Menghindari Perang Dunia ke 3

 Menghindari Perang Dunia ke 3

 



Kekuatiran akan hadirnya perang dunia ketiga yang mengerikan, prediksi beberapa pakar kengeriannya melebih perang dunia pertama dan kedua. Pengembangan senjata nuklir hingga hingga senjata biologi, isu kuman-kuman menjadi senjata sempat menyebar pada awal covid, Terakhir pecahnya konflik Rusia dan Ukraina yang belum juga usai.

Peperangan tampaknya tak pernah usai, meski institusi-institusi perdamaian terus berdiri, baik dalam lingkup lokal, nasional dan internasional. Perang tak pernah berhenti karena keinginan untuk perang tak pernah surut dalam kehidupan manusia.

Perang-perang dalam skala besar, sesungguhnya disebabkan ketidakmampuan manusia berdamai antar individu, individu dan komunitas, dan puncaknya adalah peperangan manusia melawan Tuhan. Buku-buku yang menolak keberadaan Tuhan, atau manusi memproklamirkan diri sebagai Tuhan merupakan bukti manusia terus berperang melawan Allah.

Perang AntarKelas

Manusia hidup Bersama dalam dunia yang sama sejatinya perlu bekerjasama untuk mengusakan hidup terbaik Bersama, tapi nyatanya manusia, individu dengan individu kerap tak mampu bekerjasama, bahkan kemudian menyulut konflik antar individu, antarkomunitas dan antabangsa.

Si kaya dan si miskin terus saja berpeng karena komunitas menciptakan itu. Bukan hal yang langka perlakuan terhadap mereka yang kaya jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang miskin. Kita sering mendengar bahwa hukum du negeri ini lebih berpihak kepada mereka yang punya, dan mereka yang tidak punya kerap tak mendapatkan tempat.

Penggunaan jalan Tol, segala fasilitas wah, Si kaya menikmatinya dengan bebas, Si miskin meratapinya  tak tahu berbuat apa, itu sebabnya Ketika tiket masuk Borobudur ingin dinaikkan menjadi jutaan rupiah, Si miskin langsung saja menjerit, meski alasannya untuk biaya merawat Borobudur yang semakin mahal. Faktanya, Si Miskin kian tak mampu menikmati keindahan Borobudur.

Siapa yang tidak paham bahwa cara mudah membebaskan diri dari kemiskinan adalah melalui pernikahan. Maka Si Kaya pun haram menikah dengan Si Miskin. Perlakuan deskriminasi karena kelas ini juga masuk dalam pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka yang kaya mendapat tempat terhormat, sedang Si Miskin berdiri jauh-jauh di halaman rumah ibadah. Kita berharap ini tidak terjadi di Indonesia.

Pekerja dan Pengusaha

Pemerintah memang telah mewajibkan perusahaan untuk menempatkan dana sosial atau yang biasa disebut Corporate Social Responsibity (CSR), tapi realitasmya tanggung jawab itu kerap dimanipulasi sebagai pengeluaran iklan, sehingga kebijakan CSR tak merubah kebijakan perusahaan. Apalagi Ketika CSR dimaknai sebagai Charity (layaknya dana untuk pengemis) yang tak merubah status sosial masyarakat disekitar perusahaan besar.

Masyarakat Papua meratapi hadirnya perusahaan Internasional yang tak merubah wajah kebanyakan masyarakat Papua yang miskin dan tertinggal dalam bidang pendidikan. Jaringan internet masih jadi persoalan ditengah transformasi digital di berbagai wilayah Indonesia.

Tidak pedulinya perusahaan terhadap tanggung jawab sosial itu akan terlihat pada bagaimana perusahaan membayar gaji pekerjanya. Sepak terjang pengusaha dalam mengusahakan hadirnya kebijakan yang berpihak kepada pengusaha jelas terlihat dari perlawanan serikat pekerja,

Para pengusaha masih banyak yang belum berdamai dengan pekerja, padahal tanpa pekerja itu para pengusaha tidak akan hidup melimpah. Pertarungan antarakelas pekerja dan pengusaha itu terlihat setiap kali pemerintah menetapkan besaran upah. 

Perselingkuhan antar pengusaha dan penguasa membuat kelas pekerja menderita. Peperngan ini tak pernah berhenti hingga saat ini, meski Karl Marx melakukan perlawanan, tetapi di negara-negara Marxist sekalipun tetap saja kelas pekrja menderita. 

Pemerintah sebagai pemilik segalanya tak beda dengan para pengusaha yang berselingkuh dengan pengusaha untuk menekan pekerja. Marxisme menempatkan pemerintah sebagai penguasa yang sekligus juga pengusaha. Itulah sebabnya di negeri-negara Mrxisme masyarakat kebanyakan hidup miskin.

Kalau saja perang antarkelas itu bisa meredup, mungkin tak perlu hadir institusi-institusi perdamaian, karena individu itu sendiri sesungguhnya cinta akan perdamaian. Perang dunia ke-3 tak menjadi kekuatiran, karena semua kita mencintai perdamaian. Semoga saja!


https://www.binsarhutabarat.com/2022/11/menghindari-perang-dunia-ke-3.html

No comments:

Post a Comment