Absolutisme Dogma, Perlukah di perdebatkan?

Komisioner Komnas Ham 2022-2027




Calon Anggota Komnas HAM
Periode 2022 - 2027
No Pendaftaran : #KH-00985







 

Saya, Dr. Binsar Antoni Hutabarat dengan ini memohon doa dan dukungan untuk maju menjadi Anggota Komnas HAM Periode 2022 - 2027, No Pendaftaran : #KH-00985 

Berikut ini saya jelaskan secara singkat perjuangan saya dalam bidang hak assi manusia selama kurang lebih 25 tahun. Jika berkenan memberikan rekomendasi dapat mengisi rekomendasi ini dan mengirimkannya via email. 

Untuk lebih mudah memberi rekomendasi dapat mengisi Link Ini, atau contoh surat rekomendasi, terima kasih.

Form Rekomendasi



 SURAT REKOMENDASI

 

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                   :

Jabatan                :

Alamat                 :

Email/Hp             :

Dengan ini memberikan rekomendasi kepada:

Nama                   : Dr. Binsar Antoni Hutabarat

Email                    : antonihutabarat@gmail.com

Alamat                 : Jalan Duta raya, Blok G2/7, RT 009/RW 015, Perumahan Duta Indah, Jati makmur, Pondok Gede, Bekasi, 17413

Rekomendasi ini diberikan sebagai dukungan terhadap yang bersangkutan untuk menjadi anggota Komnas HAM dengan pertimbangan:

  1. Dr. Binsar Antoni Hutabarat telah aktif memperjuangkan hak-hak azasi manusia sejak tahun 1997 ketika menjabat Wakil Ketua STT Doulos Jakarta, Hingga saat ini sebagai Direktur Pascasarjana STT Kadesi Bogor. Dr. Binsar A. Hutabarat juga aktif menulis untuk mendorong proteksi hak-hak azasi manusia. Karya Dr. Binsar A. Hutabarat dapat dilihatp pada, https://orcid.org/0000-0002-2413-5626 https://scholar.google.co.id/citations?user=9IwHJ4UAAAAJ&hl=id https://www.binsarhutabarat.com, https://www.siarbatavianews.com, dll.
  2. Dr. Binsar memiliki kapasitas untuk menjadi anggota Komnas Ham dengan jejak perjuangan melebihi 25 tahun.
    (Tanda tangan yang meberikan rekomendasi)



Berikut sekilas perjuangan Ham saya selama lebih dari 25 tahun.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat telah berpengalaman lebih dari 25 Tahun dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

 

Jabatan

Tahun 

Institusi / Organisasi

Keterangan

2

3

4

5

Sekretaris Yayasan dan pengawas Sekolah Kristen Mardisiswo

1996

Yayasan Pendidikan Kristen Petra Bojonegoro/Sekolah Kristen Mardisiswo Bojonegoro

Membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan Pendidikan berkualitas, serta mengusahakan bea siswa untuk anak-anak tidak mampu.

Kepala Asrama dan Wakil Ketua STT Doulos Jakarta

1996-1999

Yaysan Doulos/STT Doulos Jakarta

Memperjuangkan hak-hak Mahasiswa, individu dan kelompok,Lembaga  dari penyerangan dan ancaman terhadap kebebasan beragama. Menolong korban kekerasan pada pembakaran Kompleks STT dan Yayasan Doulos.

Tautan, https://www.binsarhutabarat.com/2020/05/tragedi-natal-kisah-nyata-15-desember.html

 

 

Pendiri, Ketua Yayasan Voluntir Indonesia

2000-2006

Yayasan Voluntir Indonesia/STT Gratia

Menolong mahasiswa-mahasiswa tidak mampu yang mengalami putus sekolah.

Ketua Bidang Pendidikan yayasan

2003-2006

Sekolah Kristen Makedonia Ngabang, Landak, Kalimantan Barat

Mengusahakan Pendidikan berkualitas di Ngabang, Landak, Kalimantan Barat, bekerjasama dengan pemerintah daerah, Bupati dan IJSO untuk meningkatkan kualitas guru dan murid sekolah menengah di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Ketua Penelitian Raperda Kota Injil di Mansinam, Manokwari Papua Barat, Dan Sentani, Papua.

2007

RCRS

Melakukan Penelitian Ham, seminar HAM di Sentani, melakukan diskusi penghargaan terhadap HAM, Penelitian, Penulisan artikel ilmiah untuk publikasi perlindungan Ham.

https://www.academia.edu/6769444/Perda_Injil_di_Manokwari_dalam_Perspektif_Kristiani

https://doi.org/10.33550/sd.v2i1.58

 

(PDF) Perda Manokwari Kota Injil: Makna dan Konsekuensi bagi Gereja-gereja di Indonesia (researchgate.net)

 

Ketua Peneliti Hubungan Gereja dan Masyarakat di Bekasi

2015

RCRS

Melakukan Penelitian hubungan gereja dan masyarakat terkait kasus banyaknya penutupan dan penyegelan rumah ibadah di Bekasi.

Hasil Penelitian diterbitkan.

Tautan, https://doi.org/10.33550/sd.v2i2.24

Pendapat Pimpinan-pimpinan Gereja di Bekasi tentang Izin Pendirian Rumah Ibadah dalam Peraturan Bersama Menteri Tahun 2006 | Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat (rcrs.org)

 

 

Anggota pelatihan Penelitian konflik, Gusdurian Angkatan  pertama.

2008

Wahid Institut

Mempelajari, meneliti konflik, penyebab dan cara-cara penyelesaian konflik.

Anggota koalisi kebebasan beragama

2009

Koalisi Kebebasan Beragama

Menolong penyelesaian pelanggaran kebebasan Beragama, secara khusus di Bekasi, Jawa Barat.

Peneliti Pusat kajian agama dan masyarakat, Pusat kajian Reformed

2006-2020

Pusat kajian agama dan masyarakat, Pusat kajian Reformas/Reformed Center for Religion and Society (RCRS)

Aktif meneliti, memublikasikan,membantu perlindungan Ham, secara khusus kebebasan beribadah.

Ketua Peneliti Hubungan Gereja dan Masyarakat di Bekasi

2015

RCRS

Melakukan Penelitian hubungan gereja dan masyarakat terkait kasus banyaknya penutupan dan penyegelan rumah ibadah di Bekasi.

Ketua Pendiri Institut Harsen Nias

2021

Yayasan Kadesi

Menyusun studi kelayakan pendirian Institut harsen Nias untuk menghadirkan Pendidikan berkualitas di Nias.

Direktur Pascasarjana

2021-sekarang

STT Kadesi Bogor

Membantu meningkatkan kualitas Pendidikan di STT Kadesi, secara khusus dalam peningkatan Akreditasi, pengembangan kurikulum untuk meningkatkan kompetensi luaran Pendidikan.

