} BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: October 2021

Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia

 


Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia






Salah satu persoalan yang membuat pendidikan tinggi teologi di Indonesia kurang menghasilkan karya-karya teologi bermutu menurut saya adalah karena lemahnya kemampuan meneliti dosen-dosen teologi, yang kemudian berpengaruh terhadap kemampuan meneliti lulusan pendidikan tinggi teologi.

 

Pentingnya Penelitian

Menurut pengamatan saya, pendidikan tinggi teologi di indonesia abai untuk memperlengkapi lulusannya dengan kemampuan meneliti yang memadai, itu bisa dilihat dengan pengajar metode penelitian yang umumnya tidak kompeten dibidangnya, dan juga minimnya mata kuliah metode penelitian yang diberikan baik pada program Sarjana, Magister, maupun Doktoral.


Lebih parah lagi, pada beberapa pendidikan tinggi yang penulis temui, tidak ada mata kuliah metode penelitian, yang ada hanya metode penulisan itupun pada program magister. Mata kuliah metode penulisan itu pun kerap di ajar oleh mereka yang bukan berasal dari bidang penelitian.


Persoalan lain yang penulis temui pada pendidikan tinggi teologi di indonesia, bukan hanya lemahnya kemampuan riset, tapi juga terkait dengan menulis karya ilmiah.


Soal Penguasaan konsep teologi

Keanehan lain yang penulis temui dalam karya-karya mahasiswa di pendidikan tinggi teologi adalah, lemahnya penguasaan teori atau konsep-konsep teologi. 

Tidak jarang, pada karya akhir mahasiswa yang menggunakan penelitian kuantitatif, variabel laten atau konstruk yang di ukur tidak terkait dengan bidang teologi. Mereka memilih variabel secara “sembrono” yang penting bisa menyelesaikan Tesis.Kajian teori yang digunakan tidak terseleksi dan tidak fokus, atau juga tidak sesuai dengan penguasaan bidang ilmu profil lulusan.

Berdasarkan sejumlah masalah terkait kemampuan meneliti dosen dan mahasiswa, pantaslah jika pendidikan tinggi teologi di Indonesia seakan tidak percaya diri berhadapan dengan prodi-prodi non teologi.


Tragisnya lagi, tidak jarang mahasiswa teologi dianggap tidak berminat dengan pencapaian akademik, yang penting memiliki hidup saleh, meskipun ukuran kesalehannya juga tidak jelas.


Penelitian konseptual, Kuantitatif, dan Kualitatif

Pendidikan teologi di Indonesia mulanya hanya mengembangkan penelitian konseptual, dan asing dengan penelitian kualitatif untuk menemukan teori baru yang dibangun berdasarkan temuan data lapangan, serta asing dengan penelitian kuantitatif yang biasa dipergunakan untuk menguji teori.

Para tokoh teologi, baik di pendidikan tinggi teologi maupun yang melayani di gereja sudah terbiasa mengembangkan penelitian konseptual, baik secara induktif maupun secara deduktif.

 Persoalannya, mereka sering abai untuk menguji pemikiran teologi mereka. Bahkan ada perasaan tabu dikalangan jemaat untuk menguji pemikiran teologi tokoh tertentu, apalagi tokoh gereja.

Bahkan tidak jarang, pendidikan tinggi teologi dilarang memiliki pemikiran teologi yang berseberangan dengan pemikiran tokoh pendiri pendidikan tinggi teologi, atau tokoh-tokoh gereja yang menjadi penyandang dana pendidikan tinggi teologi. 

Akibatnya, pendidikan tinggi teologi tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai laboratorium untuk menguji ajaran-ajaran gereja atau tokoh-tokoh gereja. Sebaliknya, pendidikan tinggi teologi kerap jadi “serdadu pelestari” doktrin gereja semata.



Pendidikan teologi sebagai laboratorium

Saya bersyukur telah belajar banyak mengenai penelitian konseptual saat mengerjakan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar Sarjana Teologi dan Magister Teologi.


