} BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: August 2022

Evaluasi Kritis Kesaksian Bharada E

 







Bharade E adalah salah seorang yang mengaku menjadi pelaku penembak Brigadir J. Pada kesaksiannya di Komnas Ham.  Bharada E menjelaskan bahwa tembakan yang diarahkan pada Brigadir J adalah usaha menyelamatkan dirinya, dan juga upaya menyelamatkan istri Irjen Ferdy Sambo. Mari kita evaluasi rangkaian kesaksian Bharada E itu.

Mendengar teriakan istri irjen Ferdy Sambo, Bharade E yang berada di lantai 2 bergerak menuju tempat kejadian. Bharade E bertemu dengan Brigadir J dan sempat menanyakan tentang kejadian itu. Bharade R menceritakan bahwa Brigadir J melepaskan tembakan kearahnya, namun tidak mengenai tubuh Bharade R. Selanjutnya dijelaskan bahwa Bharade mengambil senjata dan mengarahkan senjatanya ke Bharade E. Bharada E pun tersungkur. Saat Brigadir J tersungkur, Bharade E menghabisi Brigadir J untuk melindungi dirinya dan istri Ferdy Sambo. 

Apakah benar Bharade E menghabisi Brigadir J karena takut serangan balik Brigadir J? Tapi kenapa setelah peristiwa itu Bharade  E meminta perlindungan LPSK? Apakah ada orang lain yang siap menghabisi Bharade E jika bharade E tidak menghabisi Brigadir J? kemudian apakah benar trauma Istri Irjen Ferdy Sambo adalah karena akibat pelecehan seksual dan ancaman Brigadir J? Apakah layak Brigadir J dibunuh karena membahayakan Bharada E, sedang di rumah itu ada banyak pengawal Ferdy Sambo?

Apakah cerita yang disampaikan Bharade E itu benar adanya? Kita perlu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk mengevaluasinya. 

Tindakan Bharade E yang menghabisi Brigadir J saat tersungkur menerima tembakannya perlu dipertanyakan, apakah memang Bharade E takut serangan balik Brigadir J atau, takut terhadap sekeompok orang yang ada di ditempat kejadian. Apalagi Brigadir J dan Bharada E sama-sama dari kesatuan Brimob. Hak lain yang perlu dipertanyakan, mengapa Bharade E meminta perlindungan dari lembaga perlindungan saksi, siapakah yang ditakuti Bharade E akan menghabisinya?

Apakah rusaknya CCTV pada tempat kejadian memang disengaja sejak lama, atau ada rencana menjadikan tempat itu sebagai tempat pembunuhan terhadap Brigadir j? Tingkat pelecehan seksual macam apa yang berani dilakukan seorang ajudan pada rumah dinas atasannya yang memiliki sejumlah pengawal, dan terjadi hanya dalam hitungan menit?

Jika memang kejadian itu merupakan kasus yang tidak melibatkan rahasia penting, apakah mungkin seorang ajudan layak untuk dibinasakan, bahkan dengan penghilangan jejak melalui hasil otopsi yang menimbulkan kontroversi?

Evaluasi kritis perlu dilakukan, bukan hanya terkait mengumpulkan bukti CCTV, apalagi bukti CCTV ditempat kejadian dikatakan rusak. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap keterangan saksi. 

Seluruh saksi harusnya segera dimintai keterangan jika memang pengungkapan kasus ini ingin dilaksanakan secara transparan, dan masyarakat tidak berspekulasi menganalisi data yang belum lengkap, dan belum diutarakan secara utuh oleh penyidik kepada publik.

Mungkin kita perlu mendengar kesaksian jasad Yoshua Hutabarat, dan itu berarti pengawasan terhadap otopsi ulang menjadi hal yang sangat penting, dan perlu di buka ke publik.

Biarlah keadilan berkuasa di negeri ini, dan Tuhan yang berdaulat itu tidak diam. Kiranya nurani mereka yang menjadi tim khusus bentukan Kapori dapat mengangkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang kian merosot.


Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2022/08/evaluasi-kritis-kesaksian-bharada-e.html

Kontroversi kematian Brigadir Yoshua

 





Menemukan siapa pembunuh Brigadir Yoshua bukanlah mustahil meski beragam upaya disebarkan untuk menutupi penyingkapan data sesungguhnya.

Kita tentu setuju merangkai fakta/data-data ditempat kejadian, baik berupa dokumen audio, audio visual, dokumen tertulis serta keterangan saksi memerlukan keahlian khusus, ketekunan, dan utamanya kejujuran, apalagi ada indikasi penyembunyian fakta.

Bagaimanakah merangkai fakta/data-data yang dapat dikumpulkan terkait terbunuhnya Brigadir Yoshua?

Jika melihat peristiwa terbunuhnya Brigadir Yoshua, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian Kasus, ini adalah jenis penelitian Kualitatif. Sebuah penelitian yang ingin menguak lebih dalam sebuah kasus atau peristiwa.

Jika kita ingin menguak kasus pembunuhan brigadir Yoshua, sebenarnya mudah melalui CCTV dan juga Hp para saksi. Repotnya, CCTV ditempat kejadian rusak menurut laporan, benar atau tidaknya hal itu tentu bergantung dari penyelidikan tim khusus bentukan Kapolri. 

Kegunaan CCTV tentunya hanya sebatas rekaman yang didapat. Bisa saja rekaman CCTV mematahkan anggapan yang beredar liar saat ini, tapi tentu saja tidak cukup untuk menentukan siapa pembunuh Brigadir Yoshua yang sama sekali tak terekam CCTV.

Keterangan saksi menjadi pintu penting untuk menyingkap siapa pembunuh Brigadir Yoshua, tetapi pemeriksaan saksi-saksi kunci berjalan sangat lambat, itulah sebabnya kpercayaan masyarakat terhadap Institusi Polri menukik tajam, bahkan survey Youtube RH melaporkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri hanya 10 persen.

Berdasarkan pemeriksaan saksi terbukti, Bharada E mengakui menembak Brigadir Yoshua hingga mati, tapi kenapa hingga kini tidak ada yang menjadi terdakwa?

Ada juga yang mengungkapkan bahwa mengetahui pembunuh Brigadir Yoshua itu mudah, dan tinggal melihat peluru yang menembus tubuh Yoshua, dan itu telah diakui Bharada E. Setelah penetapan terdakwa itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah Brigadir Yoshua disiksa sebelum ditembak mati, atau sebaliknya. Demikian juga kasus pelecehan seksual yang dituduhkan terhadap Brigadir Yoshua, itu bisa terungkap dengan mudah.

Meski usaha menutupi fakta terus dilakukan, setidaknya mayat Brigadir Yoshua bisa berbicara melalui otopsi ulang. jika ada perbedaan jelas otopsi yang pertama yang menimbukan kontroversi dapat terungkap.

Ada banyak cara untuk menemukan data melalui metode triangulasi, baik itu triangulasi metode pengumpulan data, atau triangulasi melalui berbagai sumber data. 

Merangkai data untuk menemukan pembunuh Brigadir Yoshua itu mudah, apalagi tempat kejadian, saksi utama ada, dan bisa dimintai keterangan, serta ada dokumen lain yang kemudian bisa menunjukkan siapa sesungguhnya pembunuh brigadir Yoshua. 

Persoalannya sekarang, apakah tim khusus ini bersedia bekerja serius, transparan, dan mengedepankan nurani, Dengan tersingkapnya pembunuh Brigadi Yoshua kita berharap kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri akan dipulihkan.