 

 

3. Dr. Binsar memiliki banyak pengalaman dalam perjuangan serta memiliki kapasitas untuk menjadi anggota Komnas Ham 2022-2027.

Demikian surat rekomendasi ini saya buat, dan saya bertanggung jawab atas rekomendasi yang telah saya buat ini.

……………………………….., …………………………………………..

Yang memberikan rekomendasi

 

 

…………………………………………………….

Email pansel komnas Ham, pansel@komnas.go.id

Harap Surat Rekomendasi dikirmkan juga ke antonihutabarat@gmail.com


https://www.binsarhutabarat.com/2022/02/komisioner-komnas-ham-2022-2027.html




TRAGEDI NATAL-Kisah Nyata










(Kisah Nyata)

Rabu, 15 Desember 1999. Tidak ada tanda-tanda jika pada hari ini saya akan mengalami suatu peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. 


Saat itu kebetulan sebagian mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Doulos (STTD) jakarta telah menyelesaikan ujian semester, dan sebagian dari mereka telah bersiap-siap untuk liburan. Suasana kampus yang semakin membaik selama beberapa waktu, membuat kami “melupakan” ancaman-ancaman yang kerap menghantui kami.


Suasana hati semakin teduh mengingat hari Natal telah menjelang. Semakin dekatnya hari yang penuh sukacita tersebut juga membuat semua pengalaman yang menegangkan seakan telah lewat tanpa bekas. Kami memang telah mulai menyingkirkan rasa was-was, apalagi bayangan akan adanya tragedi yang amat mengerikan itu. Apalagi penyelesaian masalah protes dalam bentuk demonstrasi di kelurahan sudah diselesaikan melalui jalur yang benar. Demikian juga Banser NU yang diperbantukan di kampus untuk menjaga keamanan kampus dari serangan-serangan orang yang tak bertanggung jawab, telah ditarik kembali karena kondisi dianggap telah aman.
 Seperti biasa, pada hari itu kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan lancar dari pagi hingga siang hari. Singkatnya, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan bahwa beberapa jam lagi tempat itu akan berubah menjadi lautan api yang sangat mengerikan.

Sekitar pukul 15.00, setelah suami saya kembali dari kantor, dia bersiap-siap untuk berangkat ke Cimone, berkhotbah di GKJMB. Pada jam 19.00, tinggal saya dan anak kami, Theo, yang masih berusia 5 bulan di rumah dinas. Sekitar pukul 19.00 atau pukul tujuh malam, dua orang mahasiswa datang ke rumah untuk pamit liburan. Dan hal ini merupakan sesuatu yang biasa. Wajar jika setiap mahasiswa yang akan meninggalkan kampus dalam waktu yang cukup lama meminta ijin dulu kepada bapak atau ibu asrama.

Berhubung yang mereka minta adalah ijin yang untuk liburan bersama keluarga setelah selesai menunaikan ujian semester selesai, maka ijin pun saya berikan. Diberikannya ijin liburan oleh ibu asramanya, tentu saja membuat mahasiswa itu merasa senang. Mereka pantas bergembira sebab setelah hampir setengah tahun berkutat dengan kuliah yang padat dan tugas-tugas yang berat, kini mereka penuh dengan rencana-rencana yang menyenangkan hati. Minggu itu merupakan minggu terakhir ujian semester. Berarti, hari Jumat tanggal 17 Desember merupakan hari terakhir kuliah di kampus.

Setelah kedua mahasiswa itu kembali ke asrama—mungkin untuk mengemasi barang-barangnya—saya juga kembali masuk kamar. Saat itu Theo belum tidur. Saya menjaganya sembari membereskan popok yang ada dalam keranjang pakaian bayi.
Selang beberapa waktu, terdengar suara ramai dan gaduh di halaman rumah. Dari kamar yang ada di lantai dua, saya melihat belasan mahasiswa lari pontang-panting karena dikejar oleh segerombolan orang yang tak saya kenal. Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat saya kaget tidak alang-kepalang, apalagi para penyerang itu membawa senjata tajam. Para mahasiswa berusaha membela diri menggunakan apa saja yang bisa diraih seperti batu dan kayu. Namun gerombolan manusia yang menyerang ke dalam kampus kami itu jumlahnya amat-sangat banyak, jauh lebih banyak dari mahasiswa yang ada.

Karena jumlah yang tidak seimbang, terlebih penyerang banyak yang memegang senjata tajam disertai nafsu membunuh yang luar biasa, terjadilah pertarungan yang tidak seimbang. Mahasiswa tercerai-berai, berlarian kocar-kacir untuk menyelamatkan diri masing-masing. Dari dalam kamar, saya menyaksikan suatu pemandangan yang sangat memilukan hati. Penyerang-penyerang yang mengenakan pakaian khas sebagai pertanda mereka penganut suatu agama tertentu, membantai mahasiswa yang tidak sempat melarikan diri. Mereka yang merasa sebagai orang beragama, seharusnya menunjukkan kasih dan perdamaian dengan sesama manusia. Namun yang terjadi justru kebalikannya. Malam itu mereka bertindak amat bengis.

Semakin tragis dan ironis lagi, sebab kejadian tersebut berlangsung bertepatan pada bulan “suci” yang berdasarkan kepercayaan mereka adalah saat yang tepat membuat kebajikan guna mendapatkan pahala yang besar dari Tuhan Allah Yang Maha Pencipta. Tetapi apakah melakukan aksi pembantaian juga disahkan oleh agama? Saya yakin tidak.  Apa sesungguhnya yang ada di balik nafsu membunuh yang menguasai hati para penyerang itu? Berhubung saat itu kebetulan bulan “bertabur rahmat”, saya menduga mereka itu baru usai menunaikan ritual keagamaan di tempat-tempat ibadah.

Seseorang yang baru selesai melakukan ibadah pada Tuhan Yang Mahakasih, mestinya dipenuhi hati penuh kasih sayang. Tetapi yang saya saksikan ini bukan kumpulan manusia yang hatinya dipenuhi kasih dan kedamaian, tetapi sebaliknya nafsu jahat yang amat mengerikan, meskipun itu “dibungkus” jubah agama.

Saya yakin, pada hakekatnya agama itu tidak memiliki unsur konflik, justru sebaliknya ia menawarkan damai sejahtera, karena misi perdamaian melekat pada setiap agama. Dan saya yakin, semua orang sependapat dengan saya. Tetapi realita yang saya lihat saat ini jauh dari apa yang pernah saya bayangkan, di mana orang-orang berbaju agama, sambil mengucapkan keagungan Yang Maha Besar, dalam waktu yang bersamaan melakukan kekejaman dan kekejian terhadap sesama manusia. Mereka mengejar, menguber, membantai manusia bagai binatang buruan. Setelah “sukses” mengenyahkan para mahasiswa dari kampus dan asramanya sendiri, gerombolan itu yang tampaknya “haus darah” itu menghancurkan aula kampus  megah, yang hampir selesai dibangun.