Sebagai seorang peneliti, saya juga terbiasa untuk melakukan penelitian lapangan, dan menuliskan hasil-hasil penelitian tersebut pada jurnal-jurnal akademik, serta menerbitkannya di koran-koran ibu kota.


Kemudian saya juga bersyukur dapat menyelesaikan program studi (prodi) Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Karena konsentrasi prodi doktor saya adalah penelitian dan pengukuran, maka bukan hanya persoalan metode penelitian kualitatif, kuantitatif, evaluasi program, tapi juga kami mempelajari pengukuran mental (psikometrika), sehingga kami diperlengkapi dengan pengetahuan kiat-kiat menyusun instrumen penelitian, baik test dan non-test.

Karena penelitian kuantitatif menggunakan analisis statistik, kami juga belajar statistik terapan, sampai kepada statistik multivariat, demikian juga program-program seperti SPSS, dan E-Views.


Pengalaman belajar penelitian konseptual, kuantitatif, kualitatif mengajarkan saya bahwa ketiga pendekatan penelitian itu perlu dipelajari secara bersama, dan dikuasai dengan baik.


Mereka yang hanya bergulat dengan penelitian konseptual, bisa jadi asing dengan lingkungan dimana mereka berada. Itulah sebabnya teologi kontekstual di indonesia seakan berjalan di tempat.


Sedangkan mereka yang ingin terlihat ilmiah dengan mewajibkan penelitian kuantitatif jadi menampakkan keanehan, karena karya akhir mereka jauh dari bidang bahasan yag mereka dapatkan di pendidikan teologi.


Mereka yang berusaha memadukan penelitian kualitatif dan kuantitatif juga kerap mengalami kebingungan. Penulis kerap menjumpai sebuah deskripsi teori ditetapkan sebagai penelitian kualitatif, padahal tidak ada pengumpulan data, reduksi data, dan kemudian menjadikan informasi sebagai temuan teori dengan membandingkannya pada fokus penelitian atau kajian fokus, atau kajian teori.Deskripsi teori baik secara induktif maupun deduktif sebenarnya lebih dekat pada kajian konseptual.


Pemahaman yang baik tentang konsep atau deskripsi konsep ini sangat penting untuk membuat alat ukur untuk sebuah variabel laten. Jadi penelitian konseptual,kuantitatif, dan kualitatif jika dilakukan secara tepat dapat menghasil temuan-temuan baru.


Sebaliknya, ketidakmampuan dosen dan lulusan teologi menguasai ketiga pendekatan penelitian tersebut telah membuat pendidikan teologi tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai laboratorium pengujian doktrin-doktrin yang berseliweran secara bebas melalui berbagai media informasi.


Karena lemahnya kemampuan meneliti itu lulusan pendidikan tinggi teologi tidak diperlengkapi dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk menganalisis, mengevaluasi dan menghadirkan temuan-temuan baru dengan kemampuan sintesis yang diterapkan dalam penyusunan karya ilmiah baik Skripsi, Tesis, dan Disertasi.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat


https://www.binsarhutabarat.com/2021/10/pendidikan-tinggi-teologi-di-indonesia.html



Menulis Artikel Argumentasi

 


Menulis Artikel Argumentasi
 

https://rajabacklink.com/refferal.php?q=916cb4b04f32e307ee2a5c32c8d4f7b76c5093a3d4e71ab64b

Artikel koran adalah karya tulis populer argumentatif yang berisi ulasan peristiwa, kebijakan atau pendapat yang aktual. Karena itu untuk dapat menulis artikel di koran dengan baik setidaknya ada dua hal penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis: pengetahuan tentang penalaran dan pengetahuan bahasa tulis.

 

Kita tentu setuju bahwa bahasa mempengaruhi pikiran, dan demikian juga pikiran mempengaruhi bahasa. Maka, untuk menghasilkan karya tulis di koran yang baik, tidak bisa tidak kita harus meningkatkan kemampuan bernalar kita, dan juga kemampuan berbahasa kita, dalam hal ini bahasa tulis.

