} BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Ada apa dengan kebenaran agama

Ada apa dengan kebenaran agama

 




Ada apa dengan kebenaran agama?

Kebenaran agama memang tidak selalu memiliki pembuktian empiris, tetapi pemeluk agama itu memiliki kepastian jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang percaya pada kebenaran ilmu pengetahuan.


Iman dan pembuktian

Meski kebenaran agama itu diterima melalui iman, dan meskipun iman yang diyakini itu minim pembuktian empiris, mereka yang percaya pada agama itu memiliki kepastian yang kuat. Kita biasa mendengar mereka berkata, yang penting percaya saja!

Tentusa saja saya tak sependapat jika iman itu harus mengorbankan akal budi, karena akal budi itu sendiri berasal dari sang pencipta. Saya juga percaya maka tentulah ada pengetahuan dari apa yang di imani itu.

Jika kita mengatakan  kebenaran agama itu tidak masuk akal, maka lebih tidak masuk akal lagi ketika kita memberitakan kebenaran yang tidak masuk akal itu kepada mereka yang memiliki akal, apalagi memaksakan keyakinan itu kepada orang lain. 

 Pernyataan kebenaran agama pada saat tertentu bisa tidak logis dalam arti, tak ada argumentasi sahih yang selaras dengan klaim kebenaran itu yang kita temukan. Tapi, bukan berarti kebenaran agama itu salah.

Apa yang belum kita temukan itu, tidak berarti tidak ada, hanya saja karena keterbatasan, kita  tidak mampu menemukannya pada fase tertentu. Itulah sebanya pernyataan kebenaran menjadi tidak logis, karena memang belum ditemukan rumusan logis dari kebenaran agama itu.

Ketika kita berhasil menemukan data-data logis yang menghubungkan klaim kebenaran itu dengan bukti-bukti yang kita susun sebagai argumentasi, maka pernyataan kebenarab itu memiliki rumusan logis.

Rumusan pernyataan kebenaran agama itu sejatinya masih perlu mengalami ujian, yaitu ujian dari para pemikiran lain. Bisa saja kebenaran agama kemudian dikonfirmasi oleh kebenaran sains.

Usaha merumuskan kebenaran bersama tentu saja membutuhkan kerja sama semua pihak. Itulah sebabnya sebuah kebijakan publik tidak boleh dirumuskan oleh kelompok tertentu. agama-agama yang beragam itu perlu menghadirkan nilai-nilai inklusifnya.

Rumusan kebenaran agama boleh saja mengalami ujian, yaitu ujian dari data yang ditemukan orang lain. Kalau begitu, mengapa kita sulit untuk berbeda, bukankah berbeda tidak identik dengan kompromi?


Dr. Binsar A. Hutabarat


https://www.binsarhutabarat.com/2022/11/ada-apa-dengan-kebenaran-agama.html


No comments:

Post a Comment