Saya dapat menyaksikan semua adegan itu secara jelas. Penyerang menghancurkan kaca-kaca jendela dan pintu-pintu kelas, meja-meja dalam ruang kuliah dijungkirbalikkan. Mereka tampak marah dan beringas. Saya tidak mengerti kejahatan apa gerangan yang kami lakukan terhadap mereka sehingga harus menerima luapan kemarahan yang begitu mengerikan.

Di saat saya masih “terpesona” bercampur kaget menyaksikan kengerian yang terjadi begitu cepat itu, rumah dinas kami telah dikepung orang banyak dan dihujani dengan batu. Dengan cepat saya menggendong bayi saya, untuk mencari tempat berlindung dari hujan batu yang semakin deras. Dalam kekalutan, saya ke kamar belakang di lantai dua, dan bersembunyi dalam lemari pakaian. Lemari pakaian memang menjadi tempat yang aman untuk sementara guna menghindar dari hujan batu.

Hujan batu yang semakin gencar itu telah membuat saya sangat ketakutan. Perasaan saya semakin ngeri lagi ketika mulai mendengar bunyi ledakan yang berasal dari bom molotov (botol berisi minyak tanah atau bensin dan bersumbu lalu dibakar)  . Untunglah, rumah dinas kami tidak menjadi sasaran bom molotov itu.  Mungkin karena rumah dinas kami cukup rapat dengan rumah penduduk, maka penyerang berpikiran bahwa jika rumah kami terbakar, maka rumah penduduk juga akan ikut terbakar. Sekitar 45 menit kemudian, suasana di sekitar rumah kami mulai tenang. Dengan tetap menggendong anak, saya keluar dari lemari dan kembali masuk kamar di lantai dua yang menghadap ke jalan.

Kamar kami telah hancur berantakan karena hujan batu. Sementara di luar rumah, tepatnya lokasi asrama dan bangunan kampus, sudah berubah menjadi lautan api. Asrama mahasiswa yang memang merupakan bangunan-bangunan semi permanen, sangat mudah menjadi santapan empuk api yang berasal dari bom-bom molotov yang dilemparkan para penyerang. Tidak mengherankan jika dalam waktu sekejap terjadi lautan api yang sangat menggetarkan hati siapa saja yang menyaksikan kobaran api tersebut. Asrama mahasiswa telah terbakar, juga ruangan-ruangan kelas, perpustakaan, ruang panti rehabilitasi jiwa dan narkoba. Rumah doa yang terbuat dari kayu, mirip rumah manado, juga habis musnah tanpa bekas dilalap si jago merah.

Dari jendela saya melihat tiga buah mobil yang turut dibakar ketika sedang parkir di halaman asrama. Udara malam yang beberapa jam lalu sejuk, kini berubah menjadi amat panas. Saya tidak habis pikir mengapa semua ini terjadi. Tidak adakah penghormatan kepada sesama manusia, sekalipun berbeda dalam hal keyakinan atau agama? Jikapun kami kebetulan menganut agama yang berbeda dengan mereka, layakkah kami disamakan dengan hewan-hewan buruan?

Keadaan yang berlangsung sangat cepat ini membuat saya seperti terguncang. Meski sadar ini sangat mengerikan dan menyedihkan, namun saya tidak dapat menangis mungkin karena guncangan tersebut terlalu mengerikan. Saya sungguh tidak dapat mengerti mengapa semuanya ini terjadi. Dalam keadaan yang sangat mengerikan itu, yang terlintas dalam pikiran saya adalah pertanyaan-pertanyaan: “Di manakah pertolongan Tuhan? Di manakah perlindungan Tuhan? Mengapa semuanya ini harus terjadi? Di manakah kedaulatan Tuhan yang mestinya mampu menjaga anak-anaknya?”

Kampus telah menjadi api. Udara semakin panas, membakar kulit saya. Panasnya udara tampaknya juga dirasakan oleh anak saya. Panasnya udara ini juga semakin menyadarkan bahwa saya harus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri dan anak saya dari lokasi yang telah menjadi neraka itu. Kami harus segera menjauh dari manusia-manusia yang tampaknya selalu siap membantai kami apabila berhasil ditemukan. Saya pun memutuskan untuk keluar rumah, apa pun yang terjadi!
Dengan kenekatan yang luar biasa, saya gendong anak saya tanpa kain pembungkus. Saya memang tidak sempat memikirkan hal itu karena sedang berada dalam kepanikan yang amat sangat. Aku bahkan tidak memakai alas kaki. Dengan pakaian seadanya, yaitu kaos oblong dan celana pendek, saya berlari keluar untuk mencari jalan selamat.

Beberapa meter dari rumah, saya melihat pintu khusus yang menghubungkan areal kampus dengan perumahan penduduk sedang dalam keadaan tertutup. Sejak kerusuhan Mei 1998, pintu itu memang selalu ditutup mulai jam 19.00 malam. Dari kejauhan saya melihat di balik pintu itu banyak orang berkumpul. Saya tidak tahu siapa mereka. Saya menduga, mereka itu pasti orang-orang kampung yang selama ini sudah dekat dengan kami. Berdasarkan perkiraan seperti itu saya memberanikan diri berlari menuju pintu itu. Perhitungan saya, walaupun pintu itu terkunci, toh saya bisa meminta tolong supaya mereka menyelamatkan anak saya. Sedangkan saya dapat memanjat pintu itu untuk menyelamatkan diri.

Ketika saya sedang berpikir demikian, tiba-tiba muncul seseorang yang berlari dengan cepat. Rupanya dia salah seorang staf panti rehabilitasi jiwa dan narkoba. Dengan melihat dia, harapan saya untuk selamat semakin besar. Saya yakin dia akan bersedia menolong saya, karena ia pasti mengenal saya. Harapan yang tiba-tiba muncul itu ternyata segera sirna berganti rasa khawatir yang lebih dalam lagi. Pasalnya, ketika orang itu sudah berada kira-kira lima meter dari posisi saya, tiba-tiba dia dipukul dengan benda keras seperti linggis oleh orang-orang yang berada di luar pagar, yang tadinya saya kira warga setempat. Tanpa ampun, karyawan panti rehabilitasi itu terjatuh di pintu gerbang ketika berusaha melompat keluar pagar.

Menyaksikan kejadian yang mengerikan itu, hilang pulalah hasrat saya untuk menyelamatkan diri lewat pintu itu. Secepat kilat saya berbalik untuk kembali ke rumah. Karena tidak mungkin menyerahkan diri kepada orang-orang yang berada di luar pagar itu. Bisa-bisa saya malah mengalami nasib yang sama seperti yang baru saja menimpa staf panti rehabilitasi itu.

