. Lucas Lukito, jelas sekali bahwa Posisi Maxwell berada pada posisi sulit, dia dianggap sebagai seorang yang sedang berpetualang, atau karena kesulitan tertentu, dan tidak sanggup menanggungnya, maka ia menghianati kekristenan. Atau ada juga anggapan Pertobatan Paul Maxwell perlu diragukan.

Menurut saya pilihan Paul Maxwell justru menimbulkan risiko untuk dirinya sendiri, selain kehilangan popularitas yang dibangunnya begitu lama, dia juga kehilangan banyak orang-orang dekat.

 

Bijak Mendengarkan Paul Maxwell

Bagi saya keselamatan adalah anugerah Tuhan, dan keselamatan itu berada pada tangan Tuhan, bukan pada tangan manusia. Manusia perlu berjuang mentaati Tuhan, tapi tak seorangpun berkenan pada Tuhan tanpa anugerah Tuhan.

Umat Kristen bukan pemilik keselamatan, demikian juga keselamatan itu tidak pernah dimiliki oleh gereja, tapi tetap berada dalam tangan Tuhan, mereka yang menemukan keselamatan perlu bersyukur tanpa menonjolkan arogansi individu atau kelompok, karena kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Mereka yang keluar dari gereja atau pindah agama adalah milik Tuhan, bukan milik gereja. Umat Kristen perlu mengasihi mereka yang secara terbuka berpaling dari kekristenan, dan mendengarkan ketidaksetujuan mereka terhadap kekristenan.

Kita perlu menyadari bahwa bagaimanapun hebatnya doktrin yang kita pahami, itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan keselamatan, pengetahuan doktrin yang benar seharusnya membawa kita pada kebergantungan dengan Allah, bukannya menjadi arogan, apalagi merasa ajarannya yang paling murni.

Mendengarkan mereka yang keluar dari kekristenan justru akan menunjukkan kasih Kristen kepada mereka yang berpaling, dan sekaligus menjadi sarana introspeksi diri, betapa segalanya sesuatunya adalah karena kemurahan Tuhan. Dan sekaligus mendorong kita untuk terus belajar menjadi seperti Kristus. Hidup dalam kerendahan hati, pengorbanan untuk membawa damai kepada semua orang.

Hal yang utama menurut saya, agama-agama termasuk kekristenan perlu menyadari, bahwa pengalaman iman itu subyektif, dan tidak perlu diabsolutkan. Mendengarkan mereka yang berpaling dari kekristenan bukan berarti kita setuju, tapi kita menghargai kebebasan pilihan individu.

Debat mengenai agama yang benar sebaiknya dihentikan saja, karena kebenaran agama itu subyektif, bergantung pada iman, sebaliknya marilah kita saling membagi pengalaman iman, tanpa perlu menjadi arogan, untuk memperkaya hidup bersama, terlebih pada masa sulit seperti sekarang ini.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

TOKO ONLINE KU, KLIK DISINI!

https://www.binsarhutabarat.com/2021/04/bijak-mendengarkan-paul-maxwell.html

No comments:

Post a Comment