 

Untuk meningkatkan kemampuan penalaran dan pengetahuan bahasa tak ada jalan lain kecuali dengan membaca. Dengan membaca kita  mendapatkan ide atau hal-hal yang akan kita tuliskan, karena menulis adalah merekam, menyimpan dan mendokumentasikan apa yang kita baca, mengonstruksinya, menata kembali, kemudian memproduksi sesuatu yang bermanfaat.


Peta Ide

Untuk membuat peta ide ada beberapa hal yang perlu kita lakukan.

Langkah Pertama

- Menuliskan Ide penulisan. Ide penulisan ini   utamanya didapat melalui membaca. Untuk mendapatkan ide tulisan  yang harus kita lakukan adalah menuliskan apa yang kita baca. Inilah langkah pertama yang amat penting.

Penulisan apa yang kita baca tersebut usahakan menggunakan bahasa kita sendiri, tentu saja kita boleh mengutif kata-kata penting dari sumber bacaan kita, namun tetap harus diusahakan menggunakan bahasa yang bersifat pribadi. Tujuannya adalah agar tulisan yang akan kita tulis nantinya bersifat pribadi.

Menuliskan apa yang kita baca tersebut sebaiknya dilakukan secara bebas, artinya apa saja yang ingin kita tulis, kita bisa menuliskannya, tanpa perlu melakukan perbaikan. Abaikanlah sistematika penulisan pada fase ini, dan tuliskan apa saja ide yang kita dapatkan melalui bacaan kita. Bahkan, jika ada ide-ide lain diluar apa yang kita baca, kita boleh menuliskan ide-ide tersebut. Singkatnya, segala hal yang ada di benak kita boleh dituliskan.

Setelah selesai menulis, tinggalkan tulisan tersebut, dan kembalilah pada esok harinya. Namun, jika ide-ide yang kita tulis itu tidak terlalu banyak, bisa saja kita kembali melihat tulisan tersebut setelah beberapa jam.

 Langkah Kedua

Ide-ide yang telah kita tuliskan pada langkah pertama, sekarang kita susun secara sistematis. Kategorikanlah dari ide-ide tersebut yang memiliki hubungan. Setelah itu tetapkanlah mana yang merupakan ide utama dan ide pendukung. Atau mana yang dapat menjadi controlling idea, dan mana yang merupakan supporting idea.

 

Menyusun Struktur Argumen

Untuk menuangkan pikiran kita dalam bahasa tulisan, kita memerlukan pola penalaran yang baik, agar tulisan kita nantinya dapat dimengerti pembaca. Mengenai pola penalaran ini Toulmin membaginya dalam 6 bagian, yakni :

 

1. Pendirian

2. Data/dasar

3. Dasar Kebenaran

4. Dukungan

5. Modalitas

6. Sanggahan

 

 

Contoh.

 

Banyak Individu mengalami frustasi pada masa Orde Baru karena ketatnya larangan berekspresi politik.

 

Dengan mengikuti logika formal entimen tersebut berasal dari silogisme berikut.

Premis mayor: Individu yang dilarang berekspresi mengalami frustasi

Premis minor : banyak individu dilarang berekspresi politik pada masa Orde Baru

Kesimpulan: Banyak individu mengalami frustasi pada masa Orde Baru.

Banyak Individu mengalami frustasi pada masa Orde Baru. (Claim)

Banyak individu dilarang berekspresi politik pada masa Orde Baru (Stated Reason)

 

Data penelitian atau kasus-kasus pembredelan, pembubaran aksi unjuk rasa, dll. (Grounds, Data/dasar) Ini adalah data milik penulis yang diproleh melalui penelitiannya. Penulis bisa membayangkan pembaca yang bertanya apa yang ia maksud dengan larangan berekspresi.

 

Individu yang dilarang berekspresi akan memperlihatkan gejala frustasi (Warrant, Dasar kebenaran) Berfungsi menghubungkan Data dengan claim yang diajukan penulis. Ini adalah suatu pernyataan umum.