Ketika saya berbalik untuk kembali ke rumah, dari arah belakang ada sekitar tujuh orang laki-laki bercelana pendek tanpa baju, mengenakan ikat kepala warna merah dan membawa senjata tajam berupa clurit mengejar saya. Saya berlari sekuat tenaga sambil tetap menggendong anak saya. Saya tidak peduli dengan api yang berkobar dan panas yang membara. Saya hanya mau lari untuk menyelamatkan diri dari kejaran ketujuh pria bersenjata clurit itu.

Rasanya mustahil bagi saya untuk dapat menyelamatkan diri dari mereka. Saya tidak bisa sembunyi karena kobaran api membuat suasana terang-benderang. Dalam kondisi seperti itu, adalah mustahil jika orang-orang yang tampaknya berbadan kekar dan kuat itu tidak mampu mengejarku, apalagi aku berlari sambil menggendong anak. Saya pasti tertangkap, demikian kesimpulan saya.

Namun, saya tidak mau menyerah begitu saja. Sambil berlari sekuat tenaga, saya berdoa agar Tuhan menolong. Dan, dalam kondisi seperti itu, hanya uluran tangan Tuhan sajalah yang saya harapkan yang dapat menolong saya. Entah bagaimana caranya, saya pun tidak mengerti kenapa saya bisa masuk kembali ke dalam rumah sehingga orang-orang yang tadi mengejar tidak melihat saya lagi. Ke mana perginya mereka, saya tidak tahu, yang saya tahu, saya selamat sampai di dalam rumah kembali.

Tanpa membuang waktu, saya menuju kebagian belakang rumah di mana ada taman bunga yang saya selalu pelihara dengan baik. Di belakang rumah itu ada pula tempat jemuran yang mungkin dapat menjadi tempat perlindungan sementara. Bagian belakang rumah kami memang hanya dibatasi tembok dengan rumah penduduk, namun tembok itu cukup tinggi. Bagi saya sendiri, tembok setinggi itu bukan merupakan halangan yang berat, sebab saya yakin mampu menaiki atau memanjatnya. Bersama anak saya yang masih bayi ini tentu sangat mustahil bagi saya untuk memanjatnya guna menyelamatkan diri.

Meski demikian, saya tetap memikirkan bagaimana caranya supaya dapat keluar dengan selamat bersama bayi saya dari kompleks ini. Saya menatap langit yang merah karena kobaran api dan hitam pekat karena kepulan asap. “Tuhan, di manakah pertolongan-Mu? Di manakah pertolongan-Mu, Tuhan?” saya berteriak-teriak dalam hati. Dalam kondisi seperti itu, saya masih berharap akan adanya pertolongan dari aparat keamanan. Tapi, mengapa begitu lama bantuan keamanan datang? Bukankah api yang berkobar-kobar ini dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh sekalipun? Apalagi lokasi kami ini tidak jauh dari markas dan kompleks perumahan tentara. Tetapi mengapa tidak ada tembakan peringatan dari aparat tersebut, yang mungkin dapat membuat para penyerang yang biadab itu melarikan diri?

Saya heran, kenapa kejadian ini sudah begitu lama, namun letusan senjata tanda datangnya aparat keamanan tidak terdengar. Ke mana mereka? Atau, mungkinkah tidak ada seorang pun aparat kepolisian yang melihat kejadian yang begitu mengerikan dengan jumlah orang yang amat banyak? Rasanya mustahil. Tapi jika ada, mengapa tidak ada yang datang untuk membantu? Apakah mereka juga merasa takut karena penyerang yang datang jumlahnya sangat banyak? Saya juga tahu, tenaga keamanan kami banyak. Babinsa juga senantiasa berjaga-jaga di kampus kami. Begitu lamakah mendatangkan tenaga keamanan untuk menolong kami? Atau tidak layakkah kami sebagai warga negara mendapat perlindungan? Bukankah kami juga memiliki hak yang sama untuk dilindungi?

Beribu pertanyaan yang berseliweran di benak saya kala itu. Namun tidak satu pun yang mampu saya pecahkan. Saya hanya ingin tahu bagaimana caranya supaya dapat keluar dan selamat dari tempat yang tiba-tiba tidak lagi saya sukai ini. Saya pun sangat khawatir dengan anak saya yang tentu sangat terganggu dengan keadaan ini. Ada satu yang saya herankan, kenapa dalam kondisi yang sangat kalut itu, anak saya tersebut tidak pernah menangis, padahal ia tidak sedang tertidur. Namun saya bersyukur, sebab dengan demikian saya mudah bersembunyi.

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar sirene mobil pemadam kebakaran, namun bukannya semakin dekat atau semakin keras, sebaliknya makin tak terdengar sampai akhirnya menghilang. Ada keinginan untuk keluar lagi, namun saya takut mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Jangan-jangan orang-orang yang mengejarku itu tadi muncul kembali.

Sekali lagi saya memerhatikan tembok rumah yang memisahkan saya dengan luar kompleks. Tingginya sekitar tiga meter, mustahil bagi saya untuk memanjatnya. Dan lebih tidak mungkin lagi menyelamatkan diri dengan meninggalkan anak saya. Suatu tindakan yang tak pernah terpikirkan oleh saya. Suasana semakin mencekam, apalagi hawa panas yang berasal dari luar rumah masih terasa betul sampai ke bagian belakang rumah.  

Mungkin karena hawa panas yang semakin mengganggu itulah maka tiba-tiba ada keinginan saya untuk naik ke kamar di lantai dua, lalu mencoba menyeberang ke rumah warga yang hanya dibatasi tembok Dari lantai dua itu ada kemungkinan bagi saya untuk naik ke atap rumah kemudian menyeberang ke atap rumah warga yang ada di belakang rumah kami itu. Sebelum mecoba menyeberang melalui atap rumah, tampak banyak orang sedang duduk-duduk di atas tembok perbatasan rumah kami dengan rumah masyarakat di luar kampus, dan ada juga yang sedang duduk di atap rumah. Ketika melihat mereka, kembali timbul semangat baru, sebab perkiraan saya, mungkin mereka adalah calon-calon staf misi untuk Jawa Barat yang memang tinggal di samping rumah dinas kami.

 Kemudian saya berteriak sekuat tenaga, “Pak…Pak…tolong saya, dan anak saya masih ada di sini!” Pada waktu saya berteriak meminta tolong dengan suara yang semakin kencang, tiba-tiba terdengar suara, “Ayo…maju, kita habiskan saja semua malam ini, jangan sampai ada yang tertinggal…”
Begitu mendengar suara itu, secara refleks saya berhenti berteriak, dan kembali turun. Tampaknya memang tidak ada pilihan lain bagi kami selain harus tetap berada dalam “neraka” ini, karena orang-orang yang tadi berkata ingin menghabisi kami semua telah pula merangkak di atap menuju rumah saya. Mereka agaknya memang sungguh-sungguh hendak membunuh saya dan bayi saya, sebab mereka telah memasuki rumah kami lewat atap.

