Absolutisme Dogma, Perlukah di perdebatkan?

Evaluasi Kritis Kesaksian Bharada E

 







Bharade E adalah salah seorang yang mengaku menjadi pelaku penembak Brigadir J. Pada kesaksiannya di Komnas Ham.  Bharada E menjelaskan bahwa tembakan yang diarahkan pada Brigadir J adalah usaha menyelamatkan dirinya, dan juga upaya menyelamatkan istri Irjen Ferdy Sambo. Mari kita evaluasi rangkaian kesaksian Bharada E itu.

Mendengar teriakan istri irjen Ferdy Sambo, Bharade E yang berada di lantai 2 bergerak menuju tempat kejadian. Bharade E bertemu dengan Brigadir J dan sempat menanyakan tentang kejadian itu. Bharade R menceritakan bahwa Brigadir J melepaskan tembakan kearahnya, namun tidak mengenai tubuh Bharade R. Selanjutnya dijelaskan bahwa Bharade mengambil senjata dan mengarahkan senjatanya ke Bharade E. Bharada E pun tersungkur. Saat Brigadir J tersungkur, Bharade E menghabisi Brigadir J untuk melindungi dirinya dan istri Ferdy Sambo. 

Apakah benar Bharade E menghabisi Brigadir J karena takut serangan balik Brigadir J? Tapi kenapa setelah peristiwa itu Bharade  E meminta perlindungan LPSK? Apakah ada orang lain yang siap menghabisi Bharade E jika bharade E tidak menghabisi Brigadir J? kemudian apakah benar trauma Istri Irjen Ferdy Sambo adalah karena akibat pelecehan seksual dan ancaman Brigadir J? Apakah layak Brigadir J dibunuh karena membahayakan Bharada E, sedang di rumah itu ada banyak pengawal Ferdy Sambo?

Apakah cerita yang disampaikan Bharade E itu benar adanya? Kita perlu menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk mengevaluasinya. 

Tindakan Bharade E yang menghabisi Brigadir J saat tersungkur menerima tembakannya perlu dipertanyakan, apakah memang Bharade E takut serangan balik Brigadir J atau, takut terhadap sekeompok orang yang ada di ditempat kejadian. Apalagi Brigadir J dan Bharada E sama-sama dari kesatuan Brimob. Hak lain yang perlu dipertanyakan, mengapa Bharade E meminta perlindungan dari lembaga perlindungan saksi, siapakah yang ditakuti Bharade E akan menghabisinya?

Apakah rusaknya CCTV pada tempat kejadian memang disengaja sejak lama, atau ada rencana menjadikan tempat itu sebagai tempat pembunuhan terhadap Brigadir j? Tingkat pelecehan seksual macam apa yang berani dilakukan seorang ajudan pada rumah dinas atasannya yang memiliki sejumlah pengawal, dan terjadi hanya dalam hitungan menit?

Jika memang kejadian itu merupakan kasus yang tidak melibatkan rahasia penting, apakah mungkin seorang ajudan layak untuk dibinasakan, bahkan dengan penghilangan jejak melalui hasil otopsi yang menimbulkan kontroversi?

Evaluasi kritis perlu dilakukan, bukan hanya terkait mengumpulkan bukti CCTV, apalagi bukti CCTV ditempat kejadian dikatakan rusak. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap keterangan saksi. 

Seluruh saksi harusnya segera dimintai keterangan jika memang pengungkapan kasus ini ingin dilaksanakan secara transparan, dan masyarakat tidak berspekulasi menganalisi data yang belum lengkap, dan belum diutarakan secara utuh oleh penyidik kepada publik.

Mungkin kita perlu mendengar kesaksian jasad Yoshua Hutabarat, dan itu berarti pengawasan terhadap otopsi ulang menjadi hal yang sangat penting, dan perlu di buka ke publik.

Biarlah keadilan berkuasa di negeri ini, dan Tuhan yang berdaulat itu tidak diam. Kiranya nurani mereka yang menjadi tim khusus bentukan Kapori dapat mengangkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang kian merosot.


Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarhutabarat.com/2022/08/evaluasi-kritis-kesaksian-bharada-e.html

No comments:

Post a Comment