 

Hasil-hasil penelitian tentang hubungan antara ekspresi dan kondisi individu. (backing, dukungan) Penulis membayangkan pembaca yang mempertanyakan warrant-nya. Penulis bisa mendukung warrant dari hasil penelitian sendiri maupun pustaka.

 

Qualifier, Modalitas.  Dengan digunakannya kata “banyak”. Artinya penulis tidak ingin membuat pernyataan tentang semua individu.

 

Kecuali bagi individu yang mempunyai sarana dan kemampuan untuk mengalihkan ekspresi politik mereka kedalam ekspresi lain. (Condition for Rebuttal, sanggahan) penulis membayangkan pembaca yang bertanya: Apakah tidak mungkin ada pengecualian? Bila ada, apa dasar pengecualian itu?


Pendirian, Data/dasar, dan Dasar kebenaran merupakan unsur utama penalaran, sedangkan tiga unsur lainnya merupakan unsur pelengkap. Karena itu buatlah struktur tulisan kita tersebut memenuhi pola penalaran Toulmin, yakni setelah kita menetapkan pendirian kita, tesis, atau hipotesa, tunjukkanlah bukti-bukti yang mendukung, atau yang meneguhkan, kemudian baru kita membuat kesimpulan.


https://www.binsarhutabarat.com/2021/10/menulis-artikel-argumentasi.html

Publikasi Jurnal Bereputasi

 

Struktur Argumen Karya Ilmiah perlu dipahami oleh setiap penulis yang ingin naskahnya dipublikasikan pada jurnal bereputasi. 


Apa sajakah struktur argumen karya ilmiah yang perlu dipahami dan dikusai dengan baik?

1. Struktur Ide utama dan ide pendukung.

2. Struktur induktif

3. Struktur Deduktif

4. Struktur gabungan Induktif dan deduktif.


Struktur argumen yang direkomendasikan:

1. Klaim (pernyataan posisi)

2. Data/Bukti-bukti.

3. Jaminan (Klaim di dukung bukti/data)

4. Klarifikasi ( sanggahan, dukungan, batasan).

Struktur Argumen Karya Ilmiah

 







https://www.binsarhutabarat.com/2021/10/struktur-argumen-karya-ilmiah.html

Pemerintahan Manusia Durhaka

 







Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

2 Tesalonika 1: 3-4)

 

Sejarah berada dalam Tangan Tuhan. Rencana Allah berlaku dalam setiap perjalanan sejarah. Karena itu, drama kehadiran manusia durhaka juga berada dalam kendali Allah. 

Gereja perlu mengusahakan keadilan dan perdamaian di dunia, sampai waktunya dunia tidak bisa menerima kehadiran gereja, dan pada saat itulah Allah akan mengangkat gereja, menyelamatkan gereja dari aniaya pemerintahan manusia durhaka yang menganiaya gereja.

Manusia durhaka dan antikristus

Paulus tidak menggunakan istilah Antikristus dalam surat Tesalonika. Istilah Antikristus hanya digunakan oleh Yohanes. Namun, kata antikristus dalam surat Yohanes menunjuk pada manusia durhaka dalam surat Tesalonika.

 

“Anak-anakku, waktu itu adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus.Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir (I Yohanes 2: 18).

 

Siapakah Pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.(I Yohanes 2:22).

 

Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah ada di dalam dunia. (I Yohanes 4:3).

 

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, itu adalah penyesat dan antikristus. (2 Yohanes 7).

Antikristus dalam surat-surat Yohanes itu jelas menunjuk pada apa yang Paulus sebut manusia durhaka. (2 Teslonika 2:3,8). Kehadiran manusia durhaka itu atau antikristus mendahului kedatangan Yesus yang kedua kali.

 

Manusia durhaka ingin disembah dan dilayani seperti Allah

 

Iblis telah berperang dengan Allah dan mencoba mengambil mahkota Allah, tapi, Iblis dikalahkan. Mengenai kejatuhan Iblis ini kitab Yesaya menjelaskan demikian, “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang menglahkan bangsa-bangsa! Engkau tadinya berkata dalam hatimu; Aku hendak naik kelangit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh disebelh utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Maha Tinggi! Sebaliknya, kedalam dunia orang mati engkau diturunkan , ketempat yang paling dalam di liang kubur.” (Yesaya 14: 12-15).