Meski masih memendam rasa takut yang luar biasa karena dikejar-kejar sejumlah laki-laki berbadan kekar dan bercelurit tadi, namun saya tetap berusaha keluar dari rumah untuk menjauh dari orang-orang yang mengikuti saya dari atap, dan mulai turun ke dalam rumah. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari mereka selain berlari keluar rumah, sambil berdoa dalam hati untuk menguatkan hati, “Apa pun yang terjadi di malam ini dengan kami, semuanya adalah kehendak-Mu, ya Tuhan. Kalau memang Tuhan menghendaki saya mati di tempat ini, saya hanya berserah kepada-Mu…”  

Sesudah keluar dari rumah, saya berlari ke arah perbatasan areal kampus dengan rawa-rawa. Sebelum rawa-rawa ada tembok yang membatasi kampus. Lahan yang ada di balik tembok yang tinggi itu adalah tanah milik orang kampung. Di seberang rawa-rawa ada tembok panti rahabilitasi, jadi tidak ada pintu keluar. Aku terpaksa menuju ke situ karena tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama dengan sebelumnya. Di pinggir rawa-rawa itu ada pagar seng untuk menahan orang supaya tidak jatuh ke dalam rawa. Menyelamatkan diri dari melewati rawa-rawa itu juga tidak pernah terpikirkan. Selain kedalaman rawa yang tidak saya ketahui, kawasan itu masih gelap gulita karena tidak ada penerangan sedikit pun. Jadi, risiko menyelamatkan diri melalui rawa-rawa itu pun sama besar dengan naik melalui tembok.

Ketika saya sedang berlari ke arah perbatasan tembok dengan rawa, tiba-tiba ada pagar seng yang terbuka. Di sana ada sekitar 5-6 orang laki-laki sedang berdiri. Begitu melihat orang-orang itu, perasaan takut saya karena pengalaman diuber laki-laki bercelurit tadi kembali timbul. Dengan segera saya berbalik untuk melarikan diri lagi tanpa peduli siapa mereka. Namun tiba-tiba terdengar suara dari arah pagar, “Bu Binsar…! Bu Binsar….jangan lari, jangan takut. Maju terus, kami di sini ingin menolong Ibu…”

 Mendengar mereka memanggil saya dengan sebutan “Bu Binsar”, saya sadar bahwa orang-orang ini pasti mengenal kami dengan baik. Bergegas saya berlari kembali menuju pagar seng yang membatasi rawa-rawa itu. Rupanya pagar seng itu sudah dirusak oleh mereka untuk tempat bersembunyi. Saya lebih dahulu menyerahkan anak saya kepada mereka, baru kemudian saya meloloskan diri melalui pagar seng yang telah dirusak itu.

Setelah berada di tempat persembunyian tersebut saya baru tahu rupanya mereka adalah bapak-bapak calon tenaga misi bersama beberapa tukang bangunan yang bersembunyi untuk menghindar dari kejaran orang-orang yang membumihanguskan kampus. Tidak lama berselang, Mariana dengan anak laki-lakinya keluar dari gedung pertemuan misi yang hampir selesai dibangun dan belum memiliki penerangan. Mereka keluar dari gedung misi yang gelap untuk kemudian bergabung dengan kami. Bangunan itu berada tepat di depan tempat saya bertemu dengan para penolong.

Tempat persembunyian kami itu pun makin padat. Namun bagaimanapun juga saya kini merasa sangat lega dan bersyukur sebab paling tidak berkumpul bersama orang-orang yang telah menolong saya. Untuk sementara, kami dapat bersembunyi di tempat itu menunggu tibanya pertolongan. Sebab jika tidak, maka kemungkinan besar kami akan tertangkap orang-orang yang sangat mengerikan itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyebraengi rawa-rawa untuk menjauh dari kompleks yang telah hancur diporakporandakan manusia-manusia laknat itu.

Tukang-tukang bangunan mengambil papan yang ada di sekitar dan menaruhnya di atas rawa. Melalui jembatan darurat itu kami satu-persatu menyebrangi rawa. Suatu pekerjaan yang tidak mudah, apalagi kami tidak pernah tahu situasi dan kondisi lingkungan itu sebelumnya. Namun akhirnya, kami dapat menyeberangi rawa-rawa itu dengan selamat.

 Setelah berhasil menyeberangi rawa-rawa, kami memutuskan pergi ke jalan raya, karena berada di areal terbuka tentu lebih aman. Jika berada di tempat gelap seperti saat ini bisa saja kami berjumpa dengan para perusuh, dan hal itu sangat berbahaya. Setelah kami tiba di jalan raya tidak ada angkot maupun taksi yang mau berhenti untuk membawa kami menjauh dari pusat kerusuhan yang memang hebat. Dengan berjalan kaki lebih kurang satu kilometer untuk mencari kendaraan umum, kami bertemu dengan salah seorang satpam kompleks yang juga sedang bersembunyi bersama dengan seorang mahasiswa. Satpam tersebut biasa membawa mobil yayasan karena ia juga merangkap sopir. Waktu kerusuhan pecah, ia menyembunyikan mobilnya di tempat yang gelap. Saya memintanya  untuk mengambil mobil itu lalu membawa kami ke Jatikramat, Bekasi, rumah kakak saya.

Setelah mobil tiba, kami segera masuk dan segera menjauh dari tempat itu. Bersama kami waktu itu ada Puket I STTD, beserta dengan anaknya, seorang mahasiswa yang bersembunyi bersama dengan satpam itu. Sekitar jam 22.00 malam kami tiba di Jatikramat. Begitu saya tiba di rumah itu, kakak saya berteriak memberitahukan bahwa suami saya sedang menelepon mencari tahu keadaan saya dan bayi kami.

 Dengan penuh cemas dan haru, saya minta suami saya untuk segera datang. Saya sungguh tidak dapat mempercayai kalau ternyata kami semua bisa selamat. Hanya, sampai saat itu saya belum tahu keberadaan adik saya yang pada malam itu lebih dahulu melarikan diri. Saya juga tidak tahu ke mana dia melarikan diri, karena waktu ada suara ribut-ribut di kampus, ia ke sana untuk mencari tahu apa sebab-musabab keributan itu. Awalnya, saya tidak terlalu memberi perhatian pada keributan yang ternyata dalam waktu singkat berubah menjadi kerusuhan besar, yang hampir saja menghabiskan jiwa saya dan anak saya. Saya cuma berharap adik saya itu dapat meloloskan diri, demikian juga saudara sepupu saya yang berada di asrama, saya berharap mereka semua selamat.