Binsar A. Hutabarat


https://www.binsarhutabarat.com/2022/08/kontroversi-kematian-brigadir-yoshua.html

Buka Otopsi Brigadir Joshua ke publik

Buka Otopsi Brigadir Joshua ke publik


Pernyataan Otopsi ulang perlu dibuka ke publik dan tidak menyalahi hukum sebagaimana dinyatakan Mahfud MD mendapat dukungan pengacara Marga Hutabarat yang kini mendampingi ayah Yoshua Hutabarat dalam menuntut keadilan terkait pembunuhan Yohsua Hutabarat.

Dukungan pengacara Marga Hutabarat yang didaulat oleh S. Hutabarat. ketua perkumpulan marga Hutabarat Jabodetabek itu juga dinyatakan dalam bentuk konferensi Pers.

Orang Tua Joshua Hutabarat sebagai bagian dari Marga Hutabarat tentu saja berhak mendapatkan dukungan marga Hutabarat untuk pemenuhan hak-hak mereka, apalagi itu terkait dengan persoalan hak hidup. Seluruh rakyat Indonesia perlu mendukung pengungkapkan kasus pembunuhan Joshua Hutabarat.

Peristwiwa terbunuhnya Joshua Hutabarat mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri kina menukik tajam, berdasarkan survey yang dilakukan oleh salah satu channel youtube, kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri hanya tersisa 10 persen.

Apabila aparat keamanan menjadi institusi yang tak lagi dipercaya masyarakat, siapa lagi yang dapat dipercaya masyarakat indonesia. Penegakkan keadilan, kesejahteraan masyarakat menjadi taruhannya.

Masih mungkinkah Presiden Jokowi menyelesaikan pemerintahannya dengan kepercayaan masyarakat yang tinggi?

Mungkin karena itulah beberapa kali Presiden Jokowi menegaskan agar kasus terbunuhnya Joshua di rumah petinggi Polri itu diselesaikan secara transparant. Kita berharap suara Presiden Jokowidodo masih didengar oleh kapolri dan tim khusus yang memeriksa kasus itu.


Dr. Binsar A. Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2022/08/buka-otopsi-brigadir-joshua-ke-publik.html



Dalang pembunuh Brigadir Joshua?

 



Kasus pembunuhan Brigadir J di rumah dinas petinggi Polri belum juga terungkap, meski kejadian itu telah memasuki minggu ketiga sejak peristiwa itu diberitakan. 

Matinya Brigadir J dilaporkan terjadi pada tanggal 8 Juli 2022, otopsi terhadap Brigadir J telah dilakukan, namun keluarga dan masyarakat meragukan hasilnya, ada indikasi otopsi dilakukan dibawah tekanan.

Pelaku yang menembak Brigadir J, yakni salah seorang saksi utama, Bharada E, sudah diperiksa Komnas Ham, herannya saksi-saksi utama lain seperti Irjen Pol. Ferdy Sambo beserta istri belum juga diminta kesaksiannya, bahkan Komnas Ham hingga kini belum memanggil Ferdy Sambo dan istri meski telah memanggil ajudannya. 

Lucunya perwakilan Komnas Ham meminta metodenya tidak perlu diperdebatkan mengapa belum juga memanggil Irjen Ferdy Sambo dan Istri, padahal metode adalah cara yang tepat untuk menjawab masalah, karena itu metode tersebut layak untuk dipertanyakan.

Proses penanganan terbunuhnya Brigadir J sangat lambat sehingga menimbulkan spekulasi-spekulasi liar. Kepercayaan masyarakat terhadap polisi menukik tajam, salah satu survey mengatakan bahwa Kepercayaan Masyarakat terhadap polisi hanya tersisa 10 persen. Hal yang sama juga terjadi dengan Komnas Ham yang hanya mencapai 9 persen.

Masyarakat Indonesia, pemerhati Ham dunia, saat ini menantikan Kapolri dengan tim bentukannya secara transparan mengungkap, siapa dalang pembunuh Brigadir Joshua?


Dr. Binsar A. Hutabarat


SIAPA PEMBUNUH BRIGADIR JOSHUA HUTBARAT?