 

Iblis yang telah jatuh itu, dibuang ke bumi, kemudian mencobai Adam dan Hawa, mengakibatkan Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa. Kemudian Allah menyatakan perang melawan Iblis dan pengikutnya. Dan pada akhir zaman, Iblis dan pengikut-pengikutnya akan ditaklukkan oleh Allah dan masuk dalam hukuman kekal.

 

Demikian juga dengan manusia durhaka yang dijelaskan Paulus. Manusia durhaka yang dikendalikan Iblis itu adalah orang yang melawan Allah, dan menempatkan dirinya seperti Allah, ingin disembah dan dilayani seperti Allah.

 

Sebagaimana Iblis ingin disembah dan dilayani seperti Allah, maka demikian juga dengan manusia durhaka atau antikristus. Manusia durhaka itu bukan hanya melawan Allah, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai Allah dan ingin disembah dan dilayani seperti Allah.

 

Kemudian, manusia durhaka yang dikendalikan Iblis itu akan  membawa dunia untuk menyembah Iblis, serta percaya terhadap kebohongan Iblis. Karena Iblis adalah Bapa segala dusta. Disini jelas, antikristus bisa merupakan pribadi, tokoh tersohor, pemimpin pemerintahan yang menempatkan diri pada singgasana Allah. Ingin disembah dan dilayani seperti Allah.

 

Mewaspadai kehadiran manusia durhaka

 

Orang percaya yang sudah menerima pengampunan dosa melalui kematian Kristus di kayu salib, menyadari bahwa hidupnya adalah milik Allah. Segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya adalah untuk memuliakan Allah, dengan hidup dalam keadilan dan kebenaran.

 

Manusia dapat hidup adil, benar dan memuliakan Allah hanya karena anugerah Allah. Karena itu hidup orang percaya harus dikuasai Roh Kudus dan tiap-tiap hari bersandar kepada Kuasa Roh Kudus untuk mengerjakan tugas misi Allah.

 

Gereja yang hidup dalam Allah, dipenuhi Roh Kudus inilah yang menahan kejahatan, baik melalui kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun partisipasi gereja dalam pemerintahan, yakni membawa pemerintahan yang menjalankan keadilan Allah.

 

Sedang mereka yang menolak kebenaran, menyerahkan hidup mereka pada kejahatan, atau mengikuti manusia durhaka. Mereka akan menyombongkan dusta dan kejahatan.

 

Ketika waktunya genap, manusia durhaka itu menyatakan diri bersama-sama dengan pengikutnya, dan pada waktu itulah Tuhan akan mengangkat gereja dari dunia yang jahat untuk berjumpa dengan Tuhan, masuk dalam Kota Allah yang kudus, dan pada waktu yang sama, menghukum manusia durhaka dan pengikutnya, beserta Iblis untuk menerima hukuman kekal dari Allah yang maha kuas.

 

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat  

https://www.binsarhutabarat.com/2020/09/drama-pemerintahan-manusia-durhaka.html


Pergumulan Hidup Ambasador

 

Pergumulan Hidup Ambasador 



Konflik rohani ada dalam dunia, mengapa tidak mati untuk diri dan membiarkan Kristus memenangkan pertempuran untuk kita dan dalam kita. Perang yang sesungguhnya adalah di dalam kita, di dalam diri kita!


Karya keselamatan dapat diselesaikan oles Yesus Kristus, dan Yesus mengerjakan itu sendiri. Tetapi kesaksian keselamatan ini hanya dapat diselesaikan oleh umat-Nya, yang percaya kepada Yesus dan diselamatkan. 


