facebook-domain-verification=e9qbhu2sij9ezrnqbgiw8k4f00x69y BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Etika seksual dari tes HIV

Etika seksual dari tes HIV

 



Etika seksual dari tes HIV dan hak-hak dan tanggungjawab dari pasangan

 

Penulis: Ruth Dixon-Mueller

 

Wacana dari kebanyakan komunitas AIDS internasional mendukung hak-hak individu di negara-negara berpenghasilan rendah untuk "berkata tidak" terhadap tes HIV rutin di pelayanan-pelayanan kesehatan. Jika dites dan diketahui positif, mereka berhak untuk tidak memberitahukan pasangan seksualnya apabila pengungkapan (disclosure) status HIV dapat mengakibatkan dampak buruk yang serius terhadap dirinya. Studi ini berargumen bahwa hak individu untuk menolak testing berarti mengabaikan hak pasangan seksualnya - laki-laki atau perempuan, tetap atau casual - akan informasi tentang resiko kesehatan yang mungkin mereka hadapi ketika memasuki atau melanjutkan sebuah relasi seksual atau terlibat dalam tindakan seksual tertentu. Apabila, sebagaimana dideklarasikan oleh PBB, semua orang memiliki hak untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab atas hal-hal yang berkaitan dengan seksualitasnya, -- termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan - maka semua orang mempunyai hak dan tanggungjawab untuk mengetahui serostatus diri sendiri dan pasangannya dan melindungi diri mereka sendiri dan pasangannya dari infeksi menular seksual (IMS). Dukungan dari aktivis AIDS bagi kebijakan tes IMS/HIV rutin, konseling dan pengungkapan serostatus antara kedua pasangan dalam sebuah relasi seksual akan membantu untuk mempromosikan etika hak-hak yang setara dan tanggungjawab bersama bagi perilaku seksual dan akibat-akibatnya.


Pengirim: Irwan Hidayana, ihidayana@hotmail.com

 

Dipublikasikan: Studies in Family Planning , 38 (4): 284-296, 2007


https://www.binsarhutabarat.com/2022/05/etika-seksual-dari-tes-hiv.html


No comments:

Post a Comment