facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Ironi Dosen Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Ironi Dosen Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia



  Dosen Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen pada umumnya tidak bisa hidup dengan melaksanakan tugasnya sebagai dosen, karena pada umumnya gaji mereka dibawah upah minimum, belum lagi tunjangan dosen dari pemerintah berupa sertifikasi dosen, pengurusannya kian tidak transparan, dan tunjangan dosen dari doktor (lektor) sampai asisten ahli B di pukul rata sebesar Rp. 2 juta per bulan, itupun syukur jika bisa turun setiap tahun. Apa jadinya dengan pendidikan tinggi di Indonesia, dan apa jadinya dengan pemimpin-pemimpin agama di negeri ini. 

Pemerintah saat ini sedang giat-giatnya mempromosikan moderasi beragama secara kusus di Kementerian Agama. Promosi paling baik dari moderasi beragama itu adalah pada bidang pendidikan tinggi. Tapi, apa jadinya jika pengelolaan pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia, secara khusus Kristen tidak tertata dengan baik? Sosialisasi Moderasi beragama tentu saja akan jalan di tempat

Pemerintah, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia perlu bertindak tegas memperbaiki tata kelola kementerian yang membawahi pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi keagamaan Kristen perlu difasilitasi untuk mengelola pendidikannya dengan baik, dan kementerian terkait perlu melihat sumbangsih pendidikan tinggi di Indonesia yang telah berperan penting, bukannya memanfaatkan jabatan publik untuk kepentingan pribadi.

Hal utama yang terlihat nyata adalah pengurusan jabatan fungsional yang tidak transparan, dalam pengamatan penulis sudah tiga tahun ini pengurusan jabatan fungsional tidak pernah jelas prosedurnya. 

Demikian juga sertifikasi dosen, program smart Serdos yang didengungkan lewat Kemdikbud pelaksanaannya di pendidikan tinggi keagamaan Kristen sangat tidak jelas. 


Kementerian pendidikan, demikian juga pengelolaan pendidikan pada kementerian agama, termasuk pada pendidikan Kristen yang tidak baik akan berdampak buruk bagi pembangunan bangsa, demikian juga terkait penguatan moderasi beragama. Jika tamatan-tamatan pendidikan agama tidak bisa menjadi teladan dalam masyarakat dan pemerintahan, sesungguhnya masa depan Indonesia menjadi taruhannya.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2021/10/ironi-dosen-pendidikan-tinggi-keagamaan.html




No comments:

Post a Comment