***


Esoknya, Kamis 16 Desember 1999 menjelang pagi, Roma seorang dosen di STTG menelepon kami. Ia menjelaskan bahwa saat itu dia sedang berada dalam kampus bersama polisi dalam jumlah yang cukup banyak untuk mengadakan pembersihan di kampus. Saat itu orang-orang yang membumihanguskan kampus sudah tidak ada lagi, dan tidak ada seorang pun yang tertangkap karena semua telah melarikan diri.

Selanjutnya Roma menjelaskan mereka sedang berada dalam rumah kami dan menanyakan barang-barang apa yang perlu diselamatkan sebelum penjarah-penjarah datang memanfaatkan kelengahan aparat keamanan. Saat itu saya meminta agar pihak berwenang lebih mengutamakan pertolongan terhadap orang-orang yang menjadi korban kerusuhan itu. Saya sendiri memang tidak terlalu berselera memikirkan tentang barang-barang apa saja yang harus diselamatkan dari dalam rumah. Bagi saya, yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa manusia, karena lebih berharga dibanding barang-barang yang ada di rumah. Mereka mengadakan pembersihan di kampus, sambil menolong orang-orang yang terluka dan mengevakuasi  korban tewas dalam kerusuhan semalam.

Begitu tahu Roma dan sejumlah aparat kepolisian tengah melakukan penyisiran di areal kampus, suami saya meminta ijin untuk berangkat ke kampus membantu mereka. Namun  saya marah dan  berkata, “Jangan nekat. Saya melihat sendiri betapa mengerikannya kejadian itu!” Intinya,  saya dan juga anggota keluarga tidak mengijinkan suami saya pergi. 

Saya bersyukur suami saya tidak ada di dalam kampus pada waktu penyerbuan tersebut, karena jika ia ada pastilah ia akan menjadi sasaran utana para penyerang, dan saya tahu watak suami saya yang sangat keras, dan tidak mungkin ia meninggalkan kampus untuk melarikan diri, berarti ia pasti tidak akan selamat. 

Pada waktu di kampus terjadi pembacokan terhadap mahasiswa karena perkelahian dalam pertandingan sepakbola, suami saya yang mengurus hal itu, ia memang sangat bertanggung jawab, walaupun resikonya merupakan taruhan nyawa, jadi saya tidak mengijinkan ia masuk  Apalagi saya tahu dia nampak marah dengan kejadian tersebut, saya tidak mengijinkannya karena saya tahu ia pasti tidak akan perduli dengan semua cerita saya, walaupun ancaman maut yang mengerikan telah saya ceritakan, wataknya memang keras. Suami saya masih tetap berusaha membujuk dan meyakinkan kami bahwa ia akan baik-baik saja. Lagipula  ia merasa mempunyai tanggung jawab sebagai penanggung jawab asrama, dan juga seorang pembantu ketua bidang kemahasiswaan, penanggung jawab kompleks STTG., Ia harus menolong orang-orang yang masih dapat ditolong. Saya dan keluarga menyarankan agar ia pergi ke sana setelah situasi benar-benar aman.

 Suami saya terus menghibur dan menguatkan saya yang terguncang karena peristiwa itu, suami saya tetap meminta pengertian saya dan keluarga supaya mengijinkannya pergi ke kampus untuk memeriksa keadaan kampus. Setelah berkali-kali menjelaskan bahwa ia akan sangat berhati-hati, akhirnya  saya mengijinkan. Saya berpendapat, dari semua staf STT yang tinggal di kampus dan masih mampu bekerja untuk mengatur perbaikan kampus adalah suami saya. Itulah sebabnya ia tetap ngotot untuk berangkat ke sana.


***

Kira-kira jam 5 pagi, suami saya ke kampus dengan mahasiswa yang datang bersama rombongan kami semalam. Saya melihat wajah mahasiswa tersebut sangat tegang. Padahal selama ini saya tahu, dia adalah seorang yang berani, apalagi dia punya pengalaman hidup yang keras. Tetapi pagi itu saya lihat wajahnya begitu tegang. Wajar, sebab peristiwa semalam yang hampir saja merenggut jiwanya, masih membekas dalam ingatannya.

Semalam dia juga bercerita bagaimana dia berhasil meloloskan diri dari serangan orang-orang yang membawa golok dan samurai. Dia mengatakan bahwa hanya karena anugerah Tuhan-lah dia lolos. Hanya, dia sangat khawatir dengan seorang dosen bernama Zakaria yang tidak sempat melarikan diri. Menurut mahasiswa itu, Zakaria saat itu berada di dalam rumahnya untuk memberi perlindungan bagi mahasiwi yang berlarian ke rumahnya. Sebagian mahasiswi melarikan diri dengan cara nekat menerobos pagar kawat yang menghubungkan areal kampus langsung dengan rumah penduduk.

Setelah suami saya pergi saya melihat berita-berita telivisi depenuhi dengan berita mengenai penyerangan ribuan orang ke kampus kami, dalam berita tersebut juga dijelaskan bahwa banyak mahasiswa yang berhasil melolosakan diri bersembunyi dikantor-kantor polisi. Suami saya memberitahukan bahwa ia harus pergi ke kantor-kantor polisi untuk membawa mahasiswa berkumpul di Komdak

Suami saya bersama dengan seorang staf dan seorang mahasiswa pergi ke kantor polisi di daerah Cipayung dekat Bambu Apus untuk membawa mahasiswa yang ada di sana, karena ada kabar  sebagian mahasiswa yang tidak tahu ke mana ingin menyelamatkan diri bersembunyi di kantor polisi itu juga.

Setibanya di kantor polisi, suami saya menjumpai cukup banyak mahasiswa, sehingga ketika ia  mengangkut dengan mobil, harus berdesak-desakan. Di situ juga ia bertemu dengan Leni, sepupu saya yang selamat karena melarikan diri setelah menerobos pagar kawat. Dia kemudian pergi ke jalan raya untuk seterusnya bersama rekannya yang lain berlindung di kantor polisi.

Suami saya bercerita karena masih trauma pada kejadian malam itu, tidak ada mahasiswa yang berani ke jalan raya untuk mencari angkutan umum atau untuk mencari taksi. Akhirnya ia turun dari mobil dan memutuskan untuk berjalan cepat bersama dengan yang masih punya keberanian untuk kemudian mencari taksi dan berangkat menuju ke Komdak. Yang lainnya lebih memilih berdesakan di dalam mobil. Waktu ia keluar dari mobil, ada sebagian mahasiswa yang nasih punya keberanian berjalan dengan suami saya Sedangkan yang lainnya memilih untuk berdesak-desakan padahal sebenarnya jalan yang ditempuh tidak terlalu jauh. maklum, tampaknya perasaan trauma masih menguasai mereka.

Mahasiswa yang berjumpa dengan suami saya bahagia mendengar saya berhasil selamat dari api yang menghanguskan kampus bersama anak kami theo. Sesuatu yang mustahil nampaknya, karena itu mahasiswa yang selamat seakan tidakj percaya bagaimana mungkin saya dengan menggendong seorang anak yang masih bayi dapat menyelamatkan diri, sedangkan mereka sendiri tidak sedikit yang terluka ketika harus menyelamatkan diri, itulah keajaiban Tuhan.

Pada siang hari saya menelepon suami yang sedang berada di Komdak untuk mengumpulkan mahasiswa yang tercerai berai, darinya saya tahu ternyata Andre adik saya telah ditemukan, karena semua mahasiswa yang selamat sudah diperintahkan untuk berkumpul di Komdak. Dan dugaan saya benar, sebab tidak lama kemudian, Andre muncul di Komdak.

Andre mengisahkan, ketika aksi penyerangan mulai, ia sedang tidur di kamar di lantai dua. Saat mendengar suara ribut-ribut di asrama, ia terbangun. Dia menduga ada satpam yang berkelahi, karena malam itu satpam sedang menjalani latihan. Ketika dia turun dia melihat orang banyak menyerang kampus kami, dan satpam yang banyak itu tak mampu menahan. Para satpam pun berlari kocar-kacir menyelamatkan diri. Saat itu dia juga melihat massa sudah mendekati rumah kami. Berhubung dia sudah berada di luar rumah, secara refleks dia berlari menjauh dari rumah, masuk ke rawa-rawa untuk kemudian menyelamatkan diri dengan bersembunyi di rumah kos. Dia melarikan diri melalui rawa-rawa bersama para satpam. Saat itu dia tidak sempat memberitahu adanya bahaya mendadak itu pada kakaknya (saya). “Andre berhasil menyelamatkan diri, namun tidak berani mendekati kampus karena di mana-mana ada orang yang siap menyerang siapapun yang duijumpai di kampus, jumlahnya sangat banyak, dan umumnya mengenakan pakaian khas menandakan mereka sebagai penganut agama tertentu. Sambil meneriakkan pujian atas kebesaran Tuhan, mereka menyerang kami,” demikian kisah Andre.

Dari Komdak suami saya pergi ke Gedung MPR/DPR Senayan, saya mendengar di sana sudah digelar demonstrasi besar-besaran mengutuk aksi penyerangan yang memang tidak berperi kemanusiaan itu. Hampir semua lembaga Kristen turut ambil bagian dalam aksi demo itu. Berhubung banyak mahasiswa yang ingin bergabung dengan para pendemo itu, suami saya mengatakan agar pergi ke sana sebagian-sebagian, karena  dilarang pergi secara bersama.

 “Memang ada banyak keanehan dalam tubuh bangsa ini. Tindakan anarkis  dengan “legitimasi” agama sangat sulit diselesaikan. Buktinya, sudah terlalu banyak gereja yang dihancurkan. Bahkan bukan rahasia umum lagi jika Indonesia telah “meraih juara pertama” dalam hal pembakaran gedung gereja. Kami bukan cengeng menghadapi penderitaan tersebut, tetapi kami tahu bahwa kewajiban negara, khususnya pemerintah untuk melindungi setiap warga negara. Karena itu, jika kami datang ke DPR, sebenarnya kami ingin memberitahukan bahwa peristiwa yang menimpa kami adalah kesalahan pemerintah. Dan pemerintah wajib bertanggung jawab untuk semua yang telah terjadi.”

Setelah demonstrasi selesai, kemudian  suami saya tidak kembali ke Bekasi , Rumah kakak tempat dimana kami tinggal untuk sementara waktu, waktu itu memang sangat menguatirkan saya, apalagi setelah saya mendengar bahwa suami saya bersama dengan mahasiswa yang masih memiliki keberania kembali ke kampus untuk menjaga kampus, saya merasa amat kesal karena kuatir. Wajar jika perasaan kesal ada dalam hati saya. Suami saya memang nekat, tempat yang baru saja satu malam terjadi kerusuhan yang amat mengerikan, ia datangi bahkan itu dilakukan untuk menjaga kampus, karena takut di segel oleh aparat dan mengakibatkan kami tidak lagi dapat menggunakannya.tapi saya tetap berharap Tuhan menyertai dia, memang tidak mudah bagi kami sebagai penanggung jawab/pimpinan asrama, saya mengerti walaupun saya cemas dengan keberadaan suami saya , tetapi itu dilakukan karena tanggung jawabnya. Untuk saya juga tidak mudah harus berusaha menenangkan diri untuk tetap tegar dalam menghadapi peristiwa yang baru saja terjadi dan hampir merenggut nyawa saya dan anak saya. Tetapi itu adalah resiko jabatan yang harus kami tanggung.

Besok paginya tanggal 17 Desember, saya baru dapat melihat lokasi dengan baik. Rumah dinas kami sudah berantakan. Pecahan kaca berserakan. Tapi rumah kami tidak terbakar karena berdekatan dengan rumah penduduk. Penyerang mungkin berpikir, jika rumah kami, dibakar, rumah-rumah penduduk juga akan terbakar. Rumah kami dilindungi oleh rumah penduduk. Barang-barang berharga kami hancur dan hilang.

Asrama mahasiswa sudah rata dengan tanah, demikian juga rumah doa, serta panti rehabilitasi korban narkoba.  Suami Saya mulai mendata mahasiswa dengan menghubungi ketua-ketua kamar dan ketua-ketua kelas. Pendataan harus saya lakukan dengan teliti karena  media cetak dan televisi melaporkan banyak mahasiswa yang hilang. Memang tidak mudah mendata, karena sebagian mahasiswa sedang libur. Meski demikian, akhirnya dengan susah payah ia berhasil mendata. Ternyata, memang ada mahasiswa yang sempat diculik penyerang, namun semuanya dapat ditemukan kembali dengan selamat.

Salah seorang mahasiswi yang sempat dibawa penyerang dengan mobil menceritakan, dia diinterogasi oleh penculiknya. Namun ia menyembunyikan identitasnya karena takut diperkosa. Setelah yakin bahwa korbannya “bukan Kristen”, penculik menurunkannya di Cawang, Jakarta Timur. Atas kejadian ini dia minta maaf. “ saat diinterogasi, saya terpaksa mengaku bukan orang Kristen, karena saya takut sekali,” ulangnya mengingat peristiwa yang mencekam itu. Saya mengerti dengan alasannya itu. Memang kondisi saat itu pasti sangat sulit baginya. Jika dia berterus terang, kemungkinan dia akan  mengalami pelecehan.
tidak ada seorang pun mahasiswa yang hilang, seperti yang diinformasikan oleh televisi, banyak mahasiswa yang luka

Korban yang meninggal dalam kerusuhan tersebut berjumlah satu orang yaitu Sariman. Berdasarkan kesaksian teman-temanya, sebenarnya Sariman sudah keluar dari lokasi asrama dan selamat. Namun, karena ia ingat ada teman yang harus ia selamatkan, ia kembali masuk ke dalam kampus dan akhirnya tertangkap. Ada mahasiwa yang melihat dia tertangkap, namun tak kuasa menolong. Selanjutnya, ia dibacok oleh penyerang. Paginya, mayatnya ditemukan dalam keadaan usus terburai. Sadis dan biadab pelakunya!

Ada beberapa mahasiswa yang selamat karena nekat masuk ke dalam parit-parit, lalu pura-pura mati. Bahkan ketika badan mereka diinjak oleh penyerang, mereka tetap tak bergerak sampai akhirnya polisi datang menyelamatkan mereka. Salah seorang mahasiswa bernama Dominggus Kenjam asal Soe NTT, dibacok lehernya kemudian dibuang ke parit. Penyerang menyangka dia sudah mati. Paginya, polisi menemukan dia dan dibawa ke rumah sakit. Yang selamat kebanyakan melarikan diri melalui pagar kawat di belakang asrama yang dekat dengan rumah penduduk.

 Para korban luka, awalnya dibawa ke Rumah Sakit (RS) Asrama Haji Pondokgede, Jakarta Timur. Namun guna memudahkan koordinasi, semuanya dipindahkan ke RS Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta Timur.Saya tidak habis pikir, bagaimana penyerang itu demikian tega melukai para wanita pada bagian kepala memukul mereka dengan benda keras.

Korban paling parah adalah Dominggus Kenjam, karena lehernya hampir putus. Banyak orang yang mengunjunginya. Kondisinya sempat mengkhawatirkan. kami meminta dia dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih baik supaya penanganannya lebih intensif. Di samping itu dia perlu dihindarkan dari orang-orang banyak supaya bisa beristirahat dengan tenang dan baik. Banyak orang yang simpati dan memberi bantuan berupa makanan, pakain dan sebagainya. Memang, banyak mahasiswa yang tidak membawa pakaian saat melarikan diri dari kampus. Lagi pula, dapat dipastikan seluruh harta benda mereka telah musnah dimakan api.

 Di kampus saya juga bertemu dengan Zakaria yang terluka pada bagian kepala. Dia bercerita bagaimana ia digiring ke tengah lapang bersama dengan keluarga dan beberapa mahasiswi yang sempat bersembunyi di rumahnya. Ia telah memohon supaya para wanita itu tidak disakiti, tetapi penyerang itu tetap memukuli mereka dengan benda-benda keras. Ia sendiri bahkan sempat terkena sabetan parang, untung tidak sampai kena bagian tubuh yang fatal.

Bantuan materi dari simpatisan sangat saya syukuri namaun tetap tidak terlalu menghibur saya, jika teringat korban luka dan tewas. Bukannya saya kurang menghormati pemberian itu, tetapi kesedihan itu begitu mendalam.  Ucapan simpati terus berdatangan. Barang-barang sumbangan  sangat banyak sehingga harus dititipkan di gereja dekat kampus karena tidak ada ruangan lagi yang dapat dipakai untuk menyimpan.

Karena saya masih belum mampu kembali tinggal di rumah kami yang berada di dalam kampus, untuk sementara kami tinggal di rumah kakak. Barang-barang yang masih dapat diselamtkan saya titip di rumah keluarga yang lain. Tidak mudah menunggu hari-hari dimana kami harus mencari tempat tinggal baru, apalagi ditengah kesibukan untuk mengatur perbaikan kampus. Memang ada banyak teman- yang menwarkan untuk tinggal satu dua bulan di rumah mereka yang kosong, namun saya tidak ingin berpindah-pindah karena sangat merepotkan. Ada juga yang menawarkan rumah untuk kami tinggal, tetapi karena lokasi jauh dari kampus, kami juga menolaknya, dan saya lebih memilih untuk tinggal sementara di rumah kakak, baru kemudian mencari tempat baru.

Kejadian di kampus kami menimbulkan simpati banyak orang, bahkan kami mendengar ada keluarga di NTT yang hamper-hampir tidak mampu menahan diri ingin melakukan pembalasan dengan cara melakukan pembumi hangusan tempat ibadah orang-orang yang menyerang kami, syukurlah hal itu tidak terjadi karena ada banyak keluarga yang menahan, kami juga tidak ingin melakukan pembalasan dendam, walaupun saya mendengar masyarakat disekitar sangat kuatir dengan adanya isu pembalasan dendam yang akan terjadi. Tetapi hal itu tak pernah terpikirkan.

Di UKI juga dibuat pertemuan lembaga Kristen se Jakarta untuk memberikan respon terhadap apa yang terjadi di kampus kami, pendeknya peristiwa yang terjadi menjadi peristiwa yang amat mengusik kehidupan kerukunan antar umat beragama. Bahkan peristiwa tersebut telah mencoreng nama Indonesia yang memang sedang bertada dalam konflik yang belum juga selesai seperti konflik Ambon misalnya..

Pertemuan lembaga Kristen di Uki yang dihadiri oleh suami saya mengatakan bahwa tidak adanya orang yang tertangkap dalam kerusuhan besar tersebut, merupakan kesalahan lembaga-lembaga Kristen yang tidak berusaha melatih orang untuk menangkap pelaku perusuh satu atau dua orang sebagai bukti. Atau paling tidak mampu mengabadikan kejadian tersebut secara diam-diam sehingga dengan demikian pelakunya dapat ditangkap. Kejadian seperti ini bukan yang pertama di negeri ini. Sudah terlalu banyak tempat ibadah umat Kristen yang dihancurkan, namun tidak ada seorang pun pelaku yang tertangkap. Padahal dalam kerusuhan tersebut tidak jarang ada manusia yang tewas.

Saya berpikir jaangankan menangkap orang yang melakukan kerusuhan, mengabadikannyapun kami tak pernah berpikir, apalagi begitu lambannya aparat kepolisian dalam penanganan kasus tersebut membuat tak seorang pun yang tertangkap. Aneh memang, padahal tempat kami menjadi daerah yang berada dalam pengawasan pihak kepolisian, kampus STTG hanya beberapa ratus meter dari Markas Besar TNI, persis diujun gang jalan masuk STTG terdapat gedung Pusat Teritorial (Puster) TNI, tetapi ternyata, kerusuhan yang dilakukan oleh begitu banyak orang, sama sekali tak terdeteksi oleh aparat kemanan. Suatu negeri yang penuh dengan misteri.

Tragedi ini memang amat menyakitkan, merenggut nyawa seorang mahasiswa, belasan lainnya mengalami luka-luka, diantara mereka ada yang mengalami luka berat, leher hampir putus, luka di perut akibat tusukan linggis, luka terkena sabetan senjata tajam dll. Tapi, saya tetap yakin kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan, saya tetap rindukan damai meski hati ini terluka.

Kesaksian Mariana K, S.Th.







https://www.youtube.com/channel/UC3CMOaIY3a-cDwEwi5VmzkA