Raja perlu ambasador atau utusan untuk membawa berita itu. Dan hingga kini Raja itu masih memerlukan utusan atau pemberita Injil. Siapakah yang akan kuutus, dan siapakah yang pergi untuk Aku? (Yesaya 6:8)


Panggilan Memberitakan Injil

Tidak cukup kita berdoa agar Tuhan mengirim pemberita-pemberita Injil (Matius 9:36-38), Kita mesti juga bersedia melayani Tuhan. Sebelum Yesus mengirim utusan untuk melayani, Yesus mengkhotbahkan khotbah pentahbisan untuk menghiburkan dan mempersiapkan mereka. Dalam khotbah ini Yesus memberikan perkataan kepada semua pelayan-Nya masa lalu, kini dan akan datang, jika tidak maka kita akan membaca pasal ini tampak membingungkan dan tanpa harapan. 



Pergumulan Hidup Ambasador

Saat kita mengatakan kita telah diidentifikasikan dengan Yesus dan mengakui Dia. Kita berada dalam sebuah bagian peperangan. Kita tidak memulai perang itu. Allah yang menyatakan perang terhadap Setan. (Kejadian 3:15). Pada malam Yesus dilahirkan, malaikat-malaikat mengatakan Damai di bumi (Lukas 2:14). Tetapi Yesus tampaknya menyangkali kebenaran ini.( Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (Matius 10:34). 

Mengapa ada konflik?

Israel tidak menerima Yesus yang memberikan damai. Israel menolak Yesus, dan hasilnya adalah pedang. Bukan damai di bumi yang ada, damai di surga (lukas 19:38). 

Yesus telah menciptakan damai melalui Pengorbanan darahNya di salib. (kolose 1:20)Sehingga manusia dapat didamaikan dengan Allah dan satu dengan yang lainnya. Tetapi orang tidak percaya memusuhi Yesus dan juga murid-murid Yesus.


Mungkinkah bebas dari konflik?

Satu-satunya cara orang percaya dapat bebas dari konflik adalah menyangkali Yesus dan kompromi dalam kesaksian, ini adalah dosa. Demikianlah orang percaya akan berada dalam perang dengan Allah dan dengan dirinya sendiri. Kita akan disalahpahami, dan bahkan dianiaya oleh mereka yang terdekat dengan kita, tetapi kita mesti tidak mengijinkan ini berdampak pada kesaksian kita. 

Adalah penting bahwa kita tahu dengan pasti bahwa kita menderita demi Yesus, demi kebenaran, dan bukan karena kita sendiri sulit untuk hidup dengan orang lain. Ada perbedaan antara kejahatan salib (Galati 5:11), dan penderitaan orang-orang Kristen. Kejahatan salib adalah menyangkali salib, sebaliknya orang-orang Kristen menderita karena pemberitaan tentang salib.


Mengasihi Tuhan 

Tiap orang percaya mesti membuat keputusan satu kali dan untuk mengasihi Kristus sepenuhnya, dan , memikul salib dan mengikut Kristus.Matius 10:37 , Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku , ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau anaknya perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 

Kasih dalam Matius 10:37 adalah motivasi bagi salib dalam Matius 10:38, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Membawa salib bukan berarti menempel sticker di motor, mobil atau rumah. Itu berarti mengakui Kristus dan mentaati Kristus meskipun menderita dan malu. Itu berarti mati bagi diri kita tiap-tiap hari. Jika Tuhann pergi ke salib untuk kita, dan setidaknya kita dapat mengerjakan salib itu untuk Kristus. Menerima penderitaan untuk kemuliaan Kristus.


Matius 10:39 menegaskan bahwa, saat ini kita memiliki dua alternatif, menyayangkan hidup kita, atau mempersembahkan hidup kita. Tidak ada titik tengah. 

Jika kita melindungi keinginan kita (cinta diri), kita akan kehilangan nyawa kita. Kita tidak memiliki keselamatan. Jika kita mati untuk diri, dan hidup untuk menyenangkan Kristus, kita akan menjadi pemenang. 


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://draft.blogger.com/blog/post/edit/4658234558399047647/876521209481881593#:~:text=https%3A//www.binsarhutabarat.com/2021/10/pergumulan-hidup-